HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Menyisir tepi laut Jayapura

Salah satu kawasan pesisir Jayapura yang ramai dikunjungi warga – Jubi/Timo Marten

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Hingga matahari sore bersandar di bukit Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, motor kami mulai merapat ke tepian setelah dua jam lamanya di atas lautan”

Langit Kota Jayapura, Papua, siang ini, Sabtu, 24 Agustus 2019, cerah. Awan-awan tipis menggantung di langit biru. Kendaraan lalu-lalang di tiap jalan utama dan jalan protokol. Macet dan berdebu.

Berbeda dengan hari-hari kemarin. Jalanan sepi karena isu merebak kemana-mana. Hingga sekolah libur. Entah alasannya apa.

Tapi dari informasi yang beredar, bahwa itu karena pesan singkat sebelumnya yang “meliburkan” sekolah dan aktivitas lainnya, menyusul demo tuntutan keadilan bagi pelaku rasisme terhadap orang Papua.

Loading...
;

Akhir pekan ini berbeda. Kota Jayapura dipenuhi kendaraan seperti biasanya. Kami menepi dan menghampiri sebuah speedboat atau motor cepat, yang sedang tertambat di samping sebuah rumah bercat oranye, di Kampung Vietnam, Distrik Jayapura Selatan.

Mau menyisir sejumlah tempat. Terutama kawasan laut, mulai dari bagian utara di sekitar pantai Base-G, Dok 2, Dok 5, Kayo Batu, dan Kayo Pulo, hingga sekitar Kampung Enggros-Tobati, Pulau Metu Debi, Tanjung C’beery, Hamadi, dan Pulau Kosong, Distrik Jayapura Selatan dan Abepura.

Di bawah Jembatan Merah Youtefa, Yohan, sang motoris memperlambat laju boat. Tahulah kami mau mengabadikan pesisir pantai Teluk Youtefa.

“Itu Tanjung C’beery,” ujarnya.

Sekira dua ratus meter jauhnya, beberapa tangan melambai akrab. Beberapa lainnya menikmati suasana pantai. Mandi dan berjemur di atas perahu kecil yang menyentuh daratan.

Beberapa waktu terakhir, Tanjung C’berry adalah salah satu kawasan yang memang jadi ramai. Warga kota Jayapura seakan berlomba-lomba menjadikannya potret trend, di media sosial semacam instagram, facebook, dan lain-lain. Apalagi letaknya, persis bersentuhan dengan ujung jembatan bercat merah-putih.

Motor melaju lagi. Menyisir pesisir yang belum dilalui. Ke arah Hamadi, Distrik Jayapura Selatan.

Di sini, di tepian ini, plastik, botol, atau apa saja yang disapu air, menghiasi permukaan laut. Seolah-seolah berlomba dengan perahu dan mengitari bagan-bagan para nelayan, yang tidak goyah dihantam gelombang sedang, di sekitar Pulau Kosong.

Pemandangan ini persis, saat satu jam yang lalu, sebelum beranjak pukul 2 siang, kami melihat Pantai Teluk Youtefa, Distrik Abepura.

Di dermaga, beberapa motor ditambatkan. Sedangkan beberapa warga menjajakan makanan dan minuman ringan. Dua atau tiga anak masih berseragam putih biru dan abu-abu, menanti jemputan sepulang sekolah.

Pandangan kami tertuju ke sekitar kawasan pantai. Botol-botol bekas, kayu lapuk, dan plastik-plastik merapatkan tumpukannya. Memadat di kolong dermaga. Menumpuk di sekeliling bangunan tanpa dinding yang menghadap lautan. Ya, itu sampah plastik.

Sedangkan di tepi kiri-kanan dermaga, tampak pohon mangrove (bakau) berdiameter seukuran tiang bendera, yang ditanam kelompok peduli lingkungan dan pemuda Port Numbay. Kami pun mengabadikan mangrove muda yang menghijau, disusul tumpukan sampah.

Kawasan Teluk Youtefa adalah muara bagi empat sungai di Distrik Abepura. Termasuk Kali Acai yang membelah kawasan Abepura dan Kotaraja, dan Pasar Youtefa. Kawasan ini adalah “penampung” sampah dari pusat kota Abepura dan sekitarnya.

Lima bulan lalu, tepatnya 4 Maret 2019, saat memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Jayapura bersama beberapa pihak mengangkat 2,8 ton sampah saat bakti sosial. Sampah sebanyak itu, merupakan 472 kilogram botol kaca, 1,374 ton sampah campuran, dan sebanyak 162 kilogram plastik.

Memotret pemandangan sampah di Teluk Youtefa daratan, rupanya sama mudahnya ketika memotret sampah yang bertebaran di lautnya. Itu karena arus tidak begitu deras meski motor yang kami tumpangi, sesekali ditampar gelombang, sehingga kamera harus segera disembunyikan di balik baju.

Berbeda dengan kawasan Kayo Batu dan Kayo Pulo di Distrik Jayapura Utara. Air laut masih bening dan tampak tenang, tapi onggokan sampah dilibas arus deras.

Di pesisirnya tampak hutan belukar ilalang dan batu keras bercampur tanah. Sepintas saya mengira seperti pepohonan hijau, yang tumbuh di atas gugusan pulau karang di Teluk Triton Kaimana atau Raja Ampat, Papua Barat.

Di kawasan ini, sampah-sampah langsung terhanyut dan tidak begitu nampak di permukaan, meski mesin motor hampir lima kali macet di tengah lautan.

“(Mesinnya) Tersumbat karena plastik,” kata Yohan, yang mengaku pernah membawa tim mancing mania dari ibu kota.

Hingga matahari sore bersandar di bukit Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, motor kami mulai merapat ke tepian setelah dua jam lamanya di atas lautan. Di sebuah dermaga kayu di Kampung Vietnam, motor Badan Nasional Penanggulangan Bencana sedang tertambat.

Kami pun kembali ke rumah masing-masing, dengan merampungkan cerita, dari sisi lain

kota dengan lima distrik, 14 kampung, dan 25 kelurahan ini.

Sejumlah tempat yang kami abadikan dalam ingatan dan menyibak mata, adalah kawasan wisata pantai (bahari) dan wisata lingkungan (ekowisata), yang sedianya dijaga dan dikelola dengan baik.

Ko lama di Jayapura, tapi ko juga harus melihat sisi lain kota ini dari laut,” kata Dominggus A. Mampioper, mantan Pemimpin Redaksi Jubi, yang menjadi koordinator tim kami. (*)

Editor: Dominggus A. Mampioper

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top