Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Orangtua korban banjir senang biaya pendidikan digratiskan

Murid SD Inpres Hawai Sentani, Kabupaten Jayapura – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Bupati Jayapura mengimbau sekolah membebaskan biaya pendidikan untuk siswa korban banjir bandang Sentani. Tapi ada sekolah yang sudah duluan membebaskan biaya pendidikan.

Dampak banjir bandang yang melanda Sentani, Kabupaten Jayapura pada 16 Maret 2019 dirasakan cukup lama oleh para korban yang rumahnya beserta fasilitas umum rusak.

Sebagian siswa, mulai SD hingga SMA, tidak dapat melakukan aktivitas belajar mengajar seperti biasa. Penyebabnya karena perlengkapan sekolah mereka hilang dan rusak terendam banjir.

Dengan kondisi seperti itu, Pemerintah Kabupaten Jayapura membuat edaran ke sekolah untuk membebaskan siswa yang terdampak banjir bandang dari biaya sekolah.

Loading...
;

Meski begitu, ternyata sebelumnya sebagian sekolah sudah berinisiatif mengambil kebijakan membebaskan biaya pendidikan bagi siswa korban banjir bandang.

Kepala SD Inpres Hawai Sentani, Kabupaten Jayapura, Tiarly Samosir, mengatakan pihaknya telah menerima surat edaran dari bupati untuk membebaskan biaya pendidikan bagi anak didik yang terdampak banjir-bandang.

“Tapi bagi kami imbauan tersebut bukan sesuatu yang luar biasa, karena kami di sekolah ini sudah menerapkan pembebasan biaya kepada anak didik sejak 2015,” katanya kepada Jubi.

Tiarly menjelaskan semua biaya pendidikan sudah digratiskan berkat dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Semua anak ditanggung dengan dana BOS.

“Mau banjir kah mau tidak banjir kah, tidak berpengaruh pada kami, karena kami sudah gratiskan anak-anak dengan adanya dana BOS,” katanya.

Tiarly mengatakan orangtua murid juga tidak dibebani biaya apapun selama anaknya sekolah di SD Inpres Hawai.

“Siswa hanya membayar uang baju batik saja ketika masuk sekolah, selain itu tidak ada lagi,” katanya.

Kepala SD Inpres Kemiri Sentani, Lucia Viktoriana Kopeuw, mengatakan sejak kejadian banjir bandang, sekolah sudah memahami kondisi anak-anak yang terdampak.

Sekolah, katanya, memberikan keringanan dengan membebaskan biaya bagi anak-anak yang terdampak banjir bandang sebelum edaran Bupati Jayapura diterima.

“Untuk peserta didik kemarin yang kena banjir bandang itu kami utamakan mereka yang benar-benar semuanya hilang, artinya selain rumah tidak ada buku alat tulis, pakaian seragam, sama sekali tidak ada,” katanya.

Lucia yang menjelaskan siswa didik di SD Kemiri paling banyak yang mengalami korban banjir bandang, mulai dengan kondisi rumahnya hilang hingga rumah terendam banjir.

“Sebanyak 350 siswa di SD Kemiri adalah korban banjir bandang, tapi diutamakan bagi mereka yang rumahnya benar-benar hilang,” katanya.

Siswa didik yang rumah dan fasilitas alat tulis yang hilang diberi keringanan dengan membebaskan biaya sekolah.

“Siswa didik yang rumahnya hilang ini dibebaskan biaya, tapi ada keputusan bersama, orangtua wali murid dan guru di sekolah itu iuran per kepala keluarga dan ini bagi mereka yang terdampak kita tiadakan,” katanya.

Lucia menambahkan pembebasan biaya tidak hanya bagi mereka yang terdampak, namun juga untuk anak-anak didik yang tempat tinggalnya mengalami kebakaran.

“Ada empat anak didik kami yang asramanya terbakar di Permata Hijau dan sekarang mereka ditampung di gereja, itu laporan dari orangtua siswa didik kami dan mereka juga diperhatikan oleh sekolah agar mereka bisa mendapatkan bantuan seragam secara cuma-cuma,” ujarnya.

Pembebasan biaya telah dilakukan jauh hari sebelum edaran Bupati Jayapura dikeluarkan.

“Kita sudah melakukan pembebasan biaya ini sejak akhir bulan Mei, pas di situ pembagian rapor, saya sebagai kepala sekolah sudah sampaikan kepada orangtua wali murid bahwa ada perhatian khusus kepada anak-anak yang terdampak banjir-bandang, lebih khusus murid yang rumahnya hilang,” katanya.

Seorang orangtua murid SD Kemiri, Lesira Wonda, mengatakan orangtua hanya bisa mengucapkan terima kasih karena sekolah telah memberikan pembebasan biaya sekolah.

“Saya sudah tidak ada rumah tinggal, sempat bingung dengan anak-anak punya uang sekolah, tapi Puji Tuhan sekolah sudah terapkan pendidikan gratis bagi anak-anak korban banjir bandang ini,” katanya.

Ibu dua anak tersebut mengatakan meski pembebasan biaya telah diterapkan namun sebagai orangtua tetap berusaha mencari nafkah demi kebutuhan anak-anak.

“Saya harus jualan untuk membeli anak-anak punya buku tulis, pensil, dan kebutuhan di sekolah, jadi tetap saya kerja walaupun dengan kondisi rumah yang sudah  hilang,” katanya.

Wekky Kogoya, oran tua murid SD Inpres Hawai, mengatakan ia merasa sekolah telah memberikan keringanan kepada mereka yang terdampak banjir.

“Kami orangtua pikir nanti anak-anak sekolah bagaimana, karena pakaian, buku dan alat sekolah mereka semua dibawa air,” katanya.

Menurut Kogoya sangat baik ketika pemerintah daerah telah memberikan kelonggaran dengan tidak memungut biaya pendidikan di sekolah bagi korban banjir bandang.

“Terima kasih karena Bupati Awoitauw sudah berpikir demikian, kami orangtua sampai saat ini belum kerja karena kami masih di tempat pengungsian,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top