HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Nando Fairyo: Persipura butuh tim analisa

Luciano Leandro (tengah) bersama Ronaldo Meisido (kiri) saat ikut match press conference lawan Persela – Jubi/Humas Persipura

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dua laga sudah dilalui tim Persipura Jayapura di Shopee Liga 1 musim 2019. Hasilnya tentu sudah kita ketahui bersama dimana pada laga perdana menantang Persib Bandung, Sabtu (18/5/2019), Mutiara Hitam menyerah 0-3.

Di laga kedua juga bermain tandang ke markas Persela di Stadion Surajaya Lamongan, Ian Kabes dan kolega berhasil membawa pulang satu angka usai menahan imbang 2-2, Laskar Joko Tingkir.

Dari dua pertandingan ini, sejumlah pihak memberikan pandang tetapi juga saran maupun kritik membangun kepada tim kebanggaan masyarakat Papua.

Mantan kapten Persipura, Ferdinand Fairyo, menilai dua musim terakhir tim berjersey merah-hitam ini kehilangan arah soal taktik tim. Sebab tanpa didampingi seorang asisten pelatih, sebagai teman diskusi, tapi juga pemberi solusi kepada pelatih kepala.

Loading...
;

“Dua tahun terakhir mulai musim 2018 dan musim ini, Persipura tanpa asisten pelatih,” katanya.

Musim lalu tanpa asisten pelatih, Persipura menjadi klub yang dikenal dengan tim jago gonta-ganti pelatih dan merosot hingga finish di urutan 12 klasemen Liga 1 pada akhir musim.

Soal skor akhir buruk pada laga perdana, mantan pelatih Persipura junior itu menyatakan hasil perdana laga perdana jangan dipandang adalah akhir dari perjalanan tim kebanggaan rakyat Papua.

“Hasil itu haruslah menjadi duri babi yang menyengat kaki kita yang sakitnya luar biasa, tapi jika dikenakan benda panas saat itu juga hilang,” kata Fairyo.

“Jadi jangan berpikir dulu buat tim kita, tapi mari bersama kita dukung Persipura di 17 partai kandang. Nantinya kita wajib sapu bersih dengan kemenangan sambil mencari celah di 16 laga tandang untuk meraih kemenangan,” ujarnya.

Nando biasa akrab disapa, mengajak semua elemen pendukung fanatik Persipura jangan cuma mau jadi pengeluh dan pencemooh semata, tetapi selalu jadi pendukung atau kekuatan ke-12 bagi tim lewat support atau suporter yang terus bernyanyi mendukung timnya. Hal itu yang kita lihat dilakukan Persib Bandung.

“Mari kita ambil sisi positif dari Bobotoh (pendukung fanatik Persib Bandung),” katanya.

Mantan pelatih PON Papua itu menggaransi bahwa Persipura adalah tim besar dan elit di Indonesia, tapi bisa juga kalah dari klub besar lainnya di Indonesia, sehingga sewajarnya kita jangan henti-hentinya memberikan dukungan.

“Mari kita dukung penuh tim kita di laga home (kandang) dengan merah-hitamkan seisi Stadion Mandala, karena itu yang dibutuhkan pemain saat ini,” katanya.

Terkait hasil positif di markas Persela, Nando apresiasi merupakan hasil yang bagus, karena tim mampu bangkit dari keterpurukan.

“Ini menandakan semangat pemain untuk bangkit dari kekalahan menunjukkan mental sudah kembali dan bakal terus melejit ke permukaan,” kata Nando.

Ia mencontohkan kehadiran pemain seperti Meisido di lini tengah sudah menunjukkan lini tengah Persipura bakal lebih variatif dengan tipikal pemain gelandang yang lincah dalam aksi individu, tinggal membenahi akurasi passing maka akan semakin baik.

Kembali Nando mengutarakan asisten pelatih memang sangat diperlukan untuk memberi masukan-masukan, tapi dalam sepakbola profesional seperti saat ini, sebuah tim hanya memerlukan seorang pelatih tunggal, karena tanggung-jawab dalam kontrak sudah jelas.

Jika tim sukses, pelatih aman tapi jika gagal berarti pelatih out posession.

Semua tergantung performa tim, bagus bertahan dan gagal ya harus out dan itu hal yang lumrah dalam sepakbola.

“Saya pikir manajemen siapkan tim analisa lawan yang sanggup berikan masukan kepada tim pelatih tentang kelebihan dan kelemahan tim lawan atau membentuk tim spionase (mata-mata) sehingga coach terbantu dalam meracik tim,” bebernya.

Nando mengevaluasi Persipura mudah dibobol lawan saat menit-menit akhir babak pertama dan kedua.

“Contoh di Lamongan kebobolan juga di menit-menit akhir. Artinya ada masalah yang harus dipecahkan supaya tidak terjadi ke depan lagi,” katanya.

Minimal mengurangi dampak kepada tim, tapi juga meminimalisasi situasi yang tidak berdampak kepada tim saat away (tandang) maupun home (kandang).

“Cara itu dipakai pelatih-pelatih besar seperti Jose Mourinho, Pep Guardiola, Jurgen Kloop, Guus Hiddink, dan lain-lain,” ujarnya.

Nico Dimo, anggota Exco PSSI Papua, yang juga mantan kiper Persipura menambahkan ada ketimpangan dalam formasi tim Persipura saat meladeni Persela.

Ia menganalisa pelatih Luciano Leandro belum mampu mengkolaborasi dan memadukan kekuatan pemain muda dan senior sebagai kekuatan mumpuni.

“Pelatih masih terpaku dan mempercayakan pemain senior dalam line up utama. Contohnya lawan Persela, hampir semua pemain yang menjadi starting eleven adalah pemain yang sudah berumur di atas 30 tahun, hanya Marinus Wanewar yang muda,” katanya

Situasi ini, kata Dimo, harus disiati dengan bijak. Artinya, dalam menurunkan formasi terbaik menghadapi tim lawan, pelatih harus berani memberi kesempatan pemain muda dengan porsi yang cukup mendampingi pemain senior.

“Sehingga kekuatan tim ada keseimbangan dan juga memunculkan rasa percaya pemain muda dalam menit bermain,” usul Nico Dimo. (*)

Editor: Angel Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top