Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pastor Frans Lieshout, OFM kembali ke Belanda, umat Katolik di Papua ucapkan terimakasih

Pastor Frans Lieshout OFM (lingkaran) di Epouto, Wisselmeren tahun 1969 – fotografer : Jos Donkes

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura,Jubi – Setelah 56 tahun lamanya berkarya sebagai seorang Imam Katolik di tanah Papua,terutama di wilayah adat Lapago dan Meepago, Pastor Frans Lieshout, OFM segera tinggalkan tanah Papua dan kembali ke negerinya di Montfoort, Belanda.

Pastor Frans Lieshout adalah sosok yang tidak asing asing bagi Umat Katolik di Tanah Papua. Terutama di Pegunungan Tengah di Wilayah Lapagoo dan Meepago .

Emanuel Petege, salah satu tokoh cendekiawan Katolik dari Meepago mengatakan, air matanya tak tertahankan ketika Pastor Frans memutuskan untuk pensiun dari pelayanan kegembalaan dan pulang terus ke negeri Belanda, setelah 56 tahun mengabdi dan berkarya di tanah Papua.

“Saya terkejut dan kaget mendengar berita melihat postingan beberapa teman di sosial media bahwa kemarin tanggal 26 Oktober 2019 Pastor memimpin misa terakhir di Kapela Pilamo Angkasapura Jayapura sebagai tanda perpisahan dengan umat Katolik di tanah Papua untuk selanjutnya akan pulang terus ke negeri Kincir Angin di benua biru Eropa,” kata Emanuel Petege kepada Jubi, Rabu, (30/10/2019).

Loading...
;

Menurut dia, selama ini Pastor Frans menerbitkan beberapa buku penting tentang kultur orang asli Papua, salah satu buku yang terkenal ialah ‘Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem Papua’ setebal 424 halaman.

Markus Haluk, umat Katolik dari Keuskupan Jayapura mengatakan, selama 56 tahun Pastor Frans telah menjadi garam dan terang di tanah Papua. Ia menjadi ap hesek, kain kok yang artinya gembala, nabi, guru, bapa, tete, dan saudara bagi rakyat Papua di Pegunungan Papua.

Menurut Haluk, banyak kerja nyata, perubahan, dan kesuksesan dari tangan Pastor hasilkan selama 56 tahun. Waktu ini bukan singkat, jadi kalau diurut, ditulis maka satu rim kerja HVS tidak cukup.

“Tapi saya hanya mau angkat beberapa hal memperkuat apa yang pastor lakukan, yakni di tengah Suku Moni, ia membangun Bandara Ilaga, berperan aktif dalam bidang pendidikan, di antaranya Pastor Anton Belau, OFM (Alm) Imam pertama dari suku Moni, Pak John Mirip, Agus Zonggonau dan banyak tokoh lainnya. Selama melaksanakan tugas pengembalaan di Bilogai, pastor terus membangun koordinasi dengan para kepala suku setempat diantaranya kepala suku Bilogai Bapak Belaumbula Belau,” tuturnya.

Ketika Pastor Frans bertugas di tengah suku Amungme, Mee dan suku-suku lainnya di tanah Papua sebagai rektor pastor telah menghasilkan 1001 kaum terdidik, rohaniawan, nasionalis Papua.

“Selama menjadi pastor paroki Gereja Katedral memperjuangkan lahirnya kelompok kategorial Katolik Baliem dan Mee, Papua. Ia melakukan survei, ternyata 50 persen orang Katolik di Paroki Katedral tidak berperan aktif, duduk di belakang, tinggal di kaki gunung, bukit lereng. Maka mendorong partisipasi di dalam Gereja. Lahirnya Kashuokta merupakan bagian dari proses ini,” katanya.

Saat bertugas di Biak, kata dia, Pastor juga menjadi simbol pemersatu di tengah Katolik Konservatif suku-suku, (Key-Jawa, Flores), juga mendorong kemajuan pendidikan, pendampingan anak-anak Baliem, salah satunya Pastor menangkap Diakon Daud Wilil, Pr yang akan ditahbiskan Imam pada 24 November 2019.

Di Baliem ia bertugas selama 26 tahun. Karya tangannya tidak terbilang. Ia menjadi ap hesek, ap metek bagi aliansi konferedasi di Baliem, termasuk menghadapi ancaman operasi dari aparat.

“Pastor telah dan terus kerja keras mengintegrasikan adat dan Gereja Katolik. Pastor adalah tokoh dan pejuang Inkultasi, rekonsiliator, dialog dalam gereja Katolik di Balim (Papua). Pastor juga seorang guru dalam pendidikan orang Baliem. Pastor juga pemecah misteri setelah 54 tahun mengapa orang Baliem tidak bisa menjadi Imam, yang hasilnya saat ini 10 orang Imam Baliem, satu Diakon, para suster lahir dalam kurun waktu 7 tahun (2012-2019),” katanya.

Pastor Frans mengatakan, setibanya di sana dirinya akan masuk di panti Jompo milik Biara sambil menghabiskan waktu sisa hidupnya di bumi ini. “Tradisi masuk asrama Jompo bagi orang orang lanjut usia tidak diragukan lagi, karena sudah berjalan ratusan tahun,” katanya.

Ia lahir di kota kecil Montfoort, Belanda, 15Januari 1935. Setelah tamat sekolah dasar dan sekolah menengah Gymnasium, Frans Lieshout masuk bergabung menjadi anggota Persaudaraan Fransiskan atau Ordo Fratrum Minorum (OFM) pada Tahun 1955. Study Filsafat Teologi pada tahun 1956-1962. Pentahbisan Imamat pada Tahun 1962.

“Setelah mengikuti beberapa kursus sebagai persiapan untuk Missionaris ke Asia. Saya disuruh memilih diantara tiga benua yaitu Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tetapi saya memilih berkarya di Asia, karena sebelumnya sempat mendengar kisah-kisah yang sangat sedih campur senang oleh Missionaris seniorku yang sedang berkarya di West Niew Guinea,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, akhirnya jatuh pilihan ke Nederland Nieuw Guinea (Papua) sehingga Frans harus ikut kursus beberapa bulan lagi untuk latihan berbicara, Menulis, dan membaca bahasa Melayu sebelum berangkat ke West Nieuw Guinea.

Tepat bulan April 1963 berangkat dari Belanda menuju ke Nederland Nieuw Guinea dan tidak lama setelah tiba di Hollandia (Jayapura ) tanggal 1 Mei 1963, administrasi Pemerintahan Nederland Nieuw Guinea diserahkan oleh UNTEA ( PBB ) kepada Pemerintah Indonesia. Sehingga namanya juga ikut diganti menjadi Irian Barat, Bendera Belanda diturunkan dan Kota Hollandia diganti nama juga menjadi Soekarnopura.

“Saya mendapat tugas pertama kali di Lembah Baliem Wamena Tahun 1964 sampai 1967. Selanjutnya pindah ke Bilogai, Bilai, Enarotali, Epouto, Timika, Biak, Katedral Dok 5, menjadi Rektor SPG. Teruna Bakti, menjadi Pastor Dekan Jayapura,” katanya.

Tahun 1985 diterima menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan Tahun 1985-1996 kembali ke Baliem menjadi Pastor Dekan Dekenat Jayawijaya. Selanjutnya kembali ke Katedral Dok 5 dan Dekan Dekenat Jayapura yang kedua kali.

“Tahun 2007 kembali ke Lembah Baliem, Jadi itu saya pulang kampung dan menulis buku sambil menjalani masa pensiun di Wamena,” katanya. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top