Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pacific Expo 2019 di Selandia Baru hadirkan 20 negara Pasifik, Vanuatu absen

Poster Pacific Expo 2019 di Auckland, yang diorganisir Pemerintah Indonesia – Jubi/RNZ Pacific

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sebanyak 20 negara di kawasan Pasifik, menurut Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, menyatakan kepastiannya ikut serta di Pacific Exposition 2019 di Auckland, Selandia Baru.

Negara-negara tersebut adalah Australia, New Caledonia, Cook Islands, Federated States of Micronesia, Fiji, French Polynesia, Kiribati, Marshall Islands, Nauru, Nieu, Palau, Papua Nugini, Samoa, Selandia Baru, Solomon Islands, Timor Leste, Tuvalu, dan Indonesia.

Duta Besar (Dubes) RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Kerajaan Tonga, Tantowi Yahya, kepada Jubi di Jayapura, Senin (1/7/2019), mengatakan Pacific Exposition adalah pameran dagang, investasi, dan pariwisata untuk negara-negara di Pasifik yang diinisiasi Indonesia dan didukung sepenuhnya oleh Selandia Baru dan Australia.

Expo ini akan berlangsung dari 11-14 Juli di Skycity Auckland Convention Centre.

Loading...
;

“Pacific Exposition adalah manifestasi dari keinginan untuk meningkatkan presensi Indonesia di kawasan yang selama ini belum mendapatkan perhatian penuh,” kata Tantowi, yang merupakan Ketua Panitia Penyelenggara Pacific Exposition 2019.

Menurut Dubes, pada kegiatan ini berbagai produk dan peluang investasi serta keelokan masing-masing negara akan dipamerkan selama tiga hari.

Pameran yang diklaim paling komprehensif yang pernah diadakan di Pasifik ini akan menyajikan berbagai pertunjukan dan menargetkan paling sedikit 5.000 pengunjung akan hadir di Skycity, tempat Expo diselenggarakan.

“Indonesia dalam expo ini akan diwakili oleh lima provinsi di Pasifik yakni Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan NTT. Identitas kepasifikan Indonesia akan ditonjolkan. Itulah mengapa ke lima provinsi tersebut yang dipilih untuk mewakili Indonesia,” ujarnya.

Dia menjelaskan selain pameran, Pacific Exposition akan dibarengi dengan forum bisnis berupa seminar perdagangan dan investasi yang akan membahas mengenai kebijakan, peluang, dan insentif di masing-masing negara yang akan disampaikan oleh pejabat pemerintah dan tokoh bisnis dari negara-negara tersebut.

“Di samping seminar, juga akan ada business matching yang dikoordinir oleh Kementerian Perdagangan. Para peserta yang berasal dari berbagai negara di Pasifik akan saling berinteraksi memanfaatkan peluang yang ada. Diharapkan dari business matching dan investment forum akan didapat 100 juta dolar AS baik dalam bentuk transaksi maupun potensi,” katanya lagi.

Dia menambahkan expo juga akan menggelar forum kebudayaan yang selama ini menjadi perekat dengan negara-negara di Pasifik yang dibahas secara formal dalam seminar kebudayaan. Negara-negara peserta akan menampilkan pertunjukan kebudayaan berupa tarian dan nyanyian.

Vanuatu enggan terlibat

Dilansir RNZI (3/7/2019) berdasarkan sumber pejabat Kedutaan Indonesia di Selandia Baru, yang pada bulan April lalu melakukan safari tertutup ke beberapa negara Pasifik untuk mendulang dukungan acara ekspo ini, inisitif Indonesia ini disambut baik.

Namun menurut sumber lain yang tak mau disebutkan namanya dan bekerja sebagai penasehat pejabat kedutaan, pemerintah Vanuatu adalah satu-satunya negara yang menolak hadir dan terlibat. Memang dari 20 negara yang disebut oleh Duta Besar Tantowi Yahya, Vanuatu tidak termasuk.

Sumber tersebut, yang menolak menyebutkan nama karena tak punya otoritas berbicara terkait hal ini, mengatakan Indonesia juga berharap akan terbentuk sebuah hub (“terminal”) perdagangan di salah satu negara Pasifik yang akan dapat digunakan untuk memfasilitasi arus komoditas ke seluruh kawasan ini.

Meski demikian pejabat Kedutaan Indonesia menekankan bahwa perhelatan ini tidak politis dan berfokus pada perdagangan, mereka juga mengaku agak khawatir kegiatan akan diprotes oleh para aktivis dan pengadvokasi HAM Papua terkait cara Indonesia menangani hak azasi manusia di Papua.

RNZI juga menyebutkan seorang sumber diplomatik barat yang juga tak mau disebut namanya, mengatakan Indonesia “begitu bersemangat mendorong” negara-negara Pasifik menghadiri event ini. Bahkan dia katakan pembiayaan perjalanan dan akomodasi delegasi yang hadir ditanggung penyelenggara atau ‘kebijakan tanpa biaya’ yang akan mendorong banyak pihak akan hadir.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, direncanakan hadir bersama kolega Australianya, Marise Payne. Bulan lalu, Peters menyatakan akan mengangkat masalah HAM Papua dengan Menlu Indonesia, Retno Marsudi.

Perdana Menteri Kepulauan Cook, Henry Puna, akan hadir dan para pejabatnya dikatakan akan menandatangani perjanjian kerjasama ada 12 Juli di Rarotonga. Perdana Menteri Niue Sir Toke Talagi juga sempat menyatakan hadir, dan akan menandatangani perjanjian serupa, namun dilaporkan dia sedang sakit dan kemungkinan tidak dapat hadir.

Menteri Pariwisata Selandia Barum Kelvin Davism dan Menteri Pembangunan Maori, Nanaia Mahutam juga dijadwalkan hadir. Demikian pula Wakil Perdana Menteri Tonga, Semisi Lafu Kioa Sika.

Terpisah, dilansir Daily Post Vanuatu akhir minggu lalu, Menteri Urusan Luar Negeri, Kerjasama Internasional, dan Perdagangan Luar Negeri, Ralph Regenvanu, kembali menegaskan sikapnya dihadapan semua Vanuatu’s Heads of Missions (HOM) yang sedang berkumpul di ibukota negara untuk pertemuan HOM selama tiga hari.

“Pelanggaran HAM dan marjinalisasi rakyat Melanesia West Papua bukan rahasia lagi dan kita harus terus menerus mengadvokasi perhatian internasional terhadap situasi ini,” ujarnya.

“Solidaritas Pasifik yang luar biasa sudah ditunjukkan dan menjadi momen penting bagi perjuangan rakyat West Papua untuk penentuan nasib sendiri.” (*)

Sumber: Antara dan RNZI

Editor: Zely Ariane 

 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top