Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Masyarakat Papua sedang mencari keadilan

Aksi demo rasisme berujung amuk massa dan vandalisme yang terjadi beberapa waktu lalu di Kota Jayapura – Jubi/Engel Wally.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Menyikapi sejumlah kejadian terkini di Papua, Ketua DPR Papua Yunus Wonda pun angkat bicara. Menurutnya saat ini masyarakat Papua sedang mencari keadilan.

Keadilan yang dimaksud adalah yang melakukan pembakaran dan kerusakan diproses hukum, masyarakat yang meninggal dibunuh oleh masyarakat sendiri maupun aparat keamanan baik yang di Jayapura maupun di Deiyai harus prosesnya sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara ini, dan harus transparan.

“Sama halnya di Surabaya, siapa dalang dari aksi rasisme juga diproses, dan itukan ada ormas-ormas juga yang terlibat. Nah, tugas aparat keamanan adalah tangkap semua oknum-oknum ormas yang terlibat dan diproses. Di sana (Surabaya) yang api, di sini (Papua) yang asap. Hanya karena kata dan kalimat rasisme itu yang membuat kesatuan (NKRI) ini jadi rusak,” kata Wonda menjawab pertanyaan Jubi, Kamis (6/9/2019) di Jayapura.

Yunus Wonda pun mendukung pihak aparat keamanan yakni Polda Papua untuk melacak siapa dalang dari aksi demo berujung amuk massa tersebut.

Loading...
;

“Yang paling banyak melakukan pengerusakan itu datangnya dari anak-anak kecil yang ikut dalam aksi demo tersebut. Saya sendiri heran, kenapa anak-anak itu bisa melakukan tindakan yang melawan hukum? Saya berharap kepada orang tua agar dapat mendidik anak-anaknya dengan baik, sehingga tidak merugikan anak tersebut dan juga orangtuanya,” ujarnya.

Disinggung soal pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang mengatakan bahwa dalang dari aksi demo rasisme berujung amuk massa dan vandalisme tersebut adalah pihak ULMWP pimpinan Benny Wenda dan kelompok KNPB, Wonda mengatakan, dirinya belum bisa memastikan apakah kelompok atau orang yang dikatakan Kapolri tersebut adalah benar adanya.

“Pihak aparat mungkin mempunyai metode atau apalah itu yang bisa mengetahui siapa dalang dari semua aksi ini, tapi untuk saya pribadi, saya belum bisa bisa menjustifikasi seseorang karena peristiwa itu,” katanya.

Baginya, demo murni yang menyuarakan aspirasi masyarakat adalah pada tanggal 19 Agustus 2019, sedangkan demo pada tanggal 29 Agustus 2019 dirinya tidak mengetahui siapa dalang dibalik itu.

“Tidak tau aktornya siapa, karena seluruh ketua BEM di Provinsi Papua sedang bersama-sama dengan kami mengunjungi para mahasiswa yang mendapat tindakan rasisme di Surabaya dan Malang,” ujarnya.

Sebelumnya Benny Wenda, Ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menganggap tudingan sebagai provokator dibelakang kerusuhan yang terjadi di Kota Jayapura, Papua pekan lalu sebagai hal yang biasa. Ia sudah tahu Pemerintah Indonesia akan menuduh dirinya seperti itu.

“Itu sudah biasa. Pasti pemerintah Indonesia akan menuduh saya atas setiap kejadian yang berkaitan dengan aspirasi rakyat Papua yang ingin merdeka,” jawab Benny Wenda kepada Jubi, Selasa (3/9/2019) melalui sambungan telepon.

Wenda mengatakan, sebaiknya Pemerintah Indonesia fokus pada upaya penanganan persoalan Papua daripada melempar tuduhan yang tidak bisa dibuktikan secara transparan dan akuntabel.

Ia juga menyinggung tindakan Pemerintah Indonesia pasca aksi demo selama dua pekan terakhir dengan menangkapi aktivis-aktivis pro demokrasi, melarang aksi demonstrasi dan menyebarkan informasi yang tidak benar, informasi palsu dan hoaks sebagai ketidakmampuan pemerintah Indonesia mengatasi persoalan Papua. (*)

Editor : Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top