Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Menegakkan keadilan, merawat keberagaman

Ilustrasi, aksi demo ribuan massa yang telah memasuki jantung Kota Jayapura – Jubi/Engel Wally

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Erik Yepmum Bitdana

Bangsa Indonesia dilanda konflik. Suasana kenyamanan semakin tidak terasa, kebutuhan pokok manusia sebagai makhluk sosial semakin jauh, konflik horizontal maupun vertikal semakin memanas. Baru-baru ini kita dikejutkan dengan rasialitas sebagai sebuah fenomena klasik sepanjang masa, yang kini menjadi topik terhangat di seluruh Nusantara, termasuk Papua dan dunia.

Sebagian dari media massa, baik media lokal, maupun media nasional hingga internasional, menjadikan “rasialitas-rasisme” yang dialami orang Papua sebagai berita ter-update.

Rasisme menjadi penyebab utama rusaknya nama baik nusa dan bangsa, derajat (harkat) dan martabat pribadi–kelompok dan ras yang makin terhina, hingga menjadi konsumsi publik.

Loading...
;

Para penegak hukum pun membuka mata, telinga, dan hati terhadap mereka yang sekian lama terpendam dalam kemelaratan. Nyata. Tak terpungkiri, para kaum humanis tak dapat menutup mata hati dan telinga, untuk mendengar tangisan dan derita kaum marjinal gambaran kolonialis.

Dalam suasana mencekam, tanggung jawab pribadi dan harapan akan terciptanya keadilan, kedamaian, kebebasan dan kesejahteraan menjadi semakin sulit tercipta. Banyak dari kita yang memiliki pengalaman traumatis maupun inspiratif, saat mengamati seluruh dinamika kehidupan sosial bangsa kita–konflik vertikal dan horizontal di Nusantara, termasuk Tanah Papua.

Hal ini bisa kita lihat, saksikan, dengar dan alami sepanjang demonstrasi masyarakat sipil Papua yang menjadi korban tindakan rasialis di Surabaya, Jawa Timur (Cepos, 18/8/2019).

Mengenal dan memahami diri

Ada beragam cara untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana seharusnya kita hidup di dunia ini dalam relasinya dengan sesama dan Tuhan. Dalam setiap tindakan etis kita terhadap diri, sesama, alam  semesta maupun Tuhan, menjadi sebuah sebab-akibat dengan melihat semua keragaman suku, agama, buday, dan ras.

Apalagi Indonesia dikenal sebagai salah satu negara majemuk yang terdiri dari beragam etnis/suku, budaya, dan agama yang disatukan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tetap satu tapi berbeda dari Sabang-Merauke (Nation in versity and diversity, 2009).

Semboyan ini menjadi pengakuan akan adanya kesatuan dan realitas perbedaaan antarmasyarakat, dengan menyadari keberagaman dan hidup sebagai warga negara. Maka kita sebagai makhluk sosial, manusia serigala, manusia ekonomis, manusia politik, dan manusia yang berilmu pengetahuan, dituntut untuk mengenal dan memahami pribadi sebagai kunci untuk mengenal dan memahami kebhinekaan.

Dengan begitu, kita pun bisa secara humanis bertindak, bertutur kata dan bertingkah laku terhadap sesama, untuk menghormati harkat dan martabat, tanpa menghina keberadaannya sebagai manusia.

Menurut saya, langkah awal untuk  mengenal orang lain adalah lewat pengenalan diri. Sokrates, filsuf Yunani kuno berpendapat, bahwa pengenalan akan diri sendiri menjadi pintu masuk untuk mengenal orang lain, tentang kebenaran-kebenaran yang mencakup segala kelebihan dan kekurangan dalam kehidupan manusia, dengan semboyan “kenalilah dirimu sendiri” (nosce te ipsum).

Selain Sokrates, St. Agustinus, salah satu filsuf zaman patristik pernah mengatakan bahwa manusia merupakan makhluk yang dapat keliru dari sebuah tindakannya. Maksudnya bahwa tindakan kita tidak selalu benar dan baik bagi orang lain dan pribadi, sehingga pentingnya memahami dan mengenal diri adalah sebuah tanggung jawab pribadi di zaman (post) modern ini.

Mengenal diri sendiri mengantarkan kita pada sebuah tahap “menerima diri” dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diriku. Dengan begitu, pribadi-pribadi akan dituntut untuk mengenal sesama dan membiarkan orang lain menjadi dirinya sendiri, tanpa ada sifat memaksa atau memberikan stigma yang tidak manusiawi.

Ungkapan kekeliruan bagi manusia adalah hal yang wajar, tetapi kekeliruan tidak boleh dijadikan sebagai simbol untuk membenarkan atau melarikan diri dari tanggung jawab, karena ada akal budi, sikap etis dan norma hukum dan agama, untuk membantu kita berpikir sehat–yang akan membawa kita pada suatu tindakan yang konstruktif, membangun rasa “menghormati dan mengasihi sesama manusia”.

Norma agama dan hukum membantu kita menjauhi kejahatan, dengan mencintai dan mengasihi orang lain sebagai diriku yang lain, bukan sebagai lawan untuk bertindak diskriminatif. Saya yakin bahwa kesalahan manusia merupakan pengalaman yang destruktif dan konstruktif di sisi lain .

Oleh karena itu, kita sebaliknya menjadikan kesalahan sebagai sebuah pengalaman dan sarana introspeksi diri untuk sebuah pembelajaran. Dengan demikian, kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia berubah menjadi semakin bermutu, rasional efektif dan bermanfaat bagi diri dan sesama, demi kebaikan bersama.

Dalam konteks kehidupan kita saat ini di Papua dan Indonesia umumnya, manusia berlaku tidak seperti yang diharapkan dan dicita-citakan bangsa dalam falsafah bangsa, tidak menyadari diri sebagai manusia berakal budi, tidak menyadari adanya sesama manusia adalah teman hidup. Sehingga yang terjadi adalah perbedaaan, lawan dan musuh yakni “manusia menjadi srigala bagi sesamanya”.

Hal ini bisa kita lihat, dengar dan saksikan lewat sejarah bangsa Indonesia sejak kemerdekaan hingga pengintegrasian Papua dalam Indonesia, terus terjadi sepanjang waktu, bagai warisan budaya klasik.

Yang ada adalah kuatnya (sikap) defensif mempertahankan diri menghadapi sesamanya sebagai saingan dan ancaman bagi pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidup, dengan berbaga kebutuhan popularitas diri, demi kenaikan jabatan, pangkat dan karier, sehingga tidak segan-segan menjadikan teman sebagai tumbal.

Pada hal perlakuan seperti ini sifatnya menghancurkan–dengan memecah belah keluarga, bangsa, suku, ras, dan negara. Oleh karena itu, demi menjaga kebersamaan, persaudaraan dan keutuhan suatu wilayah, maka perlu ada kesadaran akan memahami sesama manusia sebagai teman dan sahabat hidup.

Dengan mengembangkan sikap solider dan menolong untuk meringankan beban dalam masyarakat dan hidup bernegara, perlu ada suatu usaha, yaitu merawat kebersamaan.

Merawat keberagaman dalam kebersamaan

Dalam hidup yang solider dengan sesama, saya ingin “engkau bersatu sebagai kita dan saling melibatkan diri”. Inilah perkataan yang tepat dan bernilai untuk membangun keberagaman bangsa demi harapan bersama, yakni harapan akan kehidupan sejati, kedamaian, kesejahteraan, kebebasan dan keadilan, dengan menaruh kepercayaan kepada yang Ilahi (Allah) sebaga manusia beriman.

Juga harapan akan hidup damai dan bebas dari belenggu penindasan, penjajahan, teror, penistaan, dan bebas dari segala macam stigma negatif rasialitas, untuk  mengekspresikan diri seutuhnya sebagai manusia yang beradab.   Harapan ini akan selalu disertai dengan kegembiraan hidup bersama yang lain bersama Tuhan.

Harapan manusia akan menemukan dirinya sebagai manusia peziarah, yang merasa yakin ditopang oleh kekuatan Ilahi dalam menempuh perjalanan hidup yang penuh dengan penderitaan, maka hal utama yang perlu diprioritaskan adalah persahabatan.

Kata ini terdengar popular karena di sana terdapat nilai-nilai etis yang terpuji, luhur (keterbukaan, pengorbanan, kejujuran, kepercayaan, kebebasan, keadilan dan cinta kasih).

Sementara itu, persahabatan pun memesona ketika pribadi-pribadi yang berlainan karakter dan latar belakang sosial, ekonomi, budaya,  agama dan ras, bertekad untuk berjalan bersama sebagai saudara dengan saling mendukung, mencintai, menghormati, dan menerima sesama apa adanya.

Inilah persahabatan yang sesungguhnya perlu didukung dan diperjuangkan. Oleh karena itu, kiranya penting untuk mempromosikan keragaman budaya, bahasa, dan merawat persahabatan sebagai taman kehidupan, dan itulah tanggung jawab kita bersama.

Menegakkan keadilan sebagai habitus baru

Tidak disangsikan lagi, bahwa mutu kehidupan sebagain besar bangsa kian merosot. Moral berantakan, lingkungan hidup rusak, korupsi meningkat, dan pelanggaran HAM terus menggerogoti keharmonisan, dan ekploitasi sumber daya alam terus merajalela.

Di tengah hiruk-pikuk ini kita semua mengharapkan suatu tindakan tegas yang bijaksana demi menyelamatkan rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat, dalam hal menyelamatkan bumi dan manusia. Kita tahu, bahwa keadilan sebagai kunci utama untuk membuka pintu hati manusia dengan rasa “membangun budaya adil”.

Bertindak adil atau jujur adalah sebuah tindakan yang humanis dan terpuji. Tindakan adil ini mendapat kehormatan dari tiap pribadi, karena di sana terdapat keselamatan yang mencakup “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, dalam kerangka kemanusiaan yang adil dan beradab, dengan berketuhanan Yang Mahaesa demi persatuan Bangsa.

Oleh karenanya, keadilan menjadi kebutuhan pokok bagi terbangunnya sebuah persekutuan sosial yang baik dan membangun habitus hidup baru bersama, dengan rukun dan damai menjadi tawaran solutif. (*)

Penulis adalah anggota Kebadaby Voice Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top