Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Noken UNESCO di wali kota

Ki-ka: Ketua Noken Foundation Titus Kris Pekei, Sekda Kota Jayapura Frans Pekey, dan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Dunia sudah mengakui noken sebagai warisan budaya orang asli Papua. Pemerintah daerah pun harus memberdayakan mama-mama penjual noken. Semua pihak harus bahu-membahu melestarikan noken. Bila perlu menanam pohon sebagai bahan baku”

Ketua Noken Foundation, Titus Kris Pekei, memberikan penghargaan noken UNESCO kepada Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, saat apel pagi, Senin, 24 Juni 2019.

Pekei yang menggagas dan membawa noken ke UNESCO di Paris, Prancis, 4 Desember 2012 itu beralasan, noken sebagai alternatif atau pengganti kantung plastik di Kota Jayapura. Wali kota menerima penghargaan ini dalam kategori pemerintah daerah.

Benhur Tomi Mano, katanya, berjasa atas upayanya mengeluarkan kebijakan melalui instruksi wali kota untuk melestarikan noken.

“Bapak Wali Kota Jayapura terima penghargaan noken UNESCO tradisi Papua kategori pejabat daerah yang komitmen melestarikan noken,” kata Pekey, kepada Jubi di Jayapura, Kamis, 27 Juni 2019.

Loading...
;

Tak hanya itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura, Frans Pekey juga diberikan buku cermin noken Papua, buku pengembangan muatan lokal noken Papua, tingkat PAUD, SD, SMP, dan SMA/SMK, serta buku “Sang Penggali Noken”.

“Ini merupakan dukungan (apresiasi) Yayasan Noken kepada pemerintah kota. Sekaligus surat menjadi mitranya ke depan,” kata Titus.

Pada kesempatan tersebut, Titus Pekei menjelaskan sejarah panjang perjalanan noken, hingga diakui dunia melalui UNESCO.

Berdasarkan Konvensi UNESCO 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda, noken terdaftar dalam kategori “Membutuhkan Perlindungan Mendesak” menurut Pasal 17 Konvensi 2003.

Penelitian yang dilakukan Tim Nominasi Noken ke UNESCO dimulai pada 5-23 Februari 2011 di lima wilayah adat Papua, seperti Mamta, Lapago, Meepago, Saireri, dan Bomberai.

Sidang verifikasi hasil penelitian noken pertama dilakukan di Hotel Yasmin, Kota Jayapura, Provinsi Papua, 16 Februari 2011, dan sidang verifikasi kedua dilakukan di Hotel Mariyat, Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, 22 Februari 2011.

Itu merupakan riset pengamatan, pencatatan, wawancara, kondisi perajin mama-mama, pengguna noken, pembuat noken dan bahan baku noken yang memprihatinkan dikuasai bahan sintetis.

“Kami atas nama lembaga Ekologi Papua dan Yayasan Noken apresiasi upaya pemerintah kota ‘noken sebagai tas alternatif pengganti kantong plastik’ dengan Instruksi Walikota Nomor 1 Tahun 2019,” ujarnya.

Dia mengatakan DPRD Kota Jayapura dan DPR Papua mesti menindaklanjuti instruksi tersebut dengan membuat Perda Kota Jayapura dan Provinsi Papua.

Selain noken, dan buku, Titus juga memberikan kaus gerakan noken Papua Warisan Dunia, tiga warna: hijau (simbol lestari), merah (simbol berani), dan hitam (simbol siaga dalam mengawal instruksi).

Awalnya, Titus berencana memberikan penghargaan kepada pihak-pihak terkait, terutama pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota, media massa, dan aktivis, serta universitas-universitas, pada peringatan hari noken, 4 Desember 2018. Namun, upaya itu urung dilakukan.

Meski demikian, dia berpesan agar sejumlah pihak memberikan sumbangsih bagi pelestarian noken.

Fotografer dan Ketua Komunitas Papuansphoto,Wens Tebay, mengatakan pemberian penghargaan kepada wali kota merupakan sebuah langkah baik yang dilakukan penggagas noken ke UNESCO, Titus Pekei.

“Saya pikir sudah saatnya pemerintah, dalam hal ini wali kota, memberikan apresiasi dukungan balik kepada Pak Titus sebagai orang yang mau menjaga, dan mengangkat budaya orang Papua, karena budaya Papua semakin punah,” kata Wens Tebay.

Menurut Tebay, bentuk apresiasi pemerintah kepada penggagas, yaitu dengan memberlakukan museum noken di Expo-Waena, Distrik Heram, untuk dikelola sepenuhnya oleh Titus Pekey.

Museum Noken Papua diresmikan pada 10 April 2013. Peletakan batu pertama pembangunan museum dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh dan Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal. Namun, hingga kini bangunannya tidak terawat.

“Karena sejak didirikan museum itu belum ada isi di dalam hingga saat ini,” ujarnya.

Dia juga berpendapat agar ada pengembangan ekonomi mikro kecil kepada perajin noken, sehingga mereka tetap merajut noken.

“Bahan-bahannya perlu dibudidayakan, sehingga tidak hilang akibat kerusakan hutan, karena bahan dasar noken biasanya di ambil dari hutan,” katanya.

Dunia sudah mengakui noken sebagai warisan budaya orang asli Papua. Pemerintah daerah pun harus memberdayakan mama-mama penjual noken. Semua pihak harus bahu-membahu melestarikan noken. Bila perlu menanam pohon sebagai bahan baku.

Pemerintah juga harus membudidayakan pohon dan tanaman baku pembuatan noken.

Selain itu, upaya pelestarian noken dilakukan dengan melestarikan dan melindungi hutan, dan membuat kurikulum lokal tentang noken. (*)

Editor: Angela Flassy

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top