Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

MRP kunjungi empat kota studi mahasiswa Papua di luar Papua 

Ketua Tim Kunjungan Majelis Rakyat Papua ke Kota Manado, Sulawesi Utara, Yoel Luiz Mulait memimpin pertemuan persiapan dengan para mahasiswa yang berkuliah di Manado. – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Merespon kasus persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019 lalu, Majelis Rakyat Papua mengirimkan tim untuk mengunjungi para pelajar dan mahasiswa Papua yang berkuliah di empat kota di luar Papua. Empat kota yang dikunjungi adalah Manado di Sulawesi Utara, Makassar di Sulawesi Selatan, Denpasar di Bali, dan Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Hal itu dinyatakan Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Timotius Murib melalui siaran pers yang diterima Jubi pada Selasa (27/8/2019). Murib menyatakan tim MRP akan mengunjungi keempat kota itu pada 26-30 Agustus 2019. Tim MRP akan mengumpulkan masukan dari para pelajar dan mahasiswa terkait kenyamanan dan keamanan mereka pasca insiden persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya.

“MRP juga menyampaikan maklumat Majelis Rakyat Papua Nomor 05/MRP/2019 tentang seruan kepada mahasiswa Papua di semua kota studi di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk kembali ke tanah Papua,” ungkap Murib dalam siaran pers itu.

Tim MRP juga akan menemui pemerintah kabupaten/kota maupun pemerintah provinsi tempat para pelajar dan mahasiswa Papua bersekolah, perguruan tinggi di masing-masing kota. Tim juga akan bertemu dengan para tokoh agama, tokoh pemuda, maupun tokoh perempuan guna membicarakan persekusi, diskriminasi, rasisme, maupun kekerasan terhadap hak asasi manusia yang kerap dialami pelajar, mahasiswa, maupun orang asli Papua di berbagai kota itu.

Loading...
;

Sebelumnya, pada 15-17 Agustus 2019, sejumlah mahasiswa Papua yang berada di Malang, Surabaya, dan Semarang mengalami intimidasi, kekerasan, persekusi, dan/atau rasisme. Kasus yang paling mencuat adalah pengepungan Asrama Mahasiswa Papua Kamasan III di Surabaya pada 16 dan 17 Agustus 2019. Massa yang mengepung asrama itu meneriakkan makian merendahkan, dan menyanyikan yel-yel untuk mengusir orang Papua dari Surabaya.

MRP menilai insiden persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya itu merupakan puncak gunung es dari fenomena diskriminasi dan rasisme terhadap orang asli Papua. “MRP menilai bahwa mahasiswa asli Papua yang bersekolah di berbagai perguruan tinggi di Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Manado, Makasar, dan Jakarta telah mengalami rasisme, persekusi dan bentuk-bentuk kekerasan hak asasi manusia lainnya,” demikian siaran pers MRP.

Secara khusus, MRP mencatat keterlibatan aparatur Negara dalam persekusi dan rasisme itu, terutama anggota TNI dan Polri. MRP menyatakan dalam lima tahun terakhir tindakan rasisme dan persekusi dari aparatur negara dan warga negara Indonesia terus meningkat, khususnya di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Jakarta, dan Makassar.

MRP menegaskan kesetaraan ras dan keadilan bagi mahasiswa asli Papua harus menjadi kepedulian semua pihak. Penegakan hukum yang tepat dan adil terhadap para pelaku rasisme dinilai dapat mencegah berulangnya tindakan diskriminasi, persekusi, dan rasisme terhadap mahasiswa asli Papua.

Merujuk Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia, Deklarasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tentang Hak-hak bangsa-bangsa Pribumi, maupun Konvensi PBB tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial, MRP menegaskan Negara Indonesia harus memastikan kesetaraan bagi semua warga negara. Negara diminta mengakhiri  kekerasan hak asasi manusia, khususnya persekusi terhadap mahasiswa asli Papua.

Pada tingkat yang lebih mendasar, MRP mengingatkan bahwa setiap orang harus menikmati semua hak asasi manusia tanpa diskriminasi dengan alasan apa pun. Perbedaan dalam perlakuan atau diskriminasi dengan alasan ras atau etnis tidak diizinkan, karena larangan diskriminasi rasial telah menjadi hukum positif di Indonesia, dijamin oleh konstitusi Negara, dan menjadi komitmen Indonesia kepada masyarakat internasional.

Majelis Rakyat Papua juga mendesak pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan kesetaraan kedaulatan, hak menentukan nasib sendiri orang asli Papua, dan hak untuk menikmati pembangunan sebagai hal mendasar dalam mencapai kesetaraan ras dan non-diskriminasi.

Rangkaian kekerasan, intimidasi, persekusi, dan rasisme yang dialami para mahasiswa Papua di Malang, Surabaya, dan Semarang pada 15-17 Agustus 2019 lalu telah memantik gelombang protes dan unjukrasa besar-besaran di berbagai kota di Papua maupun Papua Barat. Sejumlah amuk massa juga terjadi di sejumlah kota yang marah dengan perilaku rasis aparat keamanan dan organisasi kemasyarakatan di Surabaya.

Persekusi dan rasisme terhadap para mahasiswa Papua di Surabaya itu juga membangkitkan aksi unjukrasa dan solidaritas di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Palangkaraya, Bandung, dan Manado. Aksi solidaritas terhadap para mahasiswa Papua juga bermunculan di sejumlah kota di negara lain, seperti di Melbourne (Australia), Port Moresby (Papua Nugini), Dili (Timor Leste), maupun Manila (Filipina).

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top