Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Menanti komitmen Pemerintah dan Kepolisian bagi para korban

Salah satu keluarga korban, Alm Everth Mofu saat memegang bingkai foto almarhum. – Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Tidak hanya harta benda hancur terbakar, nyawapun menjadi tumbal tanpa memandang ras dan golongan, pascademo damai yang berujung menjadi anarkis di Jayapura, pada Kamis, 29 September 2019, lalu. Semua orang Papua: asli maupun pendatang.

Selang beberapa hari, Jubi berkesempatan menemui langsung keluarga korban, Ibu Hajah Anisya Niyasah di atas puing-puing bangunan rukonya di pinggir jalan raya Entrop-Hamadi dan rumah duka keluarga almarhum Marselino Samon (15) di Kompleks Batu Putih, Polimak, Jayapura.

“Waktu massa datang baku dorong-dorong, mereka merampas jualan di kios. Rokok, biskuit diambil dulu baru dibakar. Kami keluar lewat pintu belakang (lompat pagar), tapi kami tidak dendam sama massa (massa pendemo),” ujar Hj. Anisya, Rabu (4/9/2019).

Di atas lahannya sepanjang 20 meter, yang tersisa abu dan puing bangunan itu, Hj. Anisya mengaku, di tempat itu sempat berdiri sebuah bangunan panjang dengan empat pintu ruko tempat keluarganya berusaha sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Loading...
;

Bersama suami dan anak-anaknya, Hj. Anisya saat ini menyatakan hanya membutuhkan bantuan langsung berupa dana, baik untuk membangun kembali tempat usahanya yang juga rumah mereka.

“Pemkot (Pemerintah Kota Madya Jayapura) janji (itu) harus jelas dan cepat direalisasikan supaya kami bisa bangun kembali rumah dan kembali beraktivitas seperti biasa supaya perekonomian berjalan terus,” pintanya.

Sebelumnya, pemerintah: Kementerian Sosial RI, Kemen PUPR RI, Gubernur Papua, dan Wali Kota Jayapura telah menyatakan akan memberikan bantuan berupa dana kepada korban-korban pembakaran rumah dan tempat usaha saat saat rusuh pascademonstrasi.

Rasa duka juga masih menyelimuti Daniel Samon dan keluarga dari  Marselino Samon, remaja 15 tahun yang hanya bisa dijemput keluarga dalam peti jenasah yang sudah ditutup mati, Sabtu (31/8/2019). Daniel menceritakan singkat, putra keempatnya itu izin pergi bersama pamannya (adik bungsu Daniel Saman) untuk melihat demonstrasi pada Kamis.

“Saya izinkan, itu kan biasa di sini, anak-anak suka nonton-nonton. Tapi, saya tunggu sampai hari Jumat (keesekoannya), Marselino belum pulang juga jadi saya dan mamanya pergi melapor ke polisi,” ucapnya.

Setelah melapor, keluarganya baru boleh menjemput jenasah anaknya di Rumah Sakit Bhayangkara pada Sabtu dan dikuburkan pada Minggu di TPU Tanah Hitam, Abepura. Daniel mengaku menerima kematian anaknya tesebut, meski tak dibolehkan melihat langsung kondisi anaknya tersebut.

Ia hanya meminta agar pihak polisi dapat menindak tegas semua pelaku baik kekerasan dalam yang menyebabkan kerugian materiil hingga pelaku penghilangan nyawa manusia pada bentrok horizontal pascadeomo tersebut.

“Kalau anak saya ini korban dari situ, dari masa yang timbul, trus ada (polisi) keamanan. Kenapa (polisi) keamanan tidak jamin..dia sempat minta tolong (cerita yang saya dapat) tapi tidak ada jaminan dari keamanan,” ujarnya, dan menimpali, “Pak polisi dong tolong proses secara apa yang dia (pelaku pembunuhan anaknya) buat. Hukum yang setimpal. Hanya itu yang saya minta.”

Sementara itu, Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Kelompok Kerja (Pokja) Agama, Tony Wanggai berharap aparat keamanan  memberikan jaminan keamanan kepada seluruh masyarakat Kota Jayapura baik masyarakat asli Papua maupun masyarakat non Papua.

“Aparat keamanan harus memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat di Papua baik itu masyarakat asli Papua dan juga non Papua, dan juga memberikan jaminan ganti rugi kepada masyarakat yang harta bedanya dirusak hingga dibakar oleh oknum-oknum yang terlibat dalam aksi rasisme yang berujung anarkis pada Kamis (29/8/2019),” kata Tony Wanggai, Minggu (1/9/2019) di Jayapura.

Wanggai juga meminta agar Polda Papua menindak tegas oknum-oknum yang melakukan perusakan dan pembakaran terhadap fasilitas umum dan juga rumah warga di Kota Abepura hingga Kota Jayapura. “Saya juga meminta kepada pemerintah untuk mendata seluruh kerugian dari masyarakat dan segera mengganti rugi sehingga masyarakat bisa kembali menjalankan usahanya,” katanya.

6 korban meninggal

Hingga hari ini, pihak otoritas mengeluarkan pernyataan resmi terdapat 6 korban meninggal dalam rentetan pascademo Kamis lalu, meski identitas korban tidak dipublikasikan. Dari penelusuran Jubi, empat dari enam korban meninggal tersebut adalah pertama, Maikel Kareth (20), mahasiswa semester VII teknik pertambangan Uncen. Kedua, Everth Mofu (35), buruh pelabuhan. Ketiga, Marselino Samon (15) pelajar SMA. Dan, keempat, Irfan yang telah dimakamkan pada Jumat lalu. Sementara dua korban lainnya belum teridentifikasi.

“Waktu demo antirasis itu sebenarnya tidak ada korban (jiwa). Korbannya itu ya bangunan, materi. Tapi pasca(demo)nya itu…sekelompok orang yang menghadang di daerah entrop, depan kantor Camat, juga di pertigaan Hamadi-Argapura, Jumat lalu. Di situlah mulai ada korban. ..Korban (meninggal)nya enam (orang) yang kami sudah tangani dan ada laporannya di kami, belum termasuk yang di luar dan tidak dilaporkan ke kami,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Dok 2 Jayapura, drg. Aloisius Giyai, M.Kes.

Setidaknya, terdapat 60an korban luka lainnya yang mendapat perawatan inap dan rawat jalan di semua rumah sakit di Kota Jayapura, di antaranya RSUD Dok 2 Jayapura, RSUD Abepura, RSU Marthen Indey, RS Angkatan Laut, RS Bhayangkara, RS Provita, dan RS Dian Harapan.

Kepolisian Papua telah menetapkan 28 orang tersangka pengrusakan dan penjarahan. Sementara tiga orang lainnya telah ditangkap atas tuduhan melakukan penghadangan massa demonstrasi dengan membawa senjata tajam.

Namun, belum ada informasi resmi terkait pelaku pembunuhan terhadap enam korban jiwa dan kejelasan terkait proses hukum, hingga saat ini. Masyarakat Papua yang kehilangan materi maupun nyawa, sama-sama menjadi korban pada peristiwa 29-31 Agustus 2019.

Kini, para korban mulai dapat menerima keadaan tersebut. Namun mereka masih menantikan komitmen dari pemerintah dan aparat kepolisian untuk bangkit membangun usahanya, dan menindak tegas pelaku kerusuhan maupun pembunuhan. (*)

Editor: Angela Flassy 

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top