Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pastor Kuayo menilai khotbah Romo Agam tidak menghina OAP

Ilustrasi Misa Natal – pexel.com.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pastor Administrator Keuskupan Timika, RD Martinus Ekowaibi Kuayo menyebut khotbah Pastor Managamtua Hery Berthus Simbolon atau Romo Agam tidak bermaksud menyinggung orang asli Papua. Khotbah itu dinilai Pastor Kuayo bicara jujur dalam mengangkat kenyataan pembangunan sumber daya manusia Papua sebagai ilustrasi dalam khotbah.

Menurut Pastor Kuayo, polemik yang ditimbulkan khotbah itu terjadi karena setiap umat menafsir khotbah itu dengan perspektifnya sendiri. “Ada banyak tanggapan, [tanggapan yang muncul] tergantung perspektif/sudut pandang masing-masing [umat] yang mendengarnya,” kata Pastor Kuayo kepada Jubi, Rabu (7/01/2020) malam.

Pastor Kuayo justru menilai khotbah Pastor Agam berbicara jujur, mengangkat kenyataan pembangunan sumber daya manusia Papua. Kenyataan itu dipilih Pastor Agam sebagai ilustrasi dalam khotbah perayaan Natal di Gereja Katedral Keuskupan Agung Jakarta pada 24 Desember 2019 lalu, untuk mengingatkan bahwa pemerintah di Jakarta telah gagal menyelenggarakan pendidikan di Papua.

“Ada beberapa kata-kata yang lucu. [Itu] bukan menghina, tapi untuk menarik perhatian umat supaya tetap mengikuti khotbah. Lewat khotbahnya, Pastor Agam sedang menyampaikan kepada Pemerintahan di Jakarta, bahwa selama 58 tahun Pemerintah Indonesia tidak mampu mendidik orang Papua,” ujar Pastor Kuayo.

Meskipun terkesan menghina orang asli Papua, khotbah Pastor Agam justru nilai Pastor Kuayo berhasil membuka aip pemerintah pusat yang gagal mendidik orang Papua. “[Saya memahami] khotbah itu [justru sedang] mempermalukan pemerintah Indonesia. [Berhitung] satu ditambah satu dan angka pecahan saja tidak tahu, apa lagi hal-hal besar lainnya. [Khotbah itu justru menggambarkan] Indonesia gagal bangun Papua,” kata mantan Dekan Dekanat Paniai itu.

Loading...
;

Pastor Kuayo menyatakan dirinya justru memahami khotbah Pastor Agam juga sebagai kampanye kepada publik untuk menyadari fakta bahwa banyaknya kucuran uang ke Papua tidak mengubah kualitas sumber daya manusia di Papua. Dengan menampilkan fakta itu, Pastor Agam disebut Pastor Kuayo sedang mengajak pemerintah untuk serius membangun sumber daya manusia Papua.

“Ini salah satu kampaye [untuk menyadarkan publik] bahwa uang mengalir banyak [ke Papua], namun orang Papua [tetap] tidak tahu berhitung. Maka, pemerintah [seharusnya lebih] memperhatikan pembangunan manusia [di Papua],” katanya.

Sebelumnya, Romo Managamtua Hery Berthus Simbolon SJ telah menyampaikan permintaan maaf atas kekeliruannya dalam menggunakan ilustrasi kenyataan di Papua saat berkhotbah. “Ilustrasi itu dilatarbelakangi ketidakpekaan dalam memahami konteks budaya Papua sehingga tidak utuh (penyampaiannya). Akibat konteks (pemahaman) yang berbeda, menimbulkan kesalahpahaman dan melukai perasaan orang, terutama OAP,” kata Romo Agam dalam keterangan tertulis yang diterima Jubi, Jumat (3/1/2020).

Dalam permintaan maafnya, Romo Agam menyatakan dirinya tidak bermaksud menyakiti siapa pun. “Saya tidak memiliki niat untuk menyakiti siapa pun, dan tidak bermaksud menggunakan khotbah sebagai sarana untuk mencederai perasaan siapa pun. [Pengalaman] ini akan dijadikan sebagai pelajaran sehingga akan lebih peka dan berhati-hati dalam mengungkapkan kata-kata. Sekali lagi,  saya mohon maaf,” tulis Romo Agam.

Ketua Dewan Adat Paniai, Jhon NR Gobai berharap masyarakat menerima permohonan maaf Romo Agam, dan tidak mempolitisasi isi khotbahnya. Dia menilai Agam dalam khotbahnya hanya ingin mengambarkan kondisi pendidikan yang masih jauh tertinggal di Tanah Papua. “Itu sudah bukan rahasia lagi. Kita harus menerimanya sebagai fakta dan koreksi,” tegas Gobai.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top