Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

PAPEDA berjuang hapuskan diskriminasi dan stigma

Komunitas Papua Pecandu Damai (PAPEDA) ketika berfoto bersama – Jubi/Dok.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Banyaknya Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapat perlakuan diskriminasi membuat Komunitas Papua Pecandu Damai (PAPEDA) gencar menggelar berbagai kegiatan untuk menghapus stigma penyandang HIV.

Perwakilan PAPEDA, Dessy Manggaprouw kepada Jubi mengatakan, meski tak memiliki legalitas, komunitas ini tak berhenti  mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memahami HIV/AIDS. Ia mengaku, tak adanya payung hukum pada organisasi ini kerap menjadi kendala di lapangan.

“Kami komunitas yang  tidak memiliki legalitas hukum pastinya kami susah untuk mengakses permohonan bantuan atau apapun, karena kami tidak memiliki legalitas hukum,” kata Dessy.

Menurutnya, tak adanya legalitas organisasi membuat ia kesulitan mendapat bantuan dana untuk pembinaan ODHA di Jayapura. Apalagi jumlah ODHA di Jayapura terbilang cukup banyak.

Loading...
;

Menurutnya, berbagai kegiatan yang digelar PAPEDA salah satunya untuk menghapus stigma buruk yang melekat pada ODHA. Stigama ini melekat karena minimnya pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS.

“Banyak sekali di mata masyarakat pada umumnya pecandu buruk, ODHA buruk. pekerja seks buruk, namun kami tidak seburuk itu. Kami juga ingin diterima dan juga kami sama seperti mereka pada umumnya,” katanya.

Sementara itu Hiswita Pangau sebagai fokal point Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) di Jayapura berharap, media juga bisa ambil bagian untuk  membantu menghapuskan stigma dan diskriminasi pada ODHA di Papua melalui pemberitaan yang mengedukasi masyarakat.

“Banyak pemberitaan-pemberitaan tentang komunitas yang negatif, sehingga dengan diskusi seperti ini kita harap ke depan pemberitaannya lebih positif dengan mengangkat aktivitas seperti yang dilakukan kawan-kawan dari Rojali dimana mereka membersihkan kali Acai dan mereka juga akan lakukan pembersihan sampah di pantai Ciberi, dan kerajinan tangan daur ulang plastik menjadi gaun dan itu bisa menjadi satu isu menarik untuk di angkat terkait komunitas agar membangun pemahaman masyarakat tentang komunitas ke arah yang lebih positif,” katanya. (*)

 

Editor: Edho Sinaga

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top