Masyarakat pulau ini butuh air bersih

Masyarakat pulau ini butuh air bersih

Ilustrasi air kemasan, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Palembang, Jubi – Masyarakat Pulau Salah Nama di Kabupaten Banyuasin, selama puluhan tahun terus menanti kehadiran akses air bersih. Warga pulau tersebut harus menyeberangi Sungai Musi ke Kecamatan Mariana saat membutuhkan air bersih yang diangkut dengan galon.

“Masyarakat memang sudah lama meminta sarana air bersih, tapi kami bingung ingin mengusulkan penyediaan air bersih ini kemana,” ujar tokoh masyarakat Pulau Salah Nama, Syahrul, Minggu, (19/5/2019).

Berita terkait : Masyarakat pulau Doom Sorong konsumsi air laut

Belajar dari pulau Ahe kelola destinasi wisata Papua

Masyarakat Kotim berharap transportasi sungai khusus pelajar

Menurut dia, masyarakat Salah Nama harus membeli air galon seharga Rp 5 ribu, jika dikalikan dengan rata-rata satu keluarga setiap bulan, maka mereka mengeluarkan biya air bersih mencapai Rp 200 ribu per keluarga.

Hal itu sangat memberatkan bagi warga yang bekerja sebagai nelayan kecil dan petani sawah rawa. Selain itu pada momen tertentu seperti lebaran dan pernikahan, kebutuhan air bersih ikut meningkat.

Air yang dibutuhkan warga itu keperluan sehari-hari seperti memasak dan minum, sedangkan keperluan mandi cuci kakus (MCK) biasa warga lakukan di pinggir sungai.

“Tapi, seandainya bisa, ada air bersih untuk MCK juga, karena mandi di pinggir sungai sangat berbahaya bagi anak-anak, sudah beberapa kali ada anak yang meninggal akibat tenggelam saat mandi,”kata Syahrul menjelaskan.

Tercatatpulau Salah Nama telah dihuni pertama kali pada 1960-an. Selain air bersih, warga di pulau itu juga kesulitan akses transportasi, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur lain, termasuk rumah yang rata-rata dibangun semi permanen serta berbentuk panggung.

Kondisi itu menyulitkan  anak-anak jika sekolah, meski dulu masyarakat pernah menerima bantuan pemerintah berupa kapal penyeberangan, namun pemerintah hanya membiayai untuk tiga bulan pertama.

“Ujungnya saya harus menanggung beban biaya operasional kapal itu, sekarang kapalnya stop, anak-anak sekolah pakai kapal kecil saat menyeberangi sungai,”  kata Syahrul menjelaskan.

Pulau Salah Nama atau kerap dikenal sebagai Pulau Banjar luasnya sekitar 170 hektare, dihuni oleh 305 jiwa yang terdiri dari 74 kepala keluarga, mayoritas bermukim di sisi tengah selatan pulau, sisanya tersebar di dua ujung pulau, masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan bertani sawah rawa di belakang pemukiman. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)