Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mengapa Prancis enggan negosiasi dengan Vanuatu?

Pulau Hunter. – Lowy Institute/Wikimedia Commons

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Alexandre Dayant

Dua pulau kecil dan kosong tanpa penghuni di tengah Pasifik yang, hingga saat ini, kelihatan biasa saja dan tidak menarik, telah kembali memicu ketegangan yang mendalam antara Prancis dan Vanuatu.

Pada 1929, Prancis merampas kepemilikan Pulau Hunter dan Matthew dan mengalihkan administratif keduanya dengan koloni mereka saat itu New Hebrides, sekarang menjadi Vanuatu. Setelah berselisih dengan Inggris 47 tahun kemudian, pada 1976, Prancis memutuskan untuk mempercayakan pengelolaan kedua pulau ini ke koloni Pasifik mereka lainnya, Kaledonia Baru.

Pada 1980, 74 tahun setelah kolonialisme, Republik Vanuatu dibentuk. Dengan kemerdekaannya, keinginan Vanuatu untuk mendapatkan kembali Hunter dan Matthew pun timbul, mengklaim kedua pulau sebagai miliknya.

Loading...
;

Tiga tahun setelah itu, satu-satunya kapal Angkatan Laut ni-Vanuatu mengusik lambang kedaulatan Prancis yang didirikan di pulau-pulau itu, dan menanam bendera negara mereka. Bagi Prancis, langkah itu merupakan ujian atas kedaulatan mereka di Pasifik Selatan. Tidak menerima hal ini, Prancis segera mengirimkan militernya untuk kembali menunjukkan kedaulatannya atas Hunter dan Matthew.

Sejak itu, beberapa perselisihan kecil telah menyalakan kembali api ketegangan antara kedua negara. Pada 2004, Angkatan Laut Prancis mencegat kapal nelayan Taiwan-Fiji di sebelah pulau-pulau itu. Para nelayan di kapal itu menjawab pulau-pulau ini berada dalam zona penangkapan ikan yang disahkan oleh Vanuatu.

Demikian pula, pada 2009, di mana partai pro-merdeka Kaledonia Baru, FLNKS, menandatangani Deklarasi Keamu dengan perdana menteri Vanuatu saat itu, dan mengakui kepemilikan pulau-pulau Hunter dan Matthew secara adat kepada Vanuatu. Dokumen itu kemudian dikecam oleh pemerintah negara Prancis.

Tahun 2019 ini dimulai dengan bangkitnya kembali ketegangan antara kedua negara. Pada Januari, Prancis mengirim misi angkatan laut kecil ke Hunter dan Matthew untuk ‘menegaskan kembali kedaulatannya’. Hal tersebut dilakukan dengan cara mendaratkan beberapa personel di kedua pulau, membersihkan tugu peringatan dan menggambar bendera Prancis di atas bebatuan.

Menurut Menteri Luar Negeri Vanuatu, Ralph Regenvanu, tindakan-tindakan konfrontasi seperti ini menimbulkan rasa takut di kalangan masyarakat ni-Vanuatu, yang biasanya melakukan ritual dan upacara tradisional di pulau-pulau itu.

Tahun lalu, proses negosiasi antara kedua negara mengenai persoalan ini seharusnya sudah dimulai, tetapi Prancis tidak bisa hadir, dengan alasan kalau mereka sangat sibuk mengatur persiapan dan pelaksanaan referendum untuk penentuan nasib sendiri di Kaledonia Baru. Untuk Johnny Koanapo, politisi yang mewakili pihak Vanuatu dalam pembicaraan dengan Prancis, masalah yang paling penting adalah karena Prancis belum menyatakan posisi yang ‘pasti’ tentang masalah tersebut.

Prancis telah berada di Pasifik sejak abad ke-19 dan, sebagai akibat dari sejarah kolonialis-nya, mengklaim tiga wilayah di kawasan Pasifik: Kaledonia Baru, Wallis & Futuna, dan Polinesia Prancis sebagai Teritori Seberang Laut Prancis. Wilayah-wilayah ini memberikan posisi geostrategis yang istimewa bagi Prancis karena beberapa alasan.

Alasan pertama, mereka memungkinkan Prancis menjadi satu-satunya negara Eropa yang memiliki kehadiran militer di kawasan itu secara legal. Angkatan Laut Prancis yang berbasis di Nouméa terdiri dari dua kapal perang jenis fregat pengawas, empat kapal patroli, dua kapal multi-mission, lima pesawat patroli maritim, empat pesawat tactical transport, beberapa helikopter, dan personel militer berjumlah 2.800 orang. Angka ini diperkirakan akan meningkat karena Prancis terus berupaya memperkuat kehadirannya di kawasan Pasifik.

Kedua, Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang luas di sekitar wilayah teritori Prancis di Pasifik, menunjukkan posisi sumber daya laut yang besar dan memberikan hak eksklusif kepada Prancis, atas stok ikan yang sangat besar di dalam wilayah ZEE itu.

Selain itu, dengan Kaledonia Baru mendominasi seperempat dari cadangan nikel dunia, Prancis dapat menerima manfaat dan keuntungan ekonomi yang, jika dikombinasikan dengan meningkatnya permintaan nikel dari pasar Tiongkok, akan menjadi sumber pemasukan yang kuat untuk beberapa dekade ke depan. Tambahkan kedua faktor itu dengan berbagai peluang-peluang wisata dan penemuan hydrocarbons dan potensi minyak bumi, kita bisa memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai peluang ekonomi yang dibawa oleh wilayah seberang laut Prancis kepada negara itu .

Alasan terakhir, dengan keputusan 2016 lalu untuk memasukkan Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis sebagai anggota penuh Forum Kepulauan Pasifik (PIF), Prancis juga kini memiliki kursi dalam badan politik regional Pasifik. Hal ini akan memberi Prancis posisi yang khusus untuk mendorong agenda strategisnya sendiri di kawasan ini.

Hal-hal itu membawa kita kembali ke sengketa atas pulau-pulau seperti Hunter dan Matthew. Cengkeraman Prancis atas wilayah-wilayah seberang laut-nya sudah sering dipertanyakan, dan mereka tampaknya bersikeras mempertahankan klaim kedaulatan mereka di wilayah-wilayah ini.

Pijakan Prancis di Pasifik dan banyaknya keuntungan yang, telah dan akan terus ia terima, dari sini, menjelaskan keengganan-nya dalam melakukan negosiasi dengan Vanuatu. Memang benar, kekuasaan Prancis di Pasifik terus meningkat, namun pada saat yang bersamaan, ia juga harus menghadapi dosa masa lalunya yang merambat hingga sekarang, sebagai kekuatan kolonial dengan warisan nuklir yang tak kunjung ia akui. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Prancis telah menghadapi referendum untuk merdeka dan dilaporkan atas kejahatan terhadap kemanusiaan, jadi seharusnya ia berusaha lebih keras untuk menghindari drama lainnya. (The Interpreter by Lowy Institute)

 


Editor : Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top