Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Mungkinkah berbicara tentang penderitaan Papua?

Ilustrasi pengungsi Nduga. -Jubi/Dok

Oleh: Soterus Pangguem

Pembicaraan tentang kemungkinan itu mesti berangkat dari pertanyaan: adakah bentuk-bentuk pengungkapan penderitaan dari akumulasi ingatan akan situasi ketidakadilan? Memang ingatan akan penderitaan pertama-tama tertimbun di dalam hati dan pikiran penderita dan dapat mewarnai seluruh hidupnya.

Maka, dapat dikatakan penderitaan adalah rasa sakit yang dialami manusia sebagai akibat dari ketidakadilan. Rasa sakit itu dialami ketika seseorang berada di bawah tekanan tidak terpenuhinya cita-cita kehidupan yang dianggap sebagai hak atau kewajibannya.

Keburukan

Penderitaan dan keburukan adalah dua situasi yang sama. Dalam kaitan dengan penderitaan, saya dapat mengatakan bahwa keburukan adalah sesuatu yang menyebabkan orang merasa atau menyebabkan penderitaan. Keburukan kontras dengan kebaikan.

Loading...
;

Seorang teolog dan filsuf, St. Agustinus mendefinisikan keburukan sebagai keadaan yang merugikan dan yang membuat orang dirugikan. Di dalam pengertian ini, kita boleh saja langsung menunjuk pada sejumlah peringatan yang dirayakan oleh masyarakat sebagai monumen ingatan yang paling berdaya guna.

Biasanya hari-hari bersejarah sering menyadarkan manusia akan sejarah atau peristiwa masa lalu yang kelam dan baik. Berbicara dalam situasi keburukan, orang Papua mengalaminya. Situasi buruk ini menjadi sebuah sejarah yang terus dikenang oleh generasi muda orang Papua.

Sejarah telah mengisahkan bahwa sejak terjadinya pergolakan antara Pemerintah Indonesia dan Hindia Belanda dalam perebutan wilayah Papua Barat (West Papua) telah terjadi situasi chaos. Situasi chaos itu menyebabkan orang Papua menderita atau menyebabkan penderitaan.

Filsuf Leibniz dan Immanuel Kant menyebutnya “keburukan moral”. Keburukan moral adalah keburukan yang ditimpakan manusia atas manusia lain, seperti, perang, ketidakadilan, kekerasan dan penindasan. Salah satu akibat dari keburukan adalah penderitaan.

Penderitaan ini menyebabkan manusia sakit, baik secara fisik maupun mental. Maka, penderitaan adalah rasa sakit yang dialami manusia sebagai akibat dari sesuatu yang merugikannya. Penderitaan dialami karena ketidakadilan, tekanan dan kekerasan. Peristiwa luar biasa yang pernah terjadi pada masa lampau akan menjadi seperti sebuah monumen peringatan.

Monumen peringatan

Tanggal 1 Desember adalah sebuah kompleks peringatan mendeklarasikan kemerdekaan Papua Barat di Hollandia (kini Jayapura). Pada 1 Desember orang Papua mengenang kembali para Pejuang yang mendeklarasikan kemerdekaan Papua yang dicita-citakan untuk membentuk sebuah negara yang berdaulat.

Pada 1 Mei orang Papua memperingati peristiwa bersejarah dimana secara resmi UNTEA (United Nation Temporary Executive Authority) menyerahkan kembali wilayah Papua Barat dari Belanda kepada Pemerintah Indonesia. Titik klimaks terjadi pada Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969, yang bagi kebanyakan orang Papua diyakini sebagai tindakan cacat hukum dan moral; sedangkan untuk Pemerintah Indonesia adalah sah secara hukum.

Peristiwa keburukan masa lalu itu menjadi sebuah momen yang akan menjadi monumen. Menjadi monumen karena orang Papua selalu mengingat kembali peristiwa keburukan masa silam yang penuh dramatis. Selalu dikenang sebagai cikal bakal lahirnya penderitaan dalam sejarah peradaban orang Papua.

Papua, memoria passionis

Situasi buruk itu mengusik pikiran kita dan menjadi agenda penting dalam tindakan kita. Kita mengingat penderitaan masyarakat pada masa lalu, masa kini dan mungkin masa depan. Memoria passionis bukanlah sekadar dikenang sebagai suatu aktivitas intelektual yang nostalgia dan selesai, tetapi pengenangan itu berdaya cipta bagi energi, semangat dan daya juang untuk menciptakan sesuatu yang baru yang lebih baik.

Salah satu dosen STFT Fajar Timur, Frans Guna Dosen dalam makalah seminar sehari yang diselenggarakan pada Rabu, 6 November 2019, mengatakan, bahwa pengalaman buruk yang dialami oleh orang Papua telah terjadi dalam kurun waktu yang panjang dengan intensitas yang tetap tinggi.

Situasi buruk itu hampir terjadi pada semua bidang kehidupan: pendidikan, ekonomi, sosial, politis, kultural, ekologis, dll. Hal yang paling banyak menyita perhatian dan menggugah rasa kemanusiaan kita adalah tampak begitu mudah orang mengalami penghinaan, pelecehan bahkan pembunuhan secara sadis.

Pengalaman akan kejahatan itu tidak terjadi satu atau dua kali, tetapi terjadi berkali-kali dalam kurun waktu yang lama. Banyak sumber mengatakan bahwa kekejaman itu bermula dari tahun 1960-an.

Bisa dibayangkan berapa ribu orang telah mengalami perlakuan yang tidak manusiawi itu. Kita bisa mengingat kembali peristiwa-peristiwa sedih (memoria passionis) itu yang penyelesaiannya hampir tidak pernah terdengar tuntas.

Keburukan yang masuk kategori kejahatan di Papua yang mungkin tampak lebih lunak tetapi daya bunuhnya tinggi adalah, pertama, terlantarnya pendidikan. Carut-marutnya sistem persekolahan yang hampir terjadi pada semua level;

Kedua, ekonomi masyarakat yang pada umumnya masih berpola “tangan-mulut” harus bersaing dengan ekonomi modern yang pada gilirannya menendang banyak orang Papua ke tepian pusaran pasar modal;

Ketiga, di bidang politik dan budaya muncul kelonggaran budaya yang berselingkuh dengan politik, lalu membuka ruang bagi outsider untuk menjadi “tokoh” di komunitas adat. Yang menjadi pembicaraan hangat dan diskusi pemerintah pusat dan pemerintah daerah saat ini adalah mengenai wacana pemekaran Provinsi Papua Selatan dan Papua Pegunungan Tengah.

Isu pemekaran provinsi lebih ditanggapi secara serius ketimbang berbicara dan melaksanakan proses penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM;

Keempat, di bidang ekologi, terjadi pembukaan lahan yang luas dan cenderung merusak lingkungan dan ekosistem yang ada. Padahal ekosistem ini sesungguhnya masih terkait erat dengan sistem kultur dan religi masyarakat setempat. Ini semua kejahatan karena melibatkan budi dan kehendak manusia.

Mengingat penderitaan (memoria passionis) di masa lalu itu baik, tetapi kalau tidak disertai dengan suatu langkah lain, maka ia akan dapat berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Langkah lain yang saya maksudkan adalah derita mesti dihadapi, bukan dijelaskan.

Derita harus dihadapi, bukan dijelaskan

Dari pengalaman hidup, ditemukan bahwa manusia dapat menghadapi penderitaan, melalui praksis solidaritas. Di hadapan penderitaan, orang-orang yang beriman kepada Allah Yang Maha Esa belajar bagaimana menghadapi penderitaan dengan melakukan karya-karya, baik secara rohaniah (spiritual), maupun secara konkret.

Kehilangan belas kasih berarti semakin menderita, karena penderitaan tidak untuk dienyahkan atau dijelaskan, tetapi dihadapi. Di hadapan kesalahan yang dapat dilakukan setiap pribadi, orang beriman harus mengakui dan menerima kenyataan kesalahan.

Begitu mudah para penguasa membuat kisah-kisah indah untuk mengaburkan atau menutup kejahatannya, serta menghilangkan tanggung jawab terhadapnya. Penderitaan dan kehancuran yang disebabkan oleh ketidakadilan akan semakin hebat jika manusia menyangkal dan mengingkari kesalahan yang diperbuat.

Jika kita terus menyangkal, kapan kita saling mengampuni dan bergandengan tangan membangun negeri ini? (*)

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

 

Editor: Timoteus Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top