Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

MRP ajak perempuan non-Papua untuk dorong perdamaian dan keadilan di Papua

Foto ilustrasi, lambang Majelis Rakyat Papua – Dok. MRP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dalam kunjungan kerjanya ke Kabupaten Keerom, Papua, pada 19-20 September 2019, Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua melibatkan orang non-Papua untuk berdialog dan mendengar persoalan yang dihadapi perempuan Papua. Langkah itu diharapkan akan memperluas keterlibatan perempuan non-Papua dalam mendorong keadilan dan perdamaian di Tanah Papua.

Ketua tim kunjungan kerja Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua (Pokja Perempuan MRP),  Siska Abugau menyatakan pelibatan perempuan non-Papua dalam dialog yang difasilitasi MRP pada Jumat (20/9/2019) dilakukan agar para tokoh perempuan non-Papua juga mendengar dan bisa memahami persoalan yang dialami perempuan Papua. Dalam kunjungan kerja di Keerom itu, Pokja Perempuan MRP menjaring masukan dan gagasan dari perempuan non-Papua.

“Sesuai dengan UU Otonomi Khusus Papua, biasanya kami [MRP] mengundang hanya orang asli Papua. Akan tetapi, kali ini kami mengundang semua perempuan, baik itu Papua dan non-Papua. Kali ini, kami undang [perempuan non-Papua] untuk mendengar, merasakan, dan turut mengambil peran bersama perempuan asli Papua menghadapi situasi dan pergumulan [Papua],”ujar Abugau dalam pembukaan dialog di Arso, Jumat.

Abugau menyebut suasana pertemuan dan dialog yang digelar Pokja Perempuan Papua menjadi berbeda berkat kehadiran perempuan Papua dan perempuan non-Papua yang saling berdialog. Terlebih, dalam pertemuan Jumat itu, para peserta diskusi membicarakan isu rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya, yang berujung dengan demontrasi, kekerasan, penangkapan, penahanan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap orang Papua di berbagai wilayah Tanah Papua maupun di luar Papua.

Loading...
;

“Kita di Keerom aman-aman saja, akan tetapi masyarakat adat Keerom yang jumlahnya hanya 9 ribu dari total 62 ribu penduduk Keerom [adalah bagian dari persoalan itu]. Anak-anak [asli Keerom juga] ada [yang sedang belajar] di luar [Papua], dan juga ada di sini,”ungkapnya.

Abugau menegaskan perdamaian dan keadilan di Tanah Papua menuntut siapapun tidak membangun benteng perlindungan bagi dirinya dan kelompoknya sendiri, lalu mengabaikan situasi orang di luar kelompoknya. Abugau menyebut semua kelompok masyarakat di Papua harus bersama-sama membangun langkah untuk menyelesaikan pergumulan orang asli Papua.

“Saatnya kita bersatu menciptakan keadilan dan perdamaian untuk Papua di Papua. Apa lagi sudah tanda tangan deklarasi perdamaian, jangan kita mengulangi [kekerasan yang sudah terjadi], supaya kita tidak bingung siapa yang salah dalam situasi Papua saat ini,”ungkapnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Keerom, Yuli Anderi mengatakan situasi ketidakadilan dan tindakan rasisme terhadap orang asli Papua sangat menyakitkan orang asli Papua. Kesatuan orang Papua dan non-Papua telah robek dalam sebulan terakhir.

“Kita bicara tadi ketidakadilan dan rasisme itu sangat  menyakitkan. Akan tetapi, mari kita merajut benang-benang kebersamaan itu bersama-sama, agar kita bisa menciptakan keadilan dan kenyamanan di antara kita,”ungkap Anderi dalam dialog itu.

Perwakilan perempuan non-Papua dari wilayah trans Arso  11, Rosmidar Murhan mengatakan dirinya sebagai perempuan non-Papua selalu berupaya menjalin hubungan dengan orang asli Papua di sekitarnya. Rosmidar dia, perjuangan mama-mama tersebut luar biasa, termasuk untuk berwirausaha.

“Kami cinta Papua. Kami mulai dengan mama-mama Papua yang [bermukim] di belakang rumah saya. Benar bahwa mama-mama berusaha berjualan, [jualan] yang  mereka bawa tidak laku. [Mereka berjuang susah payah untuk] memenuhi kebutuhan. Saya melihat, [salah satu kelemahan mama Papua untuk berwirausaha adalah] hitung-hitungan [dagang] yang salah,” ungkapnya.

Rosmidar sejak 2007 mengajar mama-mama Papua belajar berhitung dan membaca, dimulai dengan mengajari dua keluarga orang asli Papua yang tinggal di belakang rumahnya. “Saya buat kelompok belajar hitung, baca dan tulis. Mereka sudah bisa [berhitung dan baca-tulis], bisa menabung, dan ada yang sudah bangun rumah,” ungkapnya kepada jurnalis Jubi usai pertemuan dengan MRP.

Rosmidar berharap MRP mau lebih memperhatikan penangan situasi yang sederhana seperti pelajaran berhitung dan baca tulis bagi para mama-mama Papua. Hal itu penting, karena perempuan adalah pendidik utama yang bisa menyiapkan anak-anak mereka berhadapan dengan perkembangan dunia modern, dengan beragam situasinya. “Saya selaku non-Papua sangat bersedia untuk kerjasama membantu kalau MRP mau kerja sama sejauh itu ada jalur,” ungkapnya.

Yuspina Fatagur, perempuan asli Keerom, mengatakan perempuan dan orang asli Keerom tidak pernah menuntut apapun dari orang-orang dari luar yang mendatangi negerinya. “Kami tidak menuntut apa pun dari Anda. Karena kami adalah kamu, kamu adalah kami,” ungkapnya.

Fatagur menyatakan orang Keerom hanya minta agar masyarakat non-Papua di Keerom mau ikut mendorong keterlibatan perempuan asli Keerom dalam kontestasi politik seperti Pemilihan Umum atau Pemilihan Kepala Daerah di Keerom. Fatagur menyatakan hal itu penting, agar perempuan Keerom juga bisa ikut membicarakan dan menjadi penentu kebijakan pembangunan di Keerom.

“[Selama ini] kalian [perempuan non-Papua] yang muncul . Yang memilih kamu yang duduk di [lembaga legislatif termasuk kami orang asli Papua]. Lalu kamu bilang kami tidak bisa [menjadi anggota lembaga legislatif],” ungkapnya.

Asisten I Bidang Pemerintahan Kabupaten Keerom, Suchayo Agung Dwi Arianto mengatakan kunjungan kerja Pokja Perempuan MRP itu penting untuk mengangkat berbagai persoalan perempuan asli Keerom. “Kami sudah sampaikan sejumlah masalah yang kami hadapi. Angka kekerasan dalam rumah tangga yang tinggi, [tingginya tingkat konsumsi] minuman beralkohol, dan minimnya keterwakilan perempuan di parlemen,” ungkap Arianto yang berharap dialog MRP akan membuka semua pihak, khususnya perempuan Keerom untuk melihat persoalan yang ada. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top