Pastor Santon Tekege: Kekerasan terus terjadi, kapan Tanah Papua damai?

Pastor Santon Tekege: Kekerasan terus terjadi, kapan Tanah Papua damai?

Salah satu korban penembakan di Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Papua, pada 27 Mei 2019 lalu. – Jubi. Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi –  Projo Kesukupan Timika, Papua yang bertugas di Kabupaten Deiyai, Pastor Santon Tekege Pr mengatakan sulit menciptakan kedamaian di Tanah Papua jika kekerasan masih terus terjadi di tanah Papua. Aparat keamanan di Papua diminta mengedepankan pendekatan dialog untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua.

Pernyataan itu dikatakan Pastor Santon menyikapi penembakan di Waghete, Kabupaten Deiyai pada 21 Mei 2019 dan penembakan di Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, 27 Mei 2019. “Aparat keamanan, masyarakat dan semua yang ada di Tanah Papua ini mesti menciptakan perdamaian. Kalau ada masalah jangan diselesaikan dengan kekerasan tapi mengedepankan dialog. Ini sikap kami gereja,” kata Pastor Santon Tekege via teleponnya, Jumat (31/5/2019).

Baca juga: Wakil Ketua DPRD Deiyai: Dogopia tidak pernah merusak mobil polisi

Kasus penembakan di Kabupaten Deiyai melukai kaki Melianus Dogopia dan menewaskan Yulius Mote. Sementara penembakan di Distrik Fayit menewaskan Xaverius Sai (40), Nilolaus Tupa (38), Matias Amunep (16) dan Fredrikus Inepi (35) dan melukai Jhon Tatai (25).

Kepolisian Daerah (Polda) Papua dan Kepala Kepolisian RI diminta bertanggung jawab atas kasus penembakan di Waghete. “Kami dari gereja menilai kehadiran polisi dan Satuan Brigade Mobil di wilayah adat Meepago membuat masyarakat tidak tenang, sehingga  sebaiknya (mereka) ditarik. (Jika) aparat keamanan bertindak semena-mena, mereka akan merusak citra Negara,” ujarnya.

Baca juga: Wakil Bupati Deiyai : Saya belum dengar ada laporan perkosaan

Hingga kini tim investigasi yang diturunkan Polda Papua ke Deiyai kesulitan mengungkap kasus penembakan terhadap Yulius Mote. Kepala Bidang Pengamanan dan Profesi Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Janus Siregar mengatakan, pihak keluarga tidak mengizinkan autopsi terhadap jenazah korban.

“Kami tidak bisa mengambil proyektil peluru dalam tubuh korban. Proyektil peluru itu yang dapat digunakan melacak pemilik senjata yang menembak Yulius,” kata Kombes Pol, Janus Siregar, Selasa (28/5/2019).

Sejumlah enam anggota Polsek Tigi yang terlibat dalam peristiwa itu telah diperiksa. Akan tetapi, mereka menyatakan hanya mengetahui penembakan polisi untuk melumpuhkan Melianus Dogopia yang diduga pelaku pemalakan, dan menyatakan tidak mengetahui penembakan terhadap Yulius Mote. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)