Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

MRP digandeng Universitas Cenderawasih untuk dorong perdasus bahasa daerah

Foto ilustrasi, lambang Majelis Rakyat Papua – Dok. MRP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Majelis Rakyat Papua digandeng Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, untuk mendorong lahirnya peraturan daerah khusus tentang sastra dan bahasa daerah. Hal itu disampaikan Ketua Majelis Rakyat Papua Timotius Murib, di Jayapura, Selasa (6/8/2019) pekan lalu.

Murib menyatakan, selama ini para akademisi Universitas Cenderawasih telah lama memperjuangkan adanya peraturan daerah khusus tentang sastra dan bahasa daerah di Papua. “Mereka sudah berjuang lama. Mereka sudah punya rancangan peraturan daerah khusus tentang itu,” kata Murib.

Murib mengakui, selama ini Majelis Rakyat Papua (MRP) belum merespon ajakan Universitas Cenderawasih itu, karena terlalu disibukkan berbagai agenda lainnya. Murib menyampaikan permintaan maaf kepada Universitas Cenderawasih karena lambat merespon ajakan mendorong lahirnya peraturan daerah khusus (Perdasus) tentang sastra dan bahasa daerah.

“Kami minta maaf soal itu, kami merasa berhutang soal itu. Kewajiban kami untuk mendorong,”ungkapnya.

Loading...
;

Ia menyatakan MRP akan segera mengundang Universitas Cenderawasih untuk menjelaskan isi rancangan perdasus tentang sastra dan bahasa daerah itu. “Kami akan undang mereka presentasi dan kami punya kewajiban mendorong [rancangan] itu kepada Gubernur Papua dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua, agar bisa segera disahkan,”ungkap dia.

Murib mengakui, keberadaan perdasus tentang bahasa daerah dibutuhkan untuk menahan ancaman keterpunahan berbagai bahasa daerah di Papua. Ia menjelaskan ada banyak faktor yang menyebabkan berbagai bahasa daerah di Papua terancam punah, termasuk perkawinan antar suku yang berbeda bahasa. Anak yang lahir dari perkawinan antar suku di Papua kerap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian.

Faktor lainnya adalah pandangan bahwa bahasa daerah itu lambang keterbelakangan. Pandangan itu membuat banyak generasi muda di Papua tidak percaya diri untuk mempergunakan bahasa daerahnya, dan generasi berikutnya semakin kesulitan mendapatkan lingkungan yang memberi mereka kesempatan untuk belajar bahasa daerah.

“[Dahulu] anak-anak bisa belajar [bahasa daerah dari] nenek di rumah, tetapi [sekarang justru] nenek sering berusaha mengikuti bahasa Indonesia yang diketahui anak-anak. Ini masalah besar,” ungkapnya.

Murib berharap perdasus tentang sastra dan bahasa daerah nantinya dapat mendorong bahasa daerah menjadi kurikulum muatan lokal di seluruh Papua. “Kita harus dorong anak-anak sekolah dasar dan menegah belajar bahasa daerah di sekolah,”ujarnya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top