Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

MRP : Kekerasan di tanah Papua harus dihilangkan

MRP dan Tokoh Agama dalam diskusi menolak radikalisme Tanah Papua di aula Gereja KSK Nabire – Jubi/Titus Ruban.

Papua No. 1 News Portal | Jubi
Nabire, Jubi – Ketua Kelompok Kerja (pokja) Agama Majelis Rakyat Papua (MRP), Fransiskus Tekege menegaskan kekerasan di Tanah Papua harus dihilangkan. Karena yang menanggung akibatnya adalah masyarakat kecil yang tidak tahu menahu apa – apa.

“Mengingat ini berhubungan dengan visi misi MRP yaitu menyelamatkan Rakyat Orang Asli Papua (OAP) dan Tanah Papua. Itu mandat yang diberikan negara kepada MRP yang bukan dikarang – karang,” tegas Fransiskus Tekege dalam rapat koordinasi di Nabire oleh MRP dan tokoh agama dalam rangka meredam isu radikalisme dan rasisme di Tanah Papua, di aula Gereja KSK, Jumat (20/9/2019).

Dikatakan Tekege, dengan adanya diskriminasi, rasisme, radikalisme serta kekerasan dimana – mana terjadi saat ini harus diminimalisir. Ini merupakan tugas MRP dari Pokja agama.

“Melalui khotbah dan ceramah pemuka agama di tempat ibadah dapat diteruskan kepada umatnya. Agar hal – hal yang berhubungan dengan kekerasan, rasisme atau apapun itu harus dihindari. Agar masyarakat tenang, damai,” kata dia.

Untuk itu, saran dan masukan dari pemuka agama sangat dibutuhkan. Dan setelah kembali akan diplenokan di tingkat lembaga, setelah itu MRP akan mengeluarkan rekomendasi kepada Gubernur dan DPRP, lalu keluarlah sebuah keputusan yang bisa dijabarkan kepada kabupaten/kota agar mandat moral yang disampaikan bisa sampai ke masyarakat.

Loading...
;

“Hasil diskusi ini akan kami bahas dan merekomendasikan kepada Pemprov Papua dan DPDP,” katanya.

Pendeta Mordekai OILLA. S.Th, dari Gereja Kingmi menyarankan kepada semua pihak yang berkompeten untuk tidak mengeluarkan pernyataan yang berakibat provokasi dan memperkeruh situasi. Saat ini kata dia, tidak perlu saling menyalahkan. Semua menjadi korban.

Ia juga minta kepada aparat keamanan untuk menahan diri dan tidak berlebihan menanggapi posko mahasiswa di Nabire. Biarlah posko tetap ada untuk menampung mereka, kecuali ada tindakan keributan.

“Polisi tahan diri sebab mereka ini korban. Kecuali ada yang buat kacau. Kita semua pusing mereka di sana belum mau terima orang luar, jadi mari kita atasi dengan kepala dingin jadi jangan perkeruh situasi tapi cari jalan keluar,” sarannya.

Sampai berita ini diturunkan, Jubi belum berhasil menemuni mahasiswa yang telah kembali ke Nabire. Hal ini lantaran mahasiswa masih trauma dan belum ingin menerima tamu siapapun kecuali keluarga. Pemkab Nabire, DPRD Nabire bahwa pemuka agama juga belum mereka terima.(*)

Editor: Syam Terrajana

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top