Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Nelayan Nabire menggantungkan rezeki pada cuaca

Jumadi di depan jolor-nya – Jubi/Titus Ruban

NELAYAN di Nabire mengaku pendapatan mereka tergantung cuaca. Jika cuaca mendukung, tidak berangin dan berombak, pendapatan mereka per bulan bisa melebihi target, dua kali lipat dari modal sekali melaut. Namun jika sedang angin dan ombak, bisa saja merugi.

Samsudin, 45 tahun, nelayan Nabire asal Makassar mengatakan, dalam sebulan biasanya ia melaut empat kali. Sekali melaut menghabiskan waktu dua hingga empat hari.

Modal sekali melaut bisa Rp3 juta atau sebulan sekitar Rp12 juta. Modal tersebut untuk bahan bakar minyak, membeli es batu, persediaan makanan, dan rokok.

“Jika cuaca bersahabat saya bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp4 juta sampai Rp5 juta, itu tergantung cuaca, kalau cuaca tidak bersahabat bisa juga rugi, karena kami terpaksa kembali berlabuh menunggu cuaca baik,” katanya kepada Jubi, Senin, 18 Maret 2019.

Jika penghasilan bagus, setelah menyisihkan modal, ia membagi keuntungan dengan dua anak buahnya.

Samsudin menjadi nelayan sejak 1991. Kala itu ia hanya memiliki jaring. Berkat menabung, kini dia sudah memiliki sebuah Jolor (perahu kayu). Ia melengkapi jolor-nya dengan 10 unit kotak pendingin (cool box) dan perlengkapan lainnya.

Loading...
;

“Sepuluh cool box itu belum tentu semuanya terisi dengan hasil tangkapan,” katanya.

Hasil tangkapannya adalah ikan somasi dan ikan sembilan. Untuk ikan sembilan ia menjual Rp1,2 juta per cool box. Sedangkan ikan somasi Rp80 ribu per ekor.

 ”Saya hanya mencari, hasilnya dijual ke penadah, pemborong ikan, mereka yang menjual ke pasar,” ujarnya.

Samsudin mengaku pendapatannya sebagai nelayan sehari-hari digunakan membiayai membiayai keluarganya, istri dan dua anak.

Terkadang keluarganya mengeluh jika ia kembali dari melaut tidak mendapatkan hasil.

“Tapi bagi saya itulah rezeki, banyak sedikit perlu disyukuri, jadi kendala kami nelayan hanya tergantung cuaca dan rezeki saja,” katanya.

Nelayan lain, Daeng Tarang memiliki bagan dengan delapan karyawan di Kwatisore, Nabire. Hasil tangkapannya biasanya cakalang, mumar, dan kombong.

Ia mengaku dalam sebulan dua kali melaut. Modal sekali melaut Rp5 juta atau sebulan Rp10 juta.

“Untung-rugi tergantung cuaca, kalau hasil bagus saya akan keluarkan modalnya dan sisanya dibagi sembilan,” katanya.

Dia menjual hasil tangkapannya per cool box Rp1,2 juta. Jika cuaca bagus penghasilanya bisa Rp10 juta sekali melaut.

“Namun jika cuaca tidak bersabahat, modal pun bisa tidak kembali,” katanya.

Daeng Tarang mengaku sangat mencintai profesinya dan enggan baning stir ke pekerjaan lain, meskipun terkadang dalam sebulan belum tentu rutin dua kali melaut.

“Walau kadang tidak ada hasil dan sebulan hanya turun sekali karena lebih banyak istirahal karena faktor cuaca, tapi saya sudah nyaman dan tidak mau cari kerjaan lain,” katanya.

Salah satu alasannya karena di Nabire hampir semua jenis ikan tangkapan pasti habis terjual. Langganannya selalu mencari ikan jenis apa saja.

Nelayan lainnya, Jumadi, mengaku setahunya pendapatan per bulan semua nelayan umumnya sama. Ia memilih menangkap ikan mujair di muara Sungai Wapoga.

“Kalau sekali keluar hampir sama dengan teman lain, Rp4,5 juta untuk bahan makanan dan perlengkapan lainnya,” katanya.

Pendapatannya juga tergantung cuaca. Jika sungai sedang banjir ia tidak bisa menjaring di muara Wapoga.

“Kadang dari sini cuaca bagus, tapi sampai di sana cuaca berubah, hujan dan banjir, akibatnya kami tidak bisa mencari ikan,” ujarnya.

Jumadi mengatakan, saat ini kendala yang dihadapi nelayan di muara Wapoga adalah penduduk setempat melarang mereka menangkap ikan.

Pelarangan, menurut Jumadi, karena penduduk setempat cemburu karena tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah, terutama dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Bantuan tersebut mereka nilai tidak merata dan tidak tepat saran.

“Penduduk di sana marah karena katanya ada pengusaha, pemilik motor nelayan yang menerima bantuan viber dan mesin jonson, padahal dia pemilik modal,” katanya.

Karena itu ia menyarankan agar pemerintah memperhatikan nelayan lokal. Pemerintah harus melakukan survei lapangan sehingga bantuan yang diberikan tidak salah sasaran. Menurutnya jika nelayan lokal hanya diberikan mata kail, nilon, dan alat pancing, mereka tidak akan bisa menggunakannya untuk melaut.

“Saya kadang kasihan sama penduduk lokal, jadi pantas saja mereka cemburu, imbasnya kami beberapa orang tidak bisa mencari ikan, sebab mereka larang, jadi saya harap pemerintah lebih memperhatikan nelayan lokal dengan peralatan yang lengkap daripada memberikan bantuan kepada kami yang sedikit punya modal,” katanya.

Ketiga nelayan tersebut mengaku, walaupun sudah mendapatkan kartu nelayan namun mereka belum mendapatkan bantuan dari dinas terkait seperti yang diterima nelayan lain. (*)

Editor : Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top