HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mengungsi sepekan akibat banjir

Kondisi pengungsian di GOR Hiad Sai, Merauke, Selasa (19/3/2019) – Jubi/Frans L Kobun

 Papua No. 1 News Portal | Jubi

Banjir terbesar dalam 30 tahun terakhir melanda Kota Merauke. Ratusan warga dievakuasi ke lokasi pengungsian.

GERARDUS Wagatu tidak menyangka dia sekeluarga harus mengungsi di Gedung Olah Raga (GOR) Hiad Sai. Mereka bersama rombongan warga lain dijemput petugas Satuan Polisi Pamong Praja untuk dievakuasi dari kediaman masing-masing.

Wagatu berdomisili di Kelurahan Rimba Jaya, Kabupaten Merauke. Banjir melanda wilayah itu sehingga merendam permukiman penduduk.

“Banjir memasuki rumah hingga setinggi paha atau sekitar 75 sentimeter. Banyak perabotan tidak bisa diselamatkan karena banjir mendadak datang,” katanya kepada Jubi, Selasa (19/3/2019).

Loading...
;

Wagatu sekeluarga diungsikan sehari setelah banjir besar melanda Rimba Jaya pada Sabtu. Aktivitas warga pun lumpuh karena banjir juga merendam kantor pemerintahan, gedung sekolah, dan berbagai fasilitas publik.

Wagatu juga tidak menyangka banjir bisa sebegitu besar hanya lantaran guyuran hujan deras selama semalam. Di lingkungan tempat tinggalnya, hanya dua rumah yang selamat dari banjir.

“Selama kurang lebih 30 tahun saya tinggal di Kota Merauke, baru kali ini terjadi banjir besar.”

Wagatu sekeluarga membaur bersama sekitar 500 warga lain yang juga diungsikan di GOR Hiad Sai. Mereka diperkirakan menetap hingga sepekan di lokasi pengungsian.

Kebutuhan sehari-hari warga selama mengungsi ditanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke. Di pengungsian, Wagatu bisa beristirahat sejenak walaupun dengan fasilitas serba darurat.

“Setelah banjir masuk ke rumah, kami sekeluarga tidak tidur hingga pagi. Kami takut banjir lebih besar muncul sehingga harus tetap waspada,” ungkap Wagatu.

Wagatu belum mengetahui kondisi terkini di lingkungan tempat tinggal mereka. Karena khawatir banjir bakal dan masih melanda, dia memutuskan untuk tetap bertahan di pengungsian.

“Biar bertahan dahulu sampai cuaca normal kembali. Satu atau dua hari ke depan, mungkin baru bisa pulang untuk melihat kondisi rumah,” tuturnya.

Ancaman diare

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Merauke, Fonny Runtu, memastikan kondisi warga terjamin selama di pengungsian.

“Semua mendapat bantuan dan dilayani dengan baik. Kami juga mendirikan dapur umum untuk menyiapkan makan sebanyak tiga kali sehari buat pengungsi.”

Warga di pengungsian kini mulai diserang penyakit, seperti batuk, pilek, infeksi saluran pernapasan, dan maag. Namun, mereka langsung ditangani tenaga medis yang selalu bersiaga di lokasi pengungsian.

“Ada 27 pengungsi mengeluh sakit dan langsung kami tangani. Mereka terdiri atas 15 anak-anak, dua remaja, dan sembilan warga dewasa,” kata David, dokter yang bertugas di pengungsian.

David mengingatkan para orangtua agar selalu mengawasi anak mereka. Kebutuhan makanan higienis dan bergizi harus tetap diperhatikan selama mengungsi. Dia memastikan sejauh ini belum ada pengungsi yang menderita sakit akibat dampak kebersihan makanan.

“Walaupun sejauh ini belum ada, diare sangat rentan menyerang anak-anak. Apalagi, mereka bakal berada di pengungsian selama sepekan,” ujar David. (*)

Editor: Aries Munandar

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top