Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

ODHA, mereka adalah saudara-saudari kita

Daniel Lau, mahasiswa Pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua – Jubi/Dok. Penulis

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Daniel Lau

Mereka kadang duduk menyendiri sambil memandang keindahan alam di sekitarnya. Kadang pula mereka duduk sambil menghadap ke timur untuk menikmati terbenamnya sang surya. Tak jarang juga mereka duduk sambil merenung.

Entah apa yang mereka renungkan? Sebuah penyesalankah? Atau sebuah penantian akan waktu untuk kembali ke pangkuan Ilahi?

Mereka bermenung terus-menerus dan berusaha untuk menerima realitas yang terjadi pada dirinya. Itulah irama hidup yang terjadi pada beberapa orang dewasa yang menderita penyakit HIV/AIDS di Rumah (Hospice) Surya Kasih Perumnas 2 Waena.

Loading...
;

Namun ada juga dua anak kecil yang kadangkala bermain di halaman Hospice Surya Kasih. Keceriaan mereka berdua seolah-olah mengungkapkan bahwa mereka juga memiliki hidup. Hidup yang perlu diisi dengan kebahagiaan bersama dengan orang lain. Sayangnya kedua orangtua mereka telah berpulang ke pangkuan Sang Khalik karena HIV/AIDS.

Cerita singkat itu merupakan pengalaman penulis yang kadangkala ikut merawat dan mengunjungi para penderita HIV/AIDS di Hospice Surya Kasih Perumnas 2 Waena, Jayapura. Penulis sendiri merupakan salah satu anggota dari pengelola Hospice Surya Kasih ini.

Hospice Surya Kasih merupakan sebuah rumah yang dibangun oleh para Fransiskan (biarawan Katolik) untuk membantu merawat orang-orang yang menderita penyakit HIV/AIDS. Para penderita ini ada yang mengalami penolakan dari anggota keluarga lainnya. Rumah (Hospice) Surya Kasih ini saat ini menampung sekitar 8 pasien ODHA.

Di luar Hospice, ada beberapa pasien ODHA yang ditangani tetapi mereka tinggal bersama keluarganya. Mereka datang dan berkumpul bersama pasien lainnya untuk saling menguatkan dan kadangkala berkumpul bersama untuk mengembangkan keterampilan mereka, misalnya merangkai taplak meja pada hari tertentu.

Penyakit HIV/AIDS dan penularannya

Penulis bukanlah seorang petugas kesehatan yang menangani penderita HIV/AIDS. Penulis adalah pemerhati masalah sosial. Maka untuk menjelaskan tentang penyakit yang sangat ditakuti oleh kalangan masyarakat umum, penulis menjelaskan sejauh yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Tulisan ini juga bukan bertujuan untuk mengulas penyakit HIV/AIDS, melainkan membantu masyarakat umum untuk mengubah pandangan terhadap para penderita HIV/AIDS, yang juga adalah anggota keluarga dekat kita, saudara kita dan sesama kita. Mereka perlu diberi perhatian agar mampu menanggung penderitaan ini hingga sang maut menjemput mereka. HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan jenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Dalam hal ini virus menyerang sel darah putih yang merupakan bagian penting dalam sistem kekebalan tubuh. Virus ini menyerang dan mengakibatkan sel darah putih berkurang dan lama-kelamaan sistem kekebalan tubuh menjadi lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi dan kanker.

Sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV. Dengan demikian penyebab AIDS adalah HIV yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh.

HIV hanya ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran cairan tubuh seperti cairan darah, air mani (cairan sperma), cairan vagina, dan air susu ibu (ASI). Oleh karena itu, HIV akan menular melalui darah yang mengandung HIV, hubungan seks yang tidak aman/berisiko dengan orang yang terinfeksi HIV (berganti-ganti pasangan), jarum suntik narkoba yang terinfeksi HIV, ibu hamil yang mengandung HIV kepada janin yang dikandung, dan ini terjadi pada janin saat kehamilan, kelahiran dan menyusui, transfusi darah yang terinfeksi HIV, kontak darah dengan darah yang terinfeksi HIV.

HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk, tinggal satu rumah, berpegangan tangan atau berpelukan, makan/minum bersama satu piring/satu gelas, tidur bersama, melalui napas, membuang ingus, batuk, meludah, memakai kolam renang bersama. Oleh karena itu, hidup bersama dengan orang HIV positif bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Secara umum, tanda-tanda utama yang dilihat pada seseorang yang sudah sampai pada tahapan AIDS adalah berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat, demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan), diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan). Sementara itu, si penderita juga mengalami batuk berkepanjangan (lebih dari satu bulan), kelainan kulit dan iritasi (gatal), infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan, pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah telinga, leher, ketiak dan lipatan paha (Disadur dari bahan yang disusun oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, 2014, hal.6-8).

Pantaskah mereka harus dikucilkan?

Dalam kehidupan bermasyarakat, bila ada orang yang meninggal, maka kadangkala sebagian orang bertanya tentang alasan ia meninggal. Misalnya kapan ia meninggal? Apa yang membuat dia meninggal?

Bila orang yang meninggal karena menderita penyakit HIV/AIDS, maka jawaban yang diberikan oleh keluarga atau tetangga adalah ia meninggal karena penyakit “3 huruf”. Yang dimaksud dengan penyakit tiga huruf adalah penyakit HIV/AIDS.

Bagi sebagian orang, para penderita HIV/AIDS bukanlah pribadi yang menakutkan. Namun bagi sebagian masyarakat, ODHA merupakan pribadi yang menakutkan. Pertanyaannya apakah pribadi ODHA yang menakutkan ataukah penyakitnya? Intinya adalah menakutkan.

Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan banyak orang dan hingga sekarang belum ditemukan obat untuk menyembuhkan. Hal ini sangat menakutkan bagi masyarakat yang kurang memahami penyakit tersebut. Karena itu, bila ada sanak keluarga atau tetangga yang menderita penyakit HIV/AIDS, maka mereka harus dijauhkan, bahkan dikucilkan dari keluarga dan tetangga sekitar.  Padahal para petugas kesehatan dan Komisi Penanggulan AIDS (KPA) telah menyosialisasikan tentang penyakit tersebut dan telah dikatakan di atas, bahwa hidup bersama dengan orang yang menderita penyakit HIV/AIDS bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Pertanyaannya, apakah mereka (para penderita HIV/AIDS) pantas untuk dikucilkan dari lingkungan sekitar? Bila kita bertanya pada mereka: Apakah mereka menginginkan penyakit tersebut pada diri mereka? Jawabannya tentu mereka tidak menginginkan penyakit tersebut. Mereka pasti menginginkan tubuh mereka terhindar dari penyakit tersebut. Mereka juga ingin hidup sehat seperti kita yang lainnya.

Jika kita mendekati mereka dan bertanya tentang penyakit yang dideritanya, tentu mereka memberikan jawaban yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa penyakit tersebut tertular dari pasangannya, entah suami/istri yang telah melakukan hubungan seksual dengan penderita HIV/AIDS sebelumnya. Ada juga yang tertular penyakit tersebut karena kelalaiannya sendiri seperti melakukan hubungan seks di luar nikah, melakukan hubungan seks tanpa menggunakan kondom. Ada juga yang mengalami penyakit tersebut karena transfusi darah orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Itu yang terjadi pada orang-orang dewasa. Sedangkan pada anak-anak, mereka tertular karena orangtua mereka misalnya tertular dari ibu karena ASI dan sebagainya.

Berhadapan dengan jawaban-jawaban yang mereka berikan, pantaskah kita menghukum mereka dengan mengucilkan mereka dari lingkungan kita? Anak-anak yang menderita penyakit HIV/AIDS, apakah mereka harus dikucilkan bukan karena salah mereka? Ataukah kita perlu menerima mereka dan merawat mereka seraya mendorong mereka untuk terus bertahan hidup dengan mengingatkan mereka untuk selalu minum obat ARV?

Mereka membutuhkan dukungan dari kita.  Maka pantaskah kita mengucilkan mereka? Sebagai sesama manusia kita harus menjaga, merawat dan mendukung mereka. Dari berbagai aspek mereka pun memiliki derajat yang sama dengan kita.

Segi sosial: Mereka adalah makhluk  sosial

Dari segi sosial, manusia dikatakan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial ia hidup bersama dengan orang lain. Dalam hidup bersama dengan orang lain, ia memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan sesamanya. Undang-undang mengatur tentang hak dan kewajiban setiap manusia. Setiap orang berhak untuk memperoleh kehidupan. Setiap orang berhak untuk mengeluarkan pendapat dan sebagainya.

ODHA juga adalah manusia. Sebagai manusia, ODHA juga berhak untuk mendapat pelayanan kesehatan. Karena itu, sebagai sesama manusia kita perlu memberi perhatian kepada ODHA.

Perhatian itu bisa berupa menerima mereka dalam hidup kita. Perhatian lain yang bisa kita berikan adalah mengunjungi dan memberikan dukungan untuk mereka bertahan hidup. Sebagai sesama manusia kita harus menerima mereka dan bukan mengucilkan.

Segi spiritualitas: Mereka adalah saudara-saudari kita

Hampir semua agama di dunia, khususnya di Indonesia mengakui bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia dikaruniai akal budi dan kehendak. Para penderita HIV/AIDS juga merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Entah apa pun agamanya mereka semua adalah makhluk ciptaan Tuhan.

Sebagai sesama ciptaan kita pantas menghargai mereka. Bentuk penghargaan kita terhadap mereka adalah memberikan kebebasan kepada mereka untuk mengekpresikan hidupnya. Kebebasan yang diberikan adalah dengan tidak mengucilkan mereka, apalagi menjauhkan mereka dari semua orang. Sebagai orang beriman tentu kita akan terus menerima mereka sebagai bagian dari hidup kita. Kita menerima mereka sebagai saudara dan saudari yang perlu dibantu. Selamat memperingati Hari AIDS Sedunia, 1 Desember. (*)

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura dan biarawan Fransiskan Papua

Editor: Timo Marten

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top