Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Meski langka, ini dua buku yang perlu dibaca mengenai konflik Bougainville

Karya Veronica Hatutasi sebaiknya dibaca berdampingan buku lainnya yaitu …As Mothers of the Land karya Marilyn Taleo Havini dan Josephine Tankunani Sirivi. – Development Policy Centre/ Australian National University

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Thiago Cintra Oppermann

Konflik Bougainville berisiko menjadi sejarah yang tidak banyak diketahui meski sangat kasatmata. Sedikitnya sejarah umum mengenai Konflik Bougainville menggentarkan pemula bidang sejarah yang ingin memahami konflik itu, sementara literatur lebih khusus yang ada biasanya berisikan lebih banyak pengetahuan tentang politik dan sejarah Papua Nugini dan tentang antropologi Bougainville. Selain itu, karena terpecah-pecah akibat konflik, yang merupakan ciri khas dari konflik itu sendiri, itu juga merupakan dari pencitraannya di luar Bougainville. Karenanya, laporan jurnalis dari periode tersebut sering bersifat tidak seimbang.

Strategi Papua Nugini saat mengepung pulau itu, menyusul blokade militer yang mencegah makanan, pasokan medis, dan bahan bakar memasuki Bougainville pada Maret 1990, lalu bertahan selama enam tahun, berarti gelombang pemberitaan saat itu sering kali diragukan, dan secara umum, berita tentang Konflik Bougainville sangat sulit untuk ditemukan.

Hampir dua dekade telah berlalu sejak perundingan yang menghasilnya perjanjian perdamaian dan menciptakan situasi yang mirip dengan keadaan ‘normal’ di pulau-pulau itu. Tetapi itu adalah ‘perdamaian yang rapuh’, seperti yang sering dikatakan tentang Bougainville. Sayangnya, keinginan untuk memelihara kedamaian ini, yang dapat dimengerti, juga telah menyebabkan keengganan untuk menulis apa-apa mengenai masa-masa yang menyakitkan itu.

Loading...
;

Ketidaktahuan kita tentang salah satu konflik yang paling terkenal di Pasifik sejak Perang Dunia II ini, sama dangkalnya dengan pengetahuan kita tentang keadaan sosial dan politik selama periode saat pemerintah PNG mengepung dan keluar dari Bougainville.

Dalam buku yang saya kaji saat ini, karya Veronica Hatutasi, Behind the Blockade, ia memberikan gambaran sekilas. Ini bukan sejarah umum, melainkan sebuah memoar pribadi. Ia bercerita tentang kehidupannya sebagai ibu muda dari empat anak yang berubah drastis akibat krisis itu.

Hatutasi memulai hidupnya di utopia, ia tinggal di Toniva, sebuah desa tepat di selatan Kieta, tetapi ketika kisahnya dimulai – putranya berseteru dengan sekelompok remaja jalanan – ini seolah memberikan peringatan di tengah-tengah kebahagiaan anak-anak yang bermain di pantai diiring alunan suara musik pop dan musik 1980-an. Segera setelah itu ramuan berbagai persoalan pun dimulai: pembangunan yang tidak merata, keluhan pemilik-pemilik tanah, dan aspirasi nasionalis, menghancurkan utopia Hatutasi.

Tidak lama setelah itu, suara senjata ditembakkan dan PNG meluncurkan serangannya yang kejam dan berdarah dingin; sejak itu, keadaan terus memburuk menjadi konflik tidak bisa dihindari. Saat krisis itu menyelimuti pulau Bougainville, ketika blokade PNG dihancurkan, keluarganya pindah ke Siwai. Fasilitas kehidupan daerah perkotaan hilang, dan, dalam halaman demi halaman narasi Hatutasi, layanan-layanan yang berharga dan keselamatan dari dunianya yang dulu itu sirna.

Prosa dalam bukunya nyaris bisa menutupi proses ganas dan berdarah dingin yang sedang berlangsung ketika masyarakat ditekankan hingga jatuh ke titik terendah: stok bahan makanan habis, dan Hatutasi menceritakan mengenai baterai terakhir di jam terakhir yang masih bisa dipakai untuk mengetahui waktu.

Dalam beberapa bab berikutnya, ia menceritakan situasinya yang terus memburuk. Ia mengisahkan tokoh pembawa damai seperti seorang pastor Katolik, Pastor Dario Monegatti, yang menawarkan dirinya untuk berkorban bagi orang-orang yang dituduh sebagai dukun; ia menggambarkan polarisasi dan perpecahan faksi-faksi yang semakin berkembang saat konflik itu berubah menjadi perang saudara antarorang-orang Bougainville sendiri. Ia sedikit menyinggung beberapa fakta kecil, tetapi sangat penting, seperti berlanjutnya sistem cash economy, munculnya rasa hormat yang mengkhawatirkan terhadap Francis Ona, nama yang menjadi lalu tabu, memberikan petunjuk bahwa rasa curiga telah meresap masuk ke dalam setiap bagian dari tatanan sosial di Bougainville.

Setelah membahas mengenai konflik itu, Hatutasi tiba-tiba beralih menulis sejenis buku harian untuk menceritakan pengalamannya selang apa yang ia sebut ‘krisis dalam krisis’, ketika faksi-faksi di Siwai mulai saling bermusuhan. Berbagai bentuk pemerintahan dicoba untuk mengganti vakum yang ditinggalkan oleh blokade yang hancur. Bagi penikmat sejarah yang membacanya, buku ini juga bermakna karena membuat posisi Hatutasi dalam konflik Bougainville semakin jelas – ia muncul sebagai peran antagonis terhadap tentara revolusioner Bougainville, Bougainville Revolutionary Army (BRA), dan dalam hal ini deskripsi Hatutasi sebaiknya dibaca berdampingan buku lainnya, …As Mothers of the Land karya Marilyn Taleo Havini dan Josephine Tankunani Sirivi, karena buku terakhir ini memiliki perspektif yang lebih pro-BRA. Dalam buku Sirivi dan Havini ini, komandan-komandan pasukan BRA memperlakukan masyarakat di daerah yang mereka kuasai dengan penuh tanggung jawab; sementara berdasarkan versi Hatutasi, masyarakat itu digambarkan sebagai tameng manusia. Pada akhirnya, blokade itu digambarkan sesuai yang didirikan oleh PNG, tetapi dikendalikan oleh BRA.

Pada Agustus 1992, Hatutasi serta keluarganya dievakuasikan ke Port Moresby. Sayangnya, dua bagian terakhir dari buku ini tidak eksplisit seperti bagian pertama. Hatutasi bekerja sebagai seorang jurnalis untuk koran Times of PNG yang sekarang sudah ditutup, menulis dengan nama pena Niko Numana. Saat itu, Hatutasi bekerja untuk melawan ‘propaganda BRA’. Saya tidak ingin menentang kesaksian Hatutasi ini, tidak masuk akal jika kita mengharapkan ada tulisan yang seimbang dalam sebuah memoar. Buku ini sangat terbuka, menyentuh, dan merupakan bacaan penting bagi mereka yang tertarik tentang sejarah konflik itu. Tetapi ketika mendekati babak-babak penutupnya, ia menjadi kurang teratur, dan kelengahan menjadi lebih serius: kehidupan orang Bougainville di Port Moresby selama periode konflik Bougainville itu sangat sulit, tetapi Hatutasi tidak menyampaikan fakta ini dengan tepat saat mengabadikan buku hariannya. Contohnya, tidak ada pembahasan apa-apa tentang hari-hari penuh ketegangan saat krisis Sandline terungkap. Hatutasi, berdasarkan pengakuannya sendiri, menulis dari pandangan yang berat sebelah. Buku ini diakhiri dengan uraian mengenai inisiatif perdamaian yang, terus terang saja, terlalu berlebihan.

Meski demikian, tidak mungkin kita tidak menyambut penerbitan sebuah memoar seperti ini tanpa rasa bersemangat: antusias karena orang-orang Bougainville menulis tentang krisis itu, karena perempuan-perempuan Bougainville menuliskan sudut pandang mereka.

Tetapi saya juga ingin menambahkan catatan saya sendiri pada kesempatan ini: ini adalah memoar pribadi dan harus dibaca selayaknya. Membaca buku ini sebagai sejarah faktual adalah kesalahan besar. Ia tidak memiliki landasan akademik dan pengecekan fakta yang cukup cermat untuk memuaskan pegiat sejarah. Namun saya berharap narasi seperti yang dituliskan oleh Hatutasi, setidaknya yang ada di awalnya, mendorong lebih banyak penulis, terutama penulis Bougainville, untuk menghadapi kepahitan masa lalu mereka, yang menyakitkan, penuh pertentangan, dan rapuh, namun sangat penting untuk dituliskan. (Development Policy Centre/ Australian National University)

Thiago Cintra Oppermann bekerja sebagai peneliti program State, Society and Governance in Melanesia (SSGM) di Australian National University.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top