Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mobil pedemo dibajak oknum Intel Polres Sorong Kota

Aksi Mahasiswa di Sorong yang kemudian dibubarkan paksa Polisi dengan cara membajak mobil bak terbuka tersebut – Jubi/Garda-P.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Tiga dari tujuh pemuda Papua, yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Sorong Raya, diduga “dilarikan”  oknum intel Polres Sorong Kota saat aksi pada Rabu (18/9/2019) siang.

Ketiga pemuda itu diketahui bernama Joni Bame, Yosep Syufi dan Yeheskel Kalasuat. Hingga berita ini ditulis, keberadaan tiga pemuda Papua itu belum diketahui.

“Kita tidak tahu mereka tiga dibawa kemana,” kata Natalis Yewen saat dihubungi Jubi, Rabu (18/9/2019) malam.

Natalis Yewen, yang juga Ketua Gerakan Rakyat Demokratik Papua (Garda-P) menjelaskan sekitar pukul 11.00 WP (Waktu Papua), mobil komando yang membawa tujuh orang itu dihadang oleh aparat kepolisian di Jalan Raya KPR Malanu.

Loading...
;

“Mereka (aparat) hadang di tengah jalan pake mobil patroli. Banyak polisi sama Brimob, bawa senjata lengkap,” jelasnya.

Beberapa saat kemudian, Naftali mengatakan, supir mobil komando diminta keluar dari mobil dengan alasan tidak memiliki SIM.

“Sementara bicara, nego, intel masuk start mobil. Di atas masih ada tujuh orang. Mobil itu dibawa ke arah kota. Kira-kira setelah 100 meter baru mereka sadar yang bawa mobil itu intel dan mereka berteriak minta tolong berulang kali,” jelas Naftali, yang mengikuti arah mobil komando itu menggunakan sepeda motor.

Lanjutnya, saat melintas di Kelapa Dua Aspen (asrama pensiunan) empat dari tujuh pemuda tersebut nekat melompat dari mobil.

“Mereka empat yang lompat. Dong (mereka) jatuh. Kita kejar terus sampai di depan kantor Wali Kota (Sorong), di situ sudah ada mobil patroli yang hadang. Kita kehilangan teman-teman di situ. Kita ke Polresta sama Korem tapi tidak ada mobilnya, entah ke mana, jadi kita kembali ke titik kumpul massa aksi lagi,” ujarnya.

Sementara itu, penangkapan juga terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan di lokasi berbeda, yakni di depan terminal Remu, Kota Sorong. Mereka diketahui bernama Alvindo Yesnat dan Mario Yumteng.

“Dua orang lain juga ditangkap di lampu merah sekitar jam 11 siang. Saat siap untuk berorasi, sambil pegang pamflet, kemudian satu truck dan satu barakuda yang membawa anggota Brimob mendatangi massa. Kemudian, dua anggota Brimob dengan senjata, langsung memegang orator (Mario Yumteng). Langsung dibawa ke kantor Polresta Kota Sorong,” ujarnya.

Saat itu juga, polisi dan brimob membubarkan massa aksi serta merampas megaphone dan pamflet tuntutan referendum.

Ketua Garda-P, Naftali Yewen menjelaskan tujuan aksi damai dari Solidaritas Masyarakat Sorong Raya, Rabu siang itu adalah menyatakan penolakan mereka terhadap rencana Presiden Joko Widodo untuk membangun istana Presiden RI di tanah Papua.

“Karena sebenarnya itu bukan keinginan rakyat Papua. Kita lihat ini hanya kepentingan sekelompok orang, seperti meminta pemekaran dan bangun istana negara di Papua. Itu bukan kebutuhan orang Papua hari ini. Yang kami minta, hanya referendem, tidak ada yang lain,” ucap Yewen.

Sementara, hingga berita ini diturunkan, Jubi berupaya melakukan konfirmasi ke Kapolres Sorong Kota AKBP. Mario Christy Siregar, namun belum mendapatkan jawaban. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top