Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Paniai mulai pelatihan kader budidaya kopi dan distribusi bibit 

Suasana pelatihan kader budidaya kopi di Kampung Dadou, Distrik Siriwo, yang dilaksanakan oleh BPMK Paniai dan YAPKEMA, Selasa (20/8/2019) – Jubi/Zely A

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Tim asistensi program budidaya kopi Kabupaten Paniai tiba di Kampung Dadou, Distrik Siriwo Paniai, Senin (19/8/2019), untuk menyelenggarakan pelatihan kader budidaya kopi, Selasa (20/8/2019).

“Sebelumnya beredar isu-isu bahwa tanam kopi berdampak buruk pada keluarga, menyebabkan kematian, karena kebetulan masyarakat yang punya kopi ada yang mengalaminya. Jadi kedatangan kami sekaligus meluruskan isu-isu seperti itu,” kata Herison Pigai, Direktur Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA), kepada Jubi di Epomani, Minggu (25/8/2019).

Dadou adalah pusat pemerintahan Distrik Siriwo yang terdiri dari 12 kampung: Bua, Todia, Kepi, Mugubutu, Dogomouto, Nomokepota, Eguai, Degatadi, Uwoyupi,Wegekebo, dan Yinotadi. Di distrik Dadou ini program pelatihan kader-kader budidaya kopi tingkat kampung di Kabupaten Paniai dimulai.

Siriwo dipilih sebagai distrik sasaran pelatihan perdana budidaya kopi Arabika karena distrik terpencil ini memiliki kampung yang paling banyak dibanding sejumlah distrik terpencil lainnya di Paniai.

Loading...
;

Distrik Siriwo hanya bisa dicapai dengan penerbangan sekitar 35 menit dari Nabire atau berjalan kaki sekitar sehari dari Epomani dan Bousa, di Distrik Siriwo bagian Kabupaten Nabire.

Pelatihan dimulai di SD Negeri Inpres Dadou, SD tertua di wilayah ini. Tim dari kabupaten diwakili oleh staf BPMK, Melven Degei, Koordinator Asisten Teknis P3MD, Sebastian Pigome, dan Direktur YAPKEMA, Hanok Herison Pigai.

Pertama kali mendapat pelatihan budidaya kopi

Pelatihan budidaya kopi ini baru pertama kali diselenggarakan di Distrik Siriwo.

Total peserta yang mengikuti hingga selesai sebanyak 35 orang, yakni 24 kader kampung dan 11 lainnya kepala dan sekretaris kampung yang juga diminta untuk berpartisipasi dalam pelatihan. Ada lima orang peserta yang memiliki kebun kopi dan berusia lanjut.

Sementara sisanya adalah para pemuda yang bersedia untuk membuka lahan dan bersemangat dalam program budidaya kopi ini.

Pelatihan dibuka oleh Sekretaris Distrik Siriwo, Yulianus Tenouye, dan ditutup oleh koordinator TA (Technical Assistance) pendamping desa, Sebastian Pigome.

Yulianus Tenouye, Sekretaris Distrik, dalam kesempatan itu juga memaparkan harapannya kepada gereja-gereja agar punya kebun kopi supaya ada pemasukan untuk kegiatan dan para pengurus gereja sendiri.

Materi yang diberikan antara lain pemilihan dan penyiapan lahan, ukuran lubang tanam, jarak tanam, pohon penaung dan penaung sementara, kapan kopi bisa ditanam, dan pembibitan.

Herison Pigai memaparkan forum berlangsung dinamis. Pigai yang juga seorang Master Trainer budidaya kopi Arabika mengatakan topik yang paling banyak jadi bahan diskusi terutama soal penanaman. Yang memiliki kebun kopi berbagi pengalaman terkait jarak tanam yang pernah diajarkan orangtuanya, sementara yang tidak punya kebun kopi menanyakan banyak hal terkait materi-materi yang diajarkan.

Pelatihan budidaya kopi ini baru pertama kali terjadi di Siriwo, termasuk beberapa contoh cara pengolahan pasca panen. Ini baru pertama kali ada di Siriwo, jadi kami bersyukur bisa dapat latihan ini untuk digunakan selanjutnya oleh kader-kader kopi dan petani,” ujar Thobias Obaipa, Kepala Kampung Mugubutu.

Pelatihan kader untuk kemandirian petani

Program pelatihan kader kopi ini difasilitasi oleh Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (YAPKEMA) sebagai Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD) di bawah Dinas BPMK Kabupaten Paniai.

Sebanyak 208 kampung lainnya akan menyusul mendapatkan pelatihan serupa dengan tujuan dalam lima tahun dapat mencetak pelatih-pelatih dan petani kopi profesional tingkat kampung di Kabupaten Paniai.

Pelatihan kader budidaya kopi ini termasuk ke dalam skema program Wajib Menanam Kopi oleh Pemerintah Kabupaten Paniai.

Tujuannya agar masyarakat Paniai yang daerahnya potensial untuk pengembangan kopi Arabika bisa memahami apa itu budidaya kopi sekaligus pemrosesan pasca panennya. Melalui pelatihan semacam ini, YAPKEMA menargetkan bisa mencetak minimal 250 orang menjadi petani profesional.

Tujuan jangka panjangnya agar masing-masing keluarga di Kabupaten Paniai yang berpotensi untuk pengembangan kopi Arabika dapat menanam 100-200 pohon per keluarga, dengan bimbingan tenaga ahli dan petani kader profesional yang sudah dilatih.

Adanya tenaga ahli dan petani profesional adalah syarat bagi terbentuknya Unit Pengembangan Kopi Berbasis Masyarakat (UPKBM) yang akan memastikan kopi Arabika Paniai bisa meningkat produksinya hingga tembus ke pasar nasional dan internasional.

Distribusi benih

Benih kopi yang telah disiapkan dan mulai disitribusikan adalah arabika varietas Typica.

“Benih ini diambil dari kebun induk dimana pohon-pohon kopinya berusia di atas lima tahun, dari dompolan ketiga, dari pohon yang buahnya melimpah dan tumbuh sehat,” kata Herison Pigai.

YAPKEMA memilih untuk tidak memasukkan bibit lain selain bibit yang sudah ada di masyarakat selama puluhan tahun dan terbukti sesuai dengan keadaan geografis. Hal itu bisa dibuktikan dengan kopi yang ditanam sejak 1950-1960an masih hidup dan menghasilkan buah hingga saat ini.

Para peserta pelatihan di Siriwo mengatakan distribusi 2000 bibit per kampung, yang menjadi target minimal program wajib tanam kopi di Kabupaten Paniai, terlalu sedikit. Oleh karenanya mereka mengusulkan agar ada penambahan bibit. (*)

Editor: Angela Flassy

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top