Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Misa syukur di Epouto, Pastor Yuvensius Tekege bilang ‘bangkit dan berjuang’

Pastor Yuvensius Auki Iyabii Tekege, Pr saat memberikan komuni pada misa syukur di Epouto,Minggu, (20/10/2019) – Jubi/Abeth You

 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Paniai, Jubi – Pastor Yuvensius Auki Iyabii Tekege, Pr kembali menggelar misa syukuran di Paroki St. Fransiskus Assis Epouto, Dekenat Paniai, Keuskupan Timika pada Minggu, (20/10/2019).

Perayaan itu merupakan lanjutan misa perdana yang dimulai dari Modio, Minggu lalu, (13/10/2019) .

Misa syukur didampingi Pastor Paroki St. Fransiskus Assis Epouto, P. Sebast Maipaiwiyai, Pastor Dekan Tigi, P. Damianus Adii, Pr dan Pastor Paroki Yagai, P. Santon Tekege, Pr.

Loading...
;

Dalam homilinya, Pastor Auki Iyakabii, panggilan akrab Yuvensius Tekege menegaskan orang asli Papua khususnya umat Katolik di Keuskupan Timika, sudah cukup lama tidur dalam keterpurukan yang panjang, karena itu diharapkan segera bangun, bangkit dan berjuang.

“Kita sudah cukup lama tidur. Jangan tidur terus. Sekarang kita tinggalkan hal-hal yang buruk seperti iri, benci, bawa atau simpan benda-benda yang membahayakan orang lain. Sudah tidak ada waktu lalu, bangkit dan berjuanglah dari saat ini,” ujar Pastor Yuvensius Auki Iyabii Tekege, Pr di hadapan ratusan umat Katolik dan jemaat Kingmi.

Pernyataan bangkit dan berjuang merupakan wujud dari nama adatnya ‘Auki Iyabii’ artinya Auki yang baru. “Inii idima dimi iya, kegepa iya, iyeepiyee iya artinya kita semua sekarang harus pikiran yang baru, hati yang baru, kebiasaan harus baru. Kita harus baru, mari berubah,” katanya.

Misa dimulai dari Modio naik ke Paniai karena di Modio merupakan satu penghormatan kepada mendiang Auki Tekege yang membawa misionaris Katolik, Pastor Herman Thillemans dari Kononau berjalan kaki ke wilayah suku Mee, Migani tahun 1935.

“Saya ke Modio duluan itu karena dua hal. Pertama sebagai penghormatan kepada mendiang Pastor Thilemans dan mendiang Auki Tekege. Karena melalui mereka dua Tuhan dan agama Katolik hadir,kita juga hidup dan berkembang biak sampai sekarang,” ujarnya.

Yang kedua, sesuai dengan petunjuk Allah Bapa pada tahun 2014, jika kelak ditahbiskan menjadi imam Katolik maka hendaknya pergi dahulu ke Modio dan terima pemberian nama adat dari sana.

Esau Tekege, perwakilan dari imam baru mengatakan, di tengah banyaknya imam Katolik yang dipanggil Tuhan juga makin banyak imam baru yang datang. Patah satu, tumbuh seribu.

“Memang anak kami Pastor Yuvensius menjalani tantangan yang cukup luar biasa. Itu setelah hilang jejak pasca tahbisan Diakonat tahun 2013 di Jayapura. Dia putus hubungan dengan kami, tidak ada komunikasi dengan kami kurang lebih lima tahun,” ujarnya.

Namun mereka dikagetkan Uskup Timika, mendiang Mgr. John Philil Saklil, Pr saat menghadiri ulang tahun paroki Epouto pada 4 Oktober 2018 lalu membawa pula Yuvensius Tekege dan mengumumkan bahwa Yuvensius putra asli Epouto telah dipindahkan ke Keuskupan Timika dan akan ditahbiskan tahun 2019.

“Dan benar, menjelang tahbisan imamat, Uskup Timika meninggal dunia. Ini duka bagi kami, tapi di balik itu datang juga suka cita besar untuk kami atas tahbisan ini,” ucapnya.

Pastor Paroki St. Fransiskus Assis Epouto, P. Sebastian Maipaiwiyai mengatakan, di tengah gejolak yang bertubi-tubi di tanah Papua banyak pula gembala-gembala yang datang menyelamatkan domba-dombanya.

“Terima kasih banyak umat Paroki Epouto, doa kalian dikabulkan Tuhan. Yuvensius ditahbiskan saat Papua lagi memanas. Tapi sesuai dengan nama adat dia (Yuven) maka kita harus hidup baru bersama para imam-imam yang baru,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top