Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Minim produksi jadi pemicu tingginya harga sapi di Kota Jayapura

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Jean Hendrik Rollo saat diwawancara – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Jayapura, Jubi – Minimnya pasokan sapi di peternakan lokal ditambah meningkatnya permintaan menjadi pemicu tingginya harga daging sapi di Kota Jayapura. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Jean Hendrik Rollo mengatakan, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pada 2018 lalu diketahui jumlah populasi sapi mencapai 5.000 ekor lebih.

“5000 ekor itu dibagi dengan rata-rata kepemilikan satu orang lima ekor sapi. Yang berternak sapi di Kota Jayapura ada 800 orang,” kata Rollo di Kantor Wali Kota Jayapura, Kamis (14/2/19).

Populasi tersebut tak sebanding dengan jumlah konsumsi daging sapi di Kota Jayapura per tahun yang mencapai 3.000 ton. Jumlah ini berdasarkan hasil pemantauan di kios daging di beberapa daerah seperti Kota Jayapura, Kabupaten Keerom, dan Kabupaten Jayapura.

“Kenaikan daging sapi dipicu akibat minimnya pasokan dari peternakan lokal. Kalau daging sapi sudah masuk dari luar pastinya bisa mempengaruhi harga daging sapi lokal,” tuturnya.

Loading...
;

Guna memastikan kebutuhan daging sapi peternakan lokal, pihaknya telah menyusun berbagai program strategis dengan memperkuat aspek pembenihan dan pembibitan untuk menghasilkan benih dan bibit unggul berkualitas. Salah satunya dengan kebijakan swasembada daging sapi. Ia berharap program ini bisa meningkatkan produksi daging sapi lokal sehingga mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Saat ini kami mulai dengan program upaya khusus sapi indukan wajib bunting,” jelasnya.

Salah satu peternak sapi lokal, Andi Ishak Teru mengatakan, faktor kenaikan disebabkan juga karena sulitnya mendapatkan daging sapi potong dari Rumah Potong Hewan (RPH). Ia juga meminta pemerintah untuk mengawasi permainan harga dari pengusaha yang menguasai daging impor maupun lokal agar harga jual daging sapi tidak tinggi.

“Saya selalu melakukan pembibitan setelah menjual. Produksi sapi lokal cukup hanya saja harga daging tinggi bisa jadi dipengaruhi dengan daging kiriman akhirnya konsumen menjadi pihak yang dirugikan,” ungkapnya.

Salah satu pemilik kios daging, Sukaryati mengatakan, dalam sehari bisa memotong satu hingga dua ekor sapi untuk permintaan daging giling. Ia berharap, pemerintah lebih meningkatkan produksi sapi lokal sehingga tidak lagi berharap pada sapi kiriman. (*)

 

Editor   : Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top