Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Modal dua ekor sapi, kini beromzet puluhan juta

Seorang pedagang daging sapi di Kota Jayapura menimbang daging yang dipesan pembeli – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Ia memiliki 150 ekor sapi induk dan 20 ekor sapi jantan dengan lahan seluas tiga hektare di Koya, Kota Jayapura.

Bermodal dua ekor sapi induk, Ardan berhasil menjadi peternak sukses di Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Selama 10 tahun menjadi peternak sapi, kini usaha ternak sapinya beromzet jutaan rupiah.

Sebelum terjun ke usaha sapi, Ardan menjadi penjual ikan di Pasar Hamadi. Ia juga menjajakan dagangannya berkeliling di kompleks perumahan warga dengan sepeda motor.

Lalu ia memutuskan beralih beternak sapi dan berkat ketekunan serta kerja kerasnya, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut akhirnya sukses mengangkat ekonomi keluarganya.

Laki-laki asal Makassar, Sulawesi Selatan tersebut kini mampu membeli rumah, menambah lahan untuk peternakan sapi, hingga membuka kios daging sapi segar di Pasar Hamadi.

Loading...
;

Kini ia memiliki 150 ekor sapi induk dan 20 ekor sapi jantan. Ia memiliki lahan tiga hektare di Koya untuk memelihara sapi.

“Satu ekor sapi induk Rp25 juta, anakan Rp9 juta, kalau jantan ukuran besar Rp18 juta,” ujar Ardan kepada Jubi di Pasar Hamadi, Kamis, 5 Desember 2019.

Bapak tiga anak ini mengatakan sejak muda memang bercita-cita menjadi peternak sapi. Berjualan ikan hanya perantara untuk bisa melompat ke bisnis ternak sapi. Uang hasil jualan ikan tersebut ia kumpulkan sedikit demi sedikit untuk membeli dua ekor sapi induk dan lahan seluas satu hektare.

Berbekal ilmu yang dipelajarinya dari peternak sapi lain, Ardan dengan tekun melakoni profesi barunya untuk bisa menjadi peternak sapi sukses. Mulai dari pakan, kebersihan kandang, dan cara merawat sapi hingga menghasilkan sapi sehat dan berkualitas.

Ardan memegang prinsip tak pernah puas untuk belajar semua yang berkaitan dengan pemeliharaan sapi. Meski begitu ia mengaku kendala menjadi peternak sapi masih ada, di antaranya penyakit sapi, pakan ternak yang susah, hingga harga jual sapi yang turun.

“Setiap seminggu sekali saya panggil dokter hewan untuk periksa sapi saya dan sapi langsung disuntik obat, kalau makannya supaya banyak saya tambahkan air garam dengan cara ditaburkan di atas rumput,” ujarnya.

Melalui kreativitasnya agar pakan ternak sapi tetap tersedia, lahan seluas empat hektare dibagi dua untuk kandang dan lahan rumput untuk pakan. Bila kandang yang satunya mulai menipis rumputnya maka sapi dipindahkan ke kandang lainnya.

Untuk penggemukan sapi potong, dikatakan Ardan, dilakukan secara organik sehingga hanya dalam 100 hari bisa panen. Padahal proses penggemukan sapi potong pada umumnya berlangsung selama 4-6 bulan.

“Penggemukan ini untuk meningkatkan jumlah bobot sapi, memperbaiki kualitas daging, dan mencegah pemotongan sapi betina produktif,” katanya.

Ardan mengaku tak sekedar menjadi peternak sapi, tapi membagi ilmu cara memelihara sapi. Ia bahkan mengaku tak takut tersaingi karena Tuhan sudah mengatur rezeki setiap orang.

“Jadi peternak sapi harus kreatif dengan segala masalah yang ada, kalau tidak ya tidak akan maju-maju, petani atau peternak seperti kebanyakan tidak akan bisa menikmati jerih payahnya,” ujarnya.

Umumnya sapi milik Ardan dibeli saat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu ia juga membuka kios daging sapi.

“Harganya tidak sama dengan yang lain, kalau yang lain jual Rp120 ribu per kilogram saya bisa menjual Rp115 ribu karena dari sapi ternak sendiri,” katanya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Jayapura, Jean Hendrik Rollo, mengatakan populasi sapi setiap tahun di Kota Jayapura sekitar 1.000 ekor atau 15 persen dari kelahiran sapi betina induk.

“Dari 1.000 itu rasionya 50:50 atau 500 jantan dan 500 betina,” katanya.

Rollo mengatakan setiap tahun kelahiran sapi di Kota Jayapura cenderung naik dengan 800 orang peternak di Koya dan Skouw. Sapi betina yang cacat direkomendasikan untuk dipotong dan ada usaha meningkatkan produktivitas sapi betina induk.

“Setiap tahun ada kelahiran betina baru, tahun berikutnya menjadi betina produktif, betina induk bertambah karena umur reproduksi sapi betina yaitu induknya masih beranak dan anaknya juga masih beranak,” katanya.

Peningkatan populasi sapi Bali dan jenis limosin yang ada saat ini, kata Rollo, tak lepas dari penggunaan teknologi inseminasi buatan secara masif, yaitu dengan sistem perkawinan pada ternak sapi secara buatan atau mengawinkan sapi lokal dengan luar daerah.

Lalu, strategi perbaiki kualitas sapi hidup seperti menghindari kawin satu keluarga atau jantan lahir dari induk kemudian kawin dengan induknya yang menyebabkan fisik atau bobot ternak semakin kecil, serta mengatur jarak kelahiran.

“Kami terus melakukan pembinaan peternak sapi agar meningkatkan produksi sapi sehingga memenuhi kebutuhan sapi di Kota Jayapura,” ujarnya.

Untuk konsumsi sapi di Kota Jayapura setiap tahun 3.000 ton. Jumlah ini berdasarkan pantauan di 10 kios daging.

Menurut Rollo, meningkatnya permintaan sapi menjadi pemicu tingginya harga daging. Salah satu program untuk mengatasi kendala itu adalah melalui upaya sapi indukan wajib bunting. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top