Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

MRP: Perempuan harus menjadi aktor perdamaian dan persatuan Papua

Foto ilustrasi, lambang Majelis Rakyat Papua – Dok. MRP

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua atau MRP menyerukan agar perempuan Papua menjadi aktor dalam mendorong perdamaian dan persatuan Papua. Seruan itu disampaikan Kelompok Kerja Perempuan MRP saat berdialog dengan para tokoh perempuan dari lima wilayah adat di Provinsi Papua yang digelar di Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (19/9/2019).

Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan MRP, Orpa Anari selaku ketua tim menyatakan perempuan harus lebih berperan menciptakan perdamaian dan persatuan Papua. Anari menegaskan, perempuan perempuan itu semakin dibutuhkan pada masa penuh kegelisahan orang asli Papua menghadapi ujaran rasisme, berikut dengan unjukrasa anti rasisme yang berujung kepada penangkapan, penahanan, dan pembunuhan terhadap orang asli Papua.

“Kami sosialisasi dan menyampaikan seruan perempuan dalam upaya memperjuangkan persatuan dan keadilan dalam berdemonstrasi di Indonesia khususnya di Papua. Perempuan bisa menyampaikan kabar kedamaian dan mempersatukan,” kata Anari.

Anari mengundang setiap perempuan dari berbagai wilayah adat untuk menyerukan perdamaian dan persatuan Papua, karena peran perempuan sangat menentukan dalam membangun keadilan dan demokrasi di Papua yang bersatu dan damai. Ia menegaskan, daya jangkau perempuan dalam membangun persatuan dan perdamaian sangat strategis, termasuk dengan memulainya dari dalam keluarga.

Loading...
;

Akan tetapi, Anari juga menegaskan perempuan Papua bisa berperan lebih luas. “Kalau perempuan tidak berdiri di bara api, situasi akan berubah lebih panas.
Karena itu, perempuan harus menjadi pendamai dalam situasi orang tidak damai, ditangkap, disiksa, dan dibunuh,”ungkapnya.

Anggota Pokja Perempuan MRP, Pipina Wonda juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam dunia Papua yang lebih baik.”Saya percaya perempuan  itu manusia yang kuat,” ungkapnya sambil merujuk Alkitab Kejadian umat Kristen yang menceritakan kisah penciptaan alam semesta dan manusia.

“Tidak baik kalau hanya laki-laki [yang mengambil peran untuk membangun perdamaian dan persatuan di Papua]. Allah menciptakan perempuan, jadi perempuan yang membuat serta menjadi bagian sempurna dan baik. Perempuan harus berperan menciptakan Papua yang baik. Ingatkan pria yang banyak jual tanah dan injak-injak perempuan itu [untuk berhenti menjual tanah dan menginjak perempuan],”ungkapnya.

Yeki Nare, anggota MRP yang lain, keputusan-keputusan besar yang diambil dan dikerjakan kaum laki-laki harus diwarnai perspektif perempuan dan anak, sehingga perempuan harus mewarnai pengambilan keputusan itu. “[Yang bisa berperan bukan hanya] perempuan [yang] bersekolah. Perempuan [yang] mengurus keluarga, kemudian mengurus orang banyak karena keluarga itu, [juga bisa menjadi] basis perubahan [di Papua],” kata Nare.

Anggota MRP lainnya, Diana Matuan mengatakan apa yang kini sedang terjadi, termasuk berbagai kekerasan di Papua, di luar kehendak orang Papua. “Kita bersatu saja, itu sudah kekuatan membangun Papua yang damai,”ungkapnya.

Ketua Umum Ikatan Perempuan Adat Kabupaten Jayapura, Hana Wasanggai  bersama sepuluh peserta dialog menyampaikan masukan dan mendiskusikan sejumlah situasi terkini Papua. Wasanggai berharap MRP dapat berperan lebih dalam menangani mahasiswa dan pelajar Papua yang pulang karena rasa tidak nyaman bersekolah di luar Papua.

“Apa yang harus MRP kerjakan, dan apa yang kami harus lakukan untuk anak-anak kita? Mari kita selamatkan generasi kita ini,” ujar Wasanggai. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top