HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mendorong pendidikan seksualitas di sekolah

Baby R. Nasution dari IPPI pusat dan PITCH saat bertemu dengan BKKBN Papua – Jubi/David Sobolim

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI), Inti Muda Indonesia, dan Inti Muda Papua bertemu dengan sejumlah pihak di Provinsi Papua untuk mendorong diadakannya pendidikan seksualitas dan reproduksi di sekolah.

Pendidikan seksualitas dan reproduksi perlu diajarkan sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Demikian pendapat Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI). Menurut organisasi tersebut, pendidikan seksualitas dan reproduksi tersebut perlu dilakukan untuk menjaga anak dari pergaulan bebas dan menjauhi mereka dari penyakit seksual yang menular dan membahayakan.

Penyakit tersebut, menurut IPPI belakangan banyak terjadi di kalangan remaja Indonesia.

Loading...
;

Untuk mendorong pendidikan hak kesehatan seksualitas dan reproduksi, IPPI bekerja sama dengan Youth Muda Indonesia dan Inti Muda Papua melakukan audensi dengan beberapa pihak terkait di Propinsi Papua.

Ketua IPPI, Baby Rivona Nasution, mengatakan organisasinya fokus pada kegiatan meningkatkan kapasitas pengetahuan orang-orang muda yang berhubungan dengan kesehatan seksualitas dan reproduksi.

“Kami mengajak para pihak untuk melakukan advokasi dengan membuat kampanye di media,” katanya, Senin, 20 Mei 2019.

Sejak Senin itu hingga beberapa hari ke depan mereka bertemu dengan masing-masing stakeholder (para pihak) untuk memperkenalkan pengurus Inti Muda Papua agar bisa membangun kerja sama.

“Tujuan utama bagaimana orang muda Papua memahami seksualitas dan menjaga reporoduksi agar mereka terjaga dan melindungi dirinya dari penyakit menular, termasuk HIV,” katanya.

Baby yang juga dari Partnership to Inspire, Transform, dan Connect the HIV Respone (PITCH) menjelaskan ia sudah positif HIV selama 17 tahun namun sampai saat ini masih bisa beraktivitas dan menjadi aktivis perempuan. Ia juga mempromosikan hidup dengan HIV bisa produktif dan anaknya negatif HIV.

“Tujuan utama di Papua adalah menyampaikan kepada orang muda Papua bahwa jika ia positif HIV segera minum ARV, karena bisa hidup produktif,” katanya di Jayapura, Senin, 20 Mei 2019.

Baby mengatakan bahwa ia mendorong agar pendidikan kesehatan seksualitas dan reproduksi bisa masuk ke dalam kurikulum pendidikan, namun saat ini ide tersebut mendapat tantangan. Padahal ia menginginkan pendidikan tersebut disesuaikan dengan tingkat pendidikan.

“Terkait pendidikan seks yang komperensif di sekolah sampai saat ini pemerintah kita masih melihat dari sudut pandang moralitas, padahal untuk mengetahui bahaya seksualitas dan menjaga reproduksi itu sebaiknya sejak usia dini hingga perguruan tinggi sehingga mengerti saat nikah,” ujarnya.

Untuk mencari dukungan dengan gagasan itu, organisasinya menemui dan melakukan audensi dengan Dinas Kesehatan Papua, BKKBN, MRP, KPA, PPAP, Sekda, DPRP, Dispora, Dinas Parwisata, Dinas Pendidikan, tokoh agama, dan tokoh adat di Provinsi Papua.

Dalam laporan PITCH bekerja sama dengan Inti Muda Papua, dari hasil mini studi terkait kesehatan seksualitas dan reproduksi disebutkan bahwa komunitas muda di Papua sangat minim mendapatkan informasi kesehatan seksualitas dan reproduksi.

Karena itu, menurut PITCH,  saat ini mendesak untuk dilakukan pemerintah maupun organisasi masyarakat sipil. Kesenjangan pengetahuan disebabkan oleh tidak adanya hak kesehatan seksualitas dan reproduksi yang komperenshif di kalangan usia remaja di Papua.

Kepala Seksi HIV, AIDS, dan PIMS Dinas Kesehatan Propinsi Papua, dr.  Rindang Pribadi Marahab,a sepakat bahwa pendidikan seksualitas dan kesehatan reproduksi perlu dijadikan mata pelajaran Mulok.

“Tapi di tingkat SMP, karena usia mereka mulai menginjak remaja dan mulai muncul keingintahuan dari semua aspek,” katanya.

Ketua Inti Muda Papua, Martina Yaroseray, berterima kasih kepada IPPI pusat karena setelah mendapatkan materi ia bisa berbagi pengetahuan kepada perempuan muda Papua lainnya.

“Harapan ke depan agar anak-anak mudah Papua bisa mendapatkan informasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi karena selama setahun IPPI pusat sudah melatih Inti Muda Papua untuk membagikan ilmu terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi,” ujarnya.

Koordinator Nasional Inti Muda Indonesia, Sepi Maulana Ardiansyah, mengatakan selain melihat kasus HIV di Papua tinggi, juga melihat tidak ada intervensi yang sangat spesifik untuk orang muda.

“Ini yang menjadikan kami melirik Papua, saya ingin orang muda Papua tak seperti saya,” kata Septi yang terinfeksi HIV sejak usia 19 tahun.

Menurutnya berbagai pengalaman dengan orang muda Papua, terutama mereka yang sudah positif HIV maupun belum sangat diperlukan.

“Perlu ada sekelompok orang yang menyampaikan ini, mengantisipasi dan memberikan motivasi kepada mereka, bahkan memberikan pemahaman agar ODHA tak dipandang sebelah mata,” katanya.

Inti Muda dan Fokus Muda merupakan jaringan nasional yang anggotanya pemuda di bawah 30 tahun. Organisasi ini didirikan pada 2015. Pada 2018 Tunas Muda atau Fokus Muda bersama IPPI melakukan serangkaian kegiatan training of trainer bagi pemuda di Papua. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top