HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Membangun untuk menyambut paroki baru

Pemberkatan aula baru Gereja Santo Antonius, Kelurahan Bumiwonorejo – Jubi /Titus Ruban

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Rencana pembentukan paroki baru telah lama bergaung. Itu menjadi salah satu amanah mendiang Uskup John Philip Saklil.

RATUSAN umat Katolik menghadiri peresmian aula, sekaligus peletakan batu pertama pembangunan kembali Gereja Santo Antonius di Kelurahan Bumiwonorejo, Nabire. Wajah-wajah sumringah pun terpancar saat menyambut kedatangan rombongan Administrator Imam Diosesan Pastor Marten Ekowaiby Kuayo Pr, yang memimpin dua kegiatan tersebut.

Umat larut dalam kebahagian saat mengikuti peresmian, pergelaran misa hingga ramah-tamah di pengujung acara. Ramah tamah umat bersama para tetamu istimewa itu diawali dengan Eba Mukai untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan gereja.

Eba mukai merupakan tradisi di Suku Mee dalam menyelesaikan permasalahan bersama dan penggalangan dana. Setiap warga yang hadir menyumbangkan uang secara sukarela. Donasi itu dimasukkan ke sebuah tikar yang diletakkan di tengah-tengah para hadirin. Eba mukai dikenal pula sebagai gelar tikar.

Loading...
;

“Membangun umat itu tidak dengan (terbatas) waktu, dan juga tidak segampang membalikkan telapak tangan. Membangun umat harus dengan iman dan kasih kepada Allah serta sesama,” pesan Pastor Kuayo dalam homili peresmian, Jumat (6/9/2019).

Gereja Santo Antonius terbakar sekitar dua tahun lalu. Sejak saat itu, umat memanfaatkan halaman Taman Kanak-Kanak Santo Antonius untuk beribadah minggu. Berkat sumbangan umat, pihak Gereja kemudian membangun aula seluas 15×20 meter. Aula tersebut selanjutnya bakal digunakan sebagai tempat beribadah, sembari menunggu gereja rampung dibangun.

Menjadi paroki

Peletakan batu pertama pembangunan Gereja Santo Antonius – Jubi /Titus Ruban

Gereja Santo Antonius berada dalam lingkup wilayah Kuasi Santo Antonius. Kuasi tersebut berada dalam naungan layanan Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Keuskupan Timika.

Kuasi Santo Antonius kini tengah dipersiapkan untuk naik satu tingkat sehingga menjadi paroki. Penaikan status itu menjadi tantangan tersendiri bagi umat setempat dalam meningkatkan keimanan serta mengembangkan pelayanan dan misi Gereja.

“Pembangunan aula dan peletakan batu pertama pembangunan gereja menjadi salah satu bukti keimanan umat. Bukan hanya bangunan gedungnya yang megah melainkan iman dan persekutuannya juga harus bagus,” kata Pastor Kuayo.

Pastor Paroki KSK Nabire Yohanes Agus Setiyono SJ mengatakan Umat Katolik terlampau banyak di Paroki KSK. Karena itu, rencana pembentukan Paroki Santo Antonius dapat meringankan tugas pelayanan mereka.

“Paroki Santo Antonius bisa melayani (umat) sampai ke kampung-kampung. Jadi, (pelayanan) KSK hanya terpusat di perkotaan, sekaligus mengembangkan Katolik Centre sebagai pusat pendidikan, budaya, keimanan, dan seminari,” jelas pastor yang juga Dewan Kuasi Santo Antonius tersebut.

Iman dan budaya, lanjutnya berkaitan erat. Iman bertumbuh dari sebuah tradisi yang menjadi ciri khas dan budaya dalam liturgi di Gereja Katolik.

“Budaya adalah sisi kemanusiaan yang dihidupi dalam bahasa, busana, tarian maupun lagu. Jadi, iman dan budaya akan (selalu) bersamaan. Kalau hanya sebatas pemahaman terhadap kitab suci dan tidak dirayakan dalam liturgi, iman tidak mendarat pada (menyentuh) sisi kemanusiaan,” jelas Romo Agus.

Melanjutkan amanah

Rencana penaikan status Kuasi Santo Antonius menjadi paroki telah lama tercetus. Mendiang John Philip Saklil pernah menjanjikan itu semasa menjabat sebagai Uskup Timika.

“Almarhum Bapak Uskup Saklil berjanji menaikan status (Kuasi Santo Antonius) menjadi Paroki. Sayang, janji uskup untuk meresmikan bangunan (gereja) dan kuasi ini tidak terwujud karena beliau wafat, ” kenang Ketua Dewan Kuasi Santo Antonius Petrus Tekege.

Tekege melanjutkan umat bersedih dan terus menginginkan gereja dibangun kembali setelah terbakar pada 25 Desember 2017. Harapan itu kini perlahan terwujud dengan peresmian aula dan peletakan batu pertama pembanguna kembali Gereja Santo Antonius.

“Ini tidak terlepas dari semangat umat, dan bantuan Pak Hosea Petege. Kalau hanya mengandalkan (kemampuan) umat, belum tentu bangunan (aula gereja) ini jadi dalam waktu singkat,” ujarnya.

Hosea Petege mengaku tergerak menyokong sebagian besar dana pembangunan aula senilai Rp2 miliar itu karena mayoritas umat Gereja Santo Antonius adalah petani.

“Kebetulan ada berkat (rezeki), jadi saya bantu. Sejak pelepasan tanah hingga (peresmian) saat ini, saya selalu hadir.  Kasihan kalau sampai umat ditelantarkan padahal saya ada berkat (mampu membantu),” kata Petege. (*)

Editor: Aries Munandar

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top