Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Menumbuhkan gemar membaca dengan jurnalistik

Siswa SDN 1 Hamadi Jayapura mengunjungi stand Balai Bahasa Papua – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

PENDIDIKAN jurnalistik penting bagi siswa karena dalam pelajaran jurnalistik banyak nilai yang patut diadopsi agar berguna dalam pengembangan karakter siswa, seperti gemar membaca.

Melatih anak mengenal dunia jurnalistik menjadikan anak memiliki kehidupan bijak, karena kehidupan manusia selalu bersinggungan dengan media dalam menerima informasi.

Di SDN 1 Hamadi Jayapura para siswa diberikan pengetahuan tentang jurnalistik sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Terkait itu dengan kegiatan tersebut, guru mengajak siswa mengunjungi stan Pameran Hari Pendidikan Nasional di halaman Kantor LPMP Papua, Sabtu, 27 April 2019.

“Kami ajak anak-anak ke pameran ini agar anak-anak bisa mengetahui perkembangan dunia pendidikan sekaligus mengajarkan anak belajar jurnaslistik,” kata Nurhayati, guru SDN 1 Hamadi Jayapura, yang mendampingi peserta didiknya.

Loading...
;

Melalui jurnalistik, katanya, menjadikan anak gemar membaca sehingga banyak mendapat ilmu pengetahuan tentang dasar-dasar ilmu jurnalistik.

“Karena saat mengunjungi masing-masing stan, anak-anak ini sekalian belajar wawancara,” ujarnya.

Dijelaskan Nurhayati, ketika mengunjungi setiap stan, masing-masing meminta izin kepada petugas stan. Lalu, memperkenalkan diri, maksud dan tujuan mengunjungi stan tersebut.

Setelah itu, setiap anak memperhatikan setiap fasilitas yang ada dalam stan, kemudian menanyakan kepada petugas. Peralatan yang mereka gunakan adalah buku dan pensil untuk menulis setiap jawaban dari petugas stan.

“Seperti apa nama stannya, apa saja produk yang dihasilkan selama satu tahun ini, manfaatnya apa saja, bagaimana perkembangan produk yang dihasilkan, dan cara membuat produk tersebut,” ujar Nurhayati.

Melalui pembelajaran awal tersebut, kata Nurhayati, selanjutnya akan menuntun murid memahami fungsi dan peran jurnalistik atau pers dalam arti yang luas.

“Hal yang lebih penting lagi dengan pembelajaran jurnalistik diharapkan para murid semakin melek media atau literasi media seiring percepatan zaman ditandai kehadiran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK),” katanya.

Diungkapkan Nurhayati, sebelum melakukan praktek lapangan di sekolah diajarkan tentang teori tentang meliput peristiwa, menemui tokoh yang relevan diwawancarai untuk bahan berita, diolah dan kemudian dipublikasikan.

Dalam pemberian teori setiap kelompok berjumlah lima anak untuk mendiskusikan apa saja yang akan diwawancara dan penulisannya.

“Saat kembali ke sekolah, semua yang sudah dipraktekan dipelajari lagi agar anak-anak ini semakin pandai dalam meliput, hasil dari kegiatan jurnalistik ini kami siapkan sendiri tempatnya di mading kelas sehingga siswa lainnya bisa melihat,” katanya.

Proses mencari atau mengumpulkan bahan berita, mulai dari tinjauan langsung ke lapangan, kesiapan mental, fisik, dan mengolah serta mempublikasikan memalui media sesuai karakteristiknya sehingga anak-anak gemar membaca dan menulis.

Hal serupa juga diungkapkan guru SDN 1 Hamadi, Yohana Paliling. Dengan turun langsung ke lapangan, katanya, melakukan peliputan dapat menjadikan anak mengetahu secara pasti kondisi atau kejadian sesungguhnya di lapangan.

“Harapan kami, ini bisa juga menjadi pembelajarn kepada siswa kami lainnya atau bahkan siswa-siswi di Kota Jayapura, anak-anak gemar membaca dan menulis melalui kegiatan jurnalistik,” ujar Paliling.

Diungkapkan Paliling, ekskul jurnalistik bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar ini begitu sangat dinikmati siswa.

“Sekarang memang penggunaan internet juga sangat penting dalam pembelajaran di kelas, terkadang ada beberapa tugas untuk siswa yang memang harus melihat internet, baik tugas yang terkait dengan hal-hal di dalam negeri maupun luar negeri,” katanya.

Menurur Paliling, pendidikan jurnalistik sangat diperlukan. Tidak hanya sebatas ada pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang diajarkan saat teori tapi juga langsung praktek turun ke lapangan yang harus dilakukan sejak dini.

“Jadi, pendidikan jurnalistik mengajarkan anak agar gemar membaca dan menulis daripada bermain game atau hal-hal yang lain yang membuat anak tidak berkembang dalam ilmu pengetahuan,” ujar Paliling.

Peneliti Muda di Balai Bahasa Papua, Yohanes Sanjoko, mengaku senang dan memberikan apresiasi kepada pihak yang turut serta mengenalkan jusnalistik kepada peserta didiknya.

“Ke depan tak hanya diajarkan saat di bangku sekolah dasar tapi juga ke jenjang yang lebih tinggi sehingga pemahaman anak terhadap jurnalistik semakin baik, dan tentunya membuat anak rajin membaca untuk mengembangkan ilmu pengetahun yang dimiliki,” katanya..

Menurut Yohanes, siswa SD turut serta memajukan dunia pendidikan, khususnya jurnalistik karena sangat penting ditanamkan sejak dini pada anak.

Berdasarkan hasil penelitian pada 2018, dikatakan Yohanes, literasi membaca dan menulis secara nasional Papua berada di urutan peringkat terakhir. Secara global yang di survei dari 61 negara, Indonesia berada di urutan kedua dari bawah.

“Seperti kita ketahui bersama literasi atau budaya membaca dan menulis di Indonesia khususnya di Kota Jayapura masih sangat rendah, dengan adanya kegiatan inii supaya tergerak hati masyarakat untuk gemar membaca dan menulis sejak dini,” katanya.

Dijelaskan Yohanes, Balai Bahasa Papua sering melakukan kegiatan dengan tujuan mengajak masyarakat seperti sayembara dalam bentuk penulisan cerpen, puisi, dan lomba dalam membaca usia 3 hingga 6 tahun. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top