HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mata Najwa, mata buta untuk (Nduga) Papua

Masyarakat di Nduga – Jubi/Dok,

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh : Ianub Jr

Jayapura, Jubi – Siapa yang tidak kenal dengan presenter terkemuka di muka bumi Indonesia, Najwa Shihab? “Mata Najwa” nama program talk shownya mulai dikenal publik ketika ia meliput bencana tsunami Aceh tahun 2004.

Jika anda menonton MetroTV saat tsunami Aceh berlangsung dan reda, Najwa selalu tampil di layar TV-nya Surya Paloh—Ketua Umum Partai Nasdem.

Sekarang ini, Najwa Shihab dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Ia berkali-kali menampakkan diri di layar kaca. Najwa Shihab menjadi salah satu idola masyarakat, tidak terbilang usia dan profesi.

Loading...
;

Saya yang dari kampung, tidak mempunyai listrik, memakai TV 90-an, dan mendiami di pegunungan Papua juga ikut meramaikan followers Najwa.

Ia juga termasuk penggemar Criminal Minds, Serial TV asal Amerika yang berfokus  pada investigasi FBI pada korban di TKP sampai akar-akarnya.

Dia tidak hanya mempunyai keterampilan baik sebagai pekerja di dunia jurnalis, tapi juga Najwa Shihab dikenal cerdas dan kritis saat menggali informasi. Riwayat kerjanya sebagai jurnalis sangat teruji karena Najwa Shihab pernah menjadi reporter, anchor, sampai host program.

Saya tahu, Mata Naja dulu tayang di MetroTV dan kini Najwa bermigrasi ke Trans7. Alasannya saya tidak tahu. Sekali lagi, saya ini dari dusun, tidak mengikuti baik kenapa ia pindah haluan.

Lantaran orang Papua dan saya sendiri sibuk dengan bantuan sukarela berupa berdoa kepada Tuhan, makanan dan material bagi orang-orang Nduga yang saat ini hidup jauh dari rumah asalnya. Jadi, tidak ikuti baik alasan Kak Najwa berpindah ke TV lain.

“Nduga” Papua  sedang dalam keadaan ‘darurat manusia’ akhir-akhir ini. Masyarakat Nduga menghindari kontak bersenjata antara TNI/Polri dengan kelompok pro-kemerdekaan Papua—TPNB-OPM.

Menurut media asing yang memiliki cabang di Indonesia, BBC Indonesia, anak-anak yang lahir selama konflik di Nduga, diberi nama oleh orang tuanya sesuai dengan keadaan pengungsi. Contohnya adalah nama anak seorang ibu bernama Jubiana Kogeya.

Dalam berita BBC yang berjudul “Pengungsi Nduga,  perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak di tengah konflik senjata”, Jubiana mengaku karena melahirkan dalam hutan, dalam pengungsian, anaknya diğeri nama Pengungsi. 

Lanjutnya, bayi laki-lakinya itu menangis di pangkuannya. Napasnya berat, sementara badannya demam tanpa ditutupi sehelai kain pun.

Baca selengkapnya…. 

 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top