HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Media diharapkan ikut menanggulangi HIV/AIDS dari hulu

Pemaparan materi dari Indonesia AIDS Coalition (IAC) pada Pelatihan Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA – Jubi/Agus Pabika

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sejumlah wartawan, aktivis LSM, dan komunitas yang peduli kepada kasus HIV/AIDS di Kota Jayapura bertemu dalam acara yang digelar Indonesia Aids Coalition (IAC). Dibutuhkan dukungan media dalam penanganan HIV/AIDS.

INDONESIA Aids Coalition (IAC) mengadakan pelatihan Pemberitaan Media yang Positif bagi ODHA selama tiga hari, 15-17 Juli 2019. Selain diikuti wartawan sejumlah media, juga perwakilan komunitas dan LSM peduli AIDS di Kota Jayapura.

Law and Human Rights Officer IAC, Akbar Prayuda, mengatakan pelatihan bertujuan untuk membangun hubungan yang baik antara pegiat HIV/AIDS dengan jurnalis terutama dalam pemberitaan.

“Kami harap dengan pelatihan, baik media cetak mapun elektonik dan online bisa memberikan pemberitaan yang positif terkait isu HIV/AIDS sehingga tidak ada stigma ataupun diskriminasi di masyarakat,” katanya.

Loading...
;

Pelatihan serupa diadakan IAC di 23 kabupaten/kota di Indonesia, termasuk di Jayapura. Pelatihan bertujuan agar media ikut ambil bagian dalam advokasi bersama dengan pegiat atau komunitas soal HIV/AIDS.

“Dari pelatihan ini diharapkan wartawan dapat meliput soal HIV lebih mendalam, terutama berita-berita yang inspiratif oleh para ODHA maupun relawan atau komunitas agar mengubah pola pikir masyarakat dari stigma-stigma negatif selama ini,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam penyampaikan berita diperlukan pentingnya informasi yang objektif  dan faktual tentang HIV/AIDS agar terus disampaikan kepada masyarakat luas. Media juga berperan untuk menekan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.

“Media juga diharapkan menyampaikan informasi terkait pencegahan terutama dari hulu, pencegahan HIV bisa dilakukan dengan mengurangi perilaku beresiko terinveksi HIV, serta memberikan perspektif positif isu HIV dalam pemberitaan,” katanya.

Agar tidak menstigma para ODHA, media diharapkan mengangkat kisah inspiratif dari pada ODHA yang positif dalam hidupnya.

“Sehingga ada empati dari masyarakat luas untuk menerima mereka,” ujarnya.

ARV Comunity Suport (ACS), Geradus Ete, menambahkan IAC membuat pelatihan guna mempertemukan antara komunitas peduli AIDS dengan wartawan agar ke depan mereka bisa menyamakan persepsi untuk memerangi dan memberikan informasi terkait HIV lewat pemberitaan kepada masyarakat umum agar tidak muncul stigma-stigma yang menyudutkan salah satu pihak.

“Stigma pada ODHA masih terasa hingga sekarang, sehingga pemahaman masyarakat soal HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan melalui media karena media diyakini memiliki peran strategis dalam membantu pengendalian epidemi HIV/IADS sesuai fungsinya,” katanya.

Reynelda Beatrix Ibo, wartawan Tvpapua.com, dalam pelatihan tersebut mengatakan dalam pemberitaan soal ODHA wartawan kesulitan dalam akses informasi dan data statistik soal kasus HIV/AIDS di Papua.

“Yang menjadi kendala media selama ini dalam memberitakan atau mengkampanyekan bahaya HIV/AIDS karena akses jurnalis  pada ODHA tidak ada, sehingga media tidak bisa mengangkat mereka dalam pemberitaan, terutama mengadvokasi mereka,” katanya.

Selain akses informasi yang terbatas, katanya, akses kepada para ODHA tidak ada, ditambah lagi tidak ada ruang untuk mengekspos para ODHA, itulah hambatan yang dialami media.

“Kami harap dengan pelatihan ini para komunitas dan LSM dapat membuka diri dalam hal akses informasi terhadap para ODHA yang mereka bina sehingga pemberitaan yang kami angkat tidak hanya bersifat seremonial, namun ada features atau kisah-kisah inspiratif dari pada ODHA,” kata Bebo.

Tidak hanya sebatas itu, lanjut Bebo, kampanye dan advokasi akan terus dilakukan oleh media selama akses terhadap ODHA berjalan baik.

“Sehingga kami bisa membuat cerita menarik tentang mereka, keseharian mereka melalui tulisan maupun video bahwa para ODHA juga punya hak yang sama menyampaikan suara-suara dan bisa diterima oleh masyarakat luas akan kehadiran mereka,” katanya.

Antonius Loy dari Papuasatu.com berharap kendala akses informasi dapat dibuka terhadap media agar media juga bisa menjadi mitra untuk bisa memberitakan sisi lain atau sisi positif ODHA.

“Kebanyakan masyarakat kita melihat ODHA sebelah mata dengan stigma-stigma yang negatif sehingga dengan ini kita bisa membantu para komunitas atau LSM yang mendampingi ODHA dengan cara-cara kreatif dan inovatif agar dapat dimanfaatkan oleh mereka,” katanya.

Pemahaman masyarakat terhadap ODHA, katanya, selalu negatif. Karena itu, katanya, media bisa membantu dengan mengangkat sisi lain yang positif, misalnya kisah pendampingan, perhatian dan dukungan dari komunitas dan LSM terhadap ODH.

“Terutama kisah dari keluarga untuk selalu mendukung para ODHA dengan memberikan pelayanan kesehatan yang baik sehari-hari,” ujarnya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)