Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mereka beraksi setelah deklarasi

Anggota komunitas Kena ketika melakukan aksi bersih-bersih di Nabire – Jubi/Titus Ruban

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Pemerintah Kabupaten Nabire melarang masyarakatnya membuang sampah di sembarang tempat, apalagi tempat-tempat umum seperti terminal Oyehe, pasar Karang Tumaritis, pasar Kalibobo, Jalan Poros Wadio, dan Pasar Kaget Siriwini Nabire.”

Philemon Keiya hanya membutuhkan waktu lima hari untuk melancarkan aksinya setelah Komunitas Enaimo Nabire (Kena) dideklarasikan di Nabire, 3 Juli 2019. Komunitas yang digawanginya merupakan kumpulan puluhan anak muda peduli lingkungan dan masalah sosial, seperti narkoba dan peredaran minuman beralkohol.

Pada 8 Juli 2019, Keiya menemui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup Nabire, Gregorius Mote, untuk memperkenalkan Kena dan melakukan aksi bersih-bersih sampah. Gayung bersambut. Niat baiknya untuk melakukan kerja bakti 10 Juli 2019 disetujui.

Dua hari setelah menemui Mote, 10 Juli 2019, sebanyak 22 anak muda memenuhi Jalan SP depan SMKN 02 Jayanti, Wadio, Nabire, sejak pukul 6 pagi. Bermodalkan tekad dan didukung satu mobil pick up serta sebuah truk sampah bantuan senior komunitas, mereka mulai memungut sampah-sampah hingga pukul 12 siang.

Loading...
;

“Kami mau katakan kepada warga Nabire, jangan tanyakan apa yang Pemkab Nabire buat kepada kita tentang sampah, tapi tanyakan kepada dirimu, apa yang hari ini kita buat untuk Nabire terkait sampah,” kata Keiya, menyitir mantan Presiden Amerika J.F. Kennedy.

Keiya berkisah, akhir-akhir ini sampah berserakan di sejumlah lokasi. Warga mengeluhkan kondisi tersebut. Namun pemerintah setempat tidak meresponsnya.

Sampah sering menghiasi badan jalan. Pasar Oyehe dan Pasar Karang merupakan pusat sampah di jantung kota. Sampah-sampah yang bertumpukan di lokasi itu tentu mengganggu mama-mama yang sedang menjual hasil-hasil kebunnya.

“Para orang muda, mari bergabung dengan kami. Kita akan selalu buat yang terbaik untuk Nabire dengan kerja nyata yang sederhana,” kata Keiya.

Aksi Kena menyita perhatian masyarakat, tak terkecuali media massa. Sehari setelah bakti sosial, RRI Pro 2 Nabire mengundang Keiya dalam acara “Numpang Numpang”, pukul 4 sore. Ini merupakan momen baginya untuk mengajak warga Nabire memerangi sampah.

“Jangan tunggu pemerintah. Sampah yang bisa kita angkat, kenapa mesti tunggu pemerintah?” katanya.

Pihaknya juga mengajak anak-anak muda dan masyarakat Nabire agar menjauhi minuman beralkohol, narkoba, dan lem aibon.

Di Jalan Poros SP Jayanti Wadio, Jumat, 12 Juli 2019, pagi hingga sore harinya mereka kembali beraksi. Bupati Nabire Isaias Douw bahkan “turun gunung”. Lawatan Douw mengagetkan peserta aksi bersih-bersih. Padahal kegiatan hari ini merupakan inisiatif komunitasnya dan tanpa sokongan pihak manapun.

Selama aksi dua hari itu sebanyak 2,5 ton sampah diangkut. Itu diperoleh dari tumpukan sampah sejauh 500 meter di badan jalan, got, dan sejumlah tempat.

“Kami isi di dalam karung besar 50 kg sebanyak 200 karung dan 5 karung besar 100 kg milik kantor Pos sebanyak 5 karung. Selain karung, puluhan plastik hitam yang besar juga berhasil kami isi sampah dan buang,” katanya.

Philemon Keiya juga berterima kasih kepada masyarakat Nabire yang menyumbangkan makanan, air minum, dan uang selama bakti sosial. Uang yang terkumpul sekitar Rp 3,5 juta bakal dipergunakan sebaik-baiknya untuk pengembangan Kena, sebab pihaknya masih menumpang di kantor DPD KNPI Nabire.

Enaimo berasal dari bahasa suku Mee, yang artinya bersama (kebersamaan) atau bersatu (persatuan). Dengan mengambil logo pelangi, komunitas yang kemudian disingkat Kena itu bersatu, sebab anggotanya berasal dari berbagai latar belakang. Dengan motto “Enaimo for Change”, mereka bermimpi agar kelak seperti pelangi yang memancarkan keindahan.

Anggota Kena, Nomen Douw, berharap agar warga Nabire tidak menunggu pemerintah membersihkan sampah, tetapi dimulai dari hal-hal kecil di lingkungannya. Menjaga kebersihan RT/RW jauh lebih baik daripada menuntut pemerintah di media sosial untuk peduli.

“Ingat bahwa media sosial tidak akan pernah menyelesaikan persoalan,” kata Nomen Douw.

Pemerintah Kabupaten Nabire melarang masyarakatnya membuang sampah di sembarang tempat, apalagi tempat-tempat umum seperti terminal Oyehe, pasar Karang Tumaritis, pasar Kalibobo, Jalan Poros Wadio, dan Pasar Kaget Siriwini Nabire.

Bupati Nabire Isaias Douw mengatakan masyarakat tidak boleh membuang sampah di sembarang tempat. Sampah-sampah harus diisi di plastik dan ditaruh di tempat yang sudah ditentukan agar petugas kebersihan dengan mudah mengambilnya.

“Jangan buang di Oyehe, di Karang Tumaritis, di Kalibobo, jangan buang sembarangan,” kata Bupati Douw.

Menurut dia, persoalan sampah telah dibahas. Oleh karenanya, siapa pun yang membuang sampah sembarangan akan dikenakan sanksi.

“Masyarakat yang buang sampah di sembarangan tempat tentunya harus mendapatkan sanksi, dan (pemerintah) akan keluarkan satu keputusan, semua elemen harus melaksanakan. Kebijakan ini sudah dimulai dari kemarin, sampah di Kalibobo, keamanan jaga, Pol PP dan Kepolisian,” katanya.

Warga Nabire, Supriyanto, mengapresiasi ketegasan Pemkab Nabire soal sampah. Namun ia menyayangkan adanya denda, sebab hal itu belum diketahui masyarakat.

“Ini (denda) bagus, tapi apakah sudah ada persiapannya? Saya khawatir malah kebijakan ini akan memperumit penanganan sampah. Sebab pasti masyarakat asal buang. Kenapa? Karena belum ada TPS dan fasilitas pendukung,” kata Supriyanto. (*)

Editor: Timo Marten 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top