Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Papua butuhkan peraturan daerah tentang pengelolaan potensi pariwisata

Focus Group Discussion (FGD) “Mau Dibawa ke Mana Festival Budaya Papua” berlangsung di Jayapura, Papua, Rabu (24/7/2019) – Jubi/Benny Mawel

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi  Meskipun Tanah Papua memiliki potensi pariwisata yang luar biasa, potensi tersebut belum berhasil dikembangkan dengan baik. Pemerintah Provinsi Papua membutuhkan peraturan daerah untuk bisa mengembangkan berbagai potensi wisata alam dan wisata budaya itu, sekaligus memastikan pelestarian bahasa dan seni tradisi di Papua.

Kepala Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembangaan dan Sumber Daya Manusia, Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Amelia Ondikleuw menyatakan hingga kini Pemerintah Provinsi Papua belum memiliki peraturan daerah tentang pengelolaan potensi pariwisata di Papua. Hal itu disampaikan Ondikleuw usai menghadiri Focus Group Discussion (FGD) “Mau Dibawa ke Mana Festival Budaya Papua” yang diselengarakan Jubi di Jayapura, Papua, Rabu (23/7/2019).

Ondikleuw menyatakan pihaknya pernah merancang draft peraturan daerah soal pengaturan parawsisata. Akan tetapi, perancangan itu terhenti karena rancangan itu disahkan keterbatasan sumber daya manusia maupun anggaran Dinas Pariwisata Provinsi Papua. “[Jadi, hingga kini] kami belum punya peraturan daerah [tentang pengelolaan potensi pariwisata di Papua],”ungkap Ondikleuw.

Dalam FGD itu, tokoh muda Port Numbay, Ruddy Mebri menyatakan kekosongan aturan pengelolaan potensi pariwisata di Papua membuat koordinasi para pemangku kepentingan di Papua lemah. Akibatnya, sejumlah perhelatan budaya dan festival budaya di Papua sepi dari kunjungan wisatawan. “Regulasi saja belum ada, bagaimana mengatur potensi wisata dan kebudayaan Papua,” ungkapnya.

Loading...
;

Mebri meminta para pemangku kepentingan pariwisata di Papua serius merancang peraturan daerah tentang pengelolaan pariwisata di Papua. Harapannya, dengan peraturan daerah tersendiri itu para pemangku kepentingan pariwisata di Papua saling mengetahui wewenang, hak, maupun tugas masing-masing, dan dapat saling berkoordinasi mempromosikan berbagai peristiwa dan festival budaya di Papua.

Theo Yepese, penangungjawab Sangar Seni Honong Waena yang berada di Kota Jayapura menyebut peraturan daerah tentang pengelolaan potensi pariwisata itu juga dibutuhkan untuk mengatasi ancaman kepunahan budaya orang asli Papua. Yepese menyebut berbagai bahasa daerah dan kesenian tradisional di Papua terancam punah karena ditinggalkan oleh orang asli Papua.

Ketiadaan regulasi membuat Pemerintah Provinsi Papua tidak menaruh cukup perhatian terhadap pelestarian bahasa daerah dan kesenian tradisional di Papua. “[Sekarang] bahasa dan seni [tradisional di Papua sudah] di ambang kepunahan,” ungkap Yepese dengan prihatin.

Yepese menyebut, pelestarian bahasa daerah dan seni tradisi di Papua praktis bergantung kepada inisiatif warga yang memiliki kepedulian tentang pelestarian seni dan budaya di Papua. Inisiatif orang perorangan seperti itu tidak mampi mengimbangi derasnya dampak modernisasi yang membawa berbagai budaya global di kalangan generasi muda Papua.

Jika situasi itu berlanjut, bahasa daerah akan kehilangan penutur, dan berbagai seni tradisional Papua akan kehilangan para pelaku yang menghidupinya. “[Hari ini, para penutur bahasa dan pelaku seni tradisi yang tersisa tinggal] kami, kami yang hari ini bercerita [tentang ancaman kepunahan itu],”ungkap Yepese.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

 Attachment.png

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top