Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Menyandera iman dalam kerangkeng prasangka 

Warga Distrik Yigi Kabupaten Nduga saat menuju Nigiagin yang berbatasan dengan Kabupaten Lanny Jaya Papua 26 Desember 2018 – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Esther Haluk

Albert Einstein, fisikawan penemu bom atom berdarah Yahudi pernah berkata, dunia tak ‘kan hancur karena orang-orang yang berbuat kejahatan, namun oleh orang-orang yang menonton kejahatan tersebut tanpa melakukan apapun terhadap kejahatan tersebut. Kata-kata ini menghentak kesadaran saya, ketika menyadari realitas Papua, yang mayoritas masyarakatnya mengaku beragama Kristen, agama yang menempatkan kasih kepada Allah dan manusia sebagai dasar fondasi imannya.

Pasca pemberlakuan Undang-Undang Otonomi Khusus tahun 2001, banyak denominasi Gereja yang muncul di Papua. Jika kita berpikiran positif, kita bisa berasumsi bahwa tumbuh suburnya denominasi berarti umat Kristen semakin kritis dalam pencarian dan refleksi iman.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak denominasi Gereja di Papua, justru umat semakin pasif dalam menanggapi situasi riil umat di Papua. Banyak umat Gereja yang justru memilih diam atau mengambil posisi netral, dan sama sekali tak mau terlibat dalam hiruk-pikuk realita sosial di sekitarnya.

Loading...
;

Gereja, dalam konteks Kristen, tidak berbicara hanya tentang bangunan belaka karena setiap umat adalah Gereja yang hidup dan ditugaskan menjadi terang dan garam di tengah kehidupan dunia yang penuh dengan masalah, prasangka, dan persoalan. Pada titik ini, agama, seperti pendapat Karl Marx bisa menjadi candu dan tempat pelarian bagi orang-orang yang sedang mengalami penderitaan, tekanan, dan mencabut mereka dari realitas kehidupan mereka. Ataukah agama menjadi suatu kekuatan baru dalam mentransformasi kehidupan sosial umat?

Banyak masalah kemanusiaan yang muncul akhir-akhir ini. Kita diperhadapkan pada pilihan, untuk mempraktikkan kasih tanpa pandang bulu atau menghamba pada prasangka kita secara pribadi, yang terbentuk dari pengalaman subjektif kita.

Benar bahwa Papua adalah wilayah yang terus bergolak secara politik. Namun banyak permasalahan kemanusiaan yang juga muncul dan memaksa kita untuk berefleksi kembali tentang iman kita.

Gereja dan umat Kristiani di Papua diperhadapkan pada realitas sosial dan politik. Negara mempertahankan status quo melalui praktik rasisme, mengepung masyarakat dengan investasi dan kapitalisme tanpa mempersiapkan masayarakat adat untuk bersaing dalam kerangka pasar global, dan menerapkan totalitaliterisme lewat kebijakan yang mengebiri hak berdemokrasi rakyat Papua, pemberian impunitas bagi pelaku pelanggaran HAM, membungkam suara-suara kritis melalui pembunuhan, intimidasi, pemenjaraan, dan sebagainya.

Segala isu di Papua selalu dilihat dari kacamata politik dan ditangani juga dengan pendekatan politis yang minim pendekatan humaniter.

Pada akhir 2018 (Desember) masyarakat Nduga mulai mengungsi akibat konflik antara TPN/OPM dan aparat TNI/Polri.  Dalam keadaan panik karena menyelamatkan nyawanya, masyarakat Nduga lari meninggalkan kampung halaman dengan pakaian di badan, bertahan berhari-hari di rimba dengan makan daun-daunan dan tanaman hutan, melewati medan yang sangat ganas.

Sesampai di tempat-tempat pengungsian, mereka harus bertahan hidup dengan makanan seadanya, menunggu belas kasihan orang, bahkan terkadang minum air putih seharian untuk menghilangkan rasa lapar, sehingga  banyak anak kecil atau orang-orang tua mati di pengungsian akibat kelaparan dan penyakit yang umumnya muncul di tempat pengungsian.

Saat Gereja dan sesama tubuh Kristus di Nduga membutuhkan uluran tangan, banyak Gereja lain yang terkesan ogah-ogahan mengulurkan tangan untuk meringankan beban sesamanya karena takut terjebak dalam pusaran konflik Papua Merdeka versus NKRI Harga Mati.

Empat bulan setelah masyarakat Nduga mengungsi, banjir bandang melanda Sentani dan semua orang sibuk menolong korban banjir, dan bantuan mengalir deras untuk para korban, sedangkan pengungsi Nduga terbengkalai dan tetap mengurus diri mereka sendiri.

Tahun yang sama, sepuluh bulan setelah rakyat Nduga mengungsi, kerusuhan Wamena pecah dan berakibat pada munculnya pengungsi. Namun penanganan diskriminatif secara terang-terangan terjadi.

Ketika banyak foto dan caption tentang korban rusuh Wamena diviralkan di medsos, semua orang berlomba-lomba menjadi malaikat penolong yang rela menggelontorkan dana tak tanggung-tanggung demi memanen pujian. Sedangkan foto-foto dengan caption yang sama tentang Nduga yang di-posting sejak bulan Desember lalu hingga kini, hanya memanen like atau komentar belaka.

Entah pemahaman kita tentang ajaran kasih belum benar, atau mental kita sudah rasis dan tak menyisahkan ruang untuk nurani dan kemanusiaan sekalipun.

Situasi diskriminatif dan rasis seperti ini pernah terjadi di Afrika Selatan, sehingga memaksa gereja di negara itu berefleksi terhadap praksis berteologi, dan hasilnya adalah dokumen yang terkenal dengan nama dokumen Kairos.

Model-model berteologi selama ini di Papua adalah;

Pertama, ada sebagian Gereja/denominasi di Papua memilih untuk menjinakkan dan mendoktrinasi umatnya dengan teologia negara, seperti yang terdapat dalam kitab Roma 13:17, yang menuntut kepatuhan membuta dari umatnya pada negara dengan ajaran bahwa  pemerintah adalah wakil Allah di dunia.

Dalam pandangan ini, masyarakat Nduga akan dipandang bersalah dan sedang memberontak melawan negara yang merupakan wakil Allah di dunia, terlepas dari apakah mereka anggota militer TPN/OPM atau tidak. Menjadi orang Nduga sudah secara lahiriah saja sudah menjadi cukup alasan untuk mengkategorikan mereka sebagai kelompok pengacau yang tak pantas diberi bantuan kemanusiaan;

Pemahaman teologi kedua adalah teologia gereja yang ajarannya kelihatan kritis namun dengan penafsiran ajaran Kristen yang hanya berfokus pada ajaran Mesianik, tentang kerajaan Surga yang hanya bisa diakses oleh umat setelah kematian.

Dalam doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Kristus, sebagai Sang Kepala Gereja yang berbunyi “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Surga” berisi mandat agar orang Kristen menghadirkan suasana Kerajaan Allah yang aman, tenteram dan penuh kasih tanpa pamrih antarsesama kita saat ini dan di sini, bukan dalam kehidupan kita kelak setelah kematian.

Situasi inilah yang pernah dikritik oleh Karl Marx terhadap agama dengan menjuluki agama sebagai candu, karena ajaran dan doktrin agama justru mengalienasi sesama umat Kristiani, sehingga tak ambil pusing pada masalah saudara di dekatnya yang sedang telanjang, haus dan lapar;

Ketiga, Gereja memilih menyuarakan suara kenabian di tengah kemelut dan realita yang dihadapi umatnya, menjadi corong kebenaran Tuhan yang meneriakkan teguran-teguran pada semua pihak, terutama pada  kekuasaan apabila menginjak-injak nilai kemanusiaan.

Denominasi (gereja) banyak di Papua. Namun Gereja yang memilih menyuarakan suara kenabian masih bisa dihitung dengan jari.

Tantangan yang dihadapi pekerja/pimpinan Gereja yang memilih menyuarakan suara kenabiannya di tengah pusaran masalah di Papua tidak main-main, berujung pada cap pendeta separatis dan berbagai julukan lainnya.

Memang banyak gembala bagi umat di Papua. Namun gembala yang benar-benar mengikuti dan meneladani Kristus dan menjadi gembala yang baik masih sedikit.

Kini banyak pelayan umat yang lebih memilih memihak pada kekuasaan, menutup mata terhadap penderitaan umat, menjadi corong penguasa untuk meredam suara umat yang kritis dengan tafsiran ajaran nilai Kristiani yang dangkal, menjadi hamba mamon.

Alih-alih membiarkan nurani menjadi kompas hidup, kita justru memilih mengurung iman kita dalam pandangan sempit dan dangkal yang subur dengan prasangka-prasangka subjektif yang melucuti kemanusiaan kita.

Aktor Adrian Hemlsley dalam film 2012 mengatakan ketika kita berhenti untuk saling berdiri untuk sesama kita manusia, maka saat itulah kita kehilangan kemanusiaan kita. Semoga kita tidak memenjarakan pikiran dan kemanusiaan kita. (*)

Penulis adalah mahasiswa programa pascasarjana Gereja dan Masyarakat di STT Walter Post Jayapura

Editor: Timo Marten

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top