Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

MRP menilai cara polisi umumkan identitas korban bisa timbulkan masalah baru

Foto screenshot video tayangan keterangan pers Kapolri Jenderal Tito Karnavian dari akun youtube metrotvnews – Screenshot/www.youtube.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Majelis Rakyat Papua menilai cara polisi mengumumkan identitas korban amuk massa di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua tidak tepat, karena justru menonjol-nonjolkan latar belakang etnis korban. Cara polisi menggolong-golongkan korban dalam kelompok “pendatang” dan “orang Papua” dikhawatirkan menimbulkan masalah baru.

Wakil Ketua I Majelis Rakyat Papua (MRP), Jimmy Mabel menyesalkan cara polisi mengumumkan korban amuk massa yang terjadi di Wamena pada Senin (23/9/2019) lalu. “[Polisi menyebut] korban dari sini dan [korban dari] situ, itu bisa memancing masalah baru,”ungkap Jimmy Mabel di Jayapura, Kamis (26/9/2019).

Mabel berharap seluruh pihak, termasuk pers, berusaha menjadi bagian dari upaya membangun perdamaian di Papua. Hingga kini, situasi di Papua tidak stabil, unjukrasa masih terus terjadi, dan korban jiwa maupun korban terluka terus berjatuhan. Jika semua pihak tidak memperhatikan upaya membangun kedamaian, solusi damai tidak akan tercapai.

“Mari kita ke depan merespon situasi [dengan] otak yang dingin dan sikap yang bijak. Karena semua orang ingin damai,” ungkap dia.

Loading...
;

Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Timotius Murib meminta Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian untuk tidak menggolong-golongkan korban dalam kelompok warga pendatang dan orang asli Papua.  Murib meminta Tito menghormati bahwa setiap korban adalah korban, apapun latar belakang etnis korban tersebut.

“MRP tidak setuju [jika korban kekerasan di Papua digolong-golongkan] orang asli Papua dan non-Papua. Korban peristiwa Wamena itu adalah korban, [terlepas dari latar belakangnya sebagai] orang asli Papua atau non-Papua,” sebagaimana dikutip dari Tempo pada Rabu (25/9/2019).

Murib menegaskan, penggolong-golongan korban berdasarkan latar belakang etnis bisa memibu konflik baru. Murib meminta polisi mengumumkan data korban dengan lengkap dan utuh, tanpa menggolongkan atau menonjolkan latar belakang etnis korban.

Saat menyampaikan keterangan pers di Jakarta pada Selasa (24/9/2019), Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian menyatakan hingga Selasa pukul 12.00 WIB terdapat 26 korban yang tewas dalam kerusuhan yang terjadi di Wamena pada Senin pekan ini. “Dari 26 orang itu, 22, tolong dicatat, adalah masyarakat pedatang Papua. 22 orang. Mereka ada yang profesinya tukang ojek, ada yang bekerja di restoran,” kata Tito dalam keterangan pers itu.

Tito juga menjelaskan ada empat korban meninggal dunia lainnya, yang disebutnya sebagai “warga Papua asli”. Dalam keterangan pers itu, Tito bahkan mengulangi dan menekankan, bahwa jumlah korban tewas berlatar belakang pendatang jauh lebih banyak dibandingkan jumlah korban tewas berlatar belakang orang asli Papua.

Kerusuhan di Wamena terjadi pada Senin, 23 September 2019, berawal dari unjukrasa para pelajar yang marah karena mendengar ada seorang guru menyebut muridnya kera. Hingga Kamis, jumlah korban yang diketahui tewas dalam amuk massa itu telah mencapai 31 orang. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top