Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Patroli aparat gabungan di Papua membuat trauma

Aparat keamanan saat menghadapi demontran di Jayapura – Jubi/Agus Pabika.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Penambahan pasukan militer di tanah Papua dianggap bukan menyelesaian akar persoalan rasisme terhadap orang Papua namun menambah traumatis.

Victor Tibul, Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Jayapura mengatakan, traumatis ini disebabkan oleh keberadaan pasukan gabungan TNI/Polri yang berpatroli di setiap sudut kota terutama di Kota Jayapura.

“Pemerintah masih menganggap orang Papua sebagai ancamaran Negara, terbukti dengan aksi amuk massa kemarin dianggap dilakukan oleh orang Papua yang melakukan aksi demo, padahal aksi kemarin dilakukan penyusup,” katanya, Senin (16/9/2019).

Sementara itu, Bertus Asso anggota DPRD Jayawijaya yang berkunkung ke asrama Nayak I Kambey Abepura mengatakan, isu rasisme yang dilontarkan kepada orang Papua (mahasiswa Papua) menjadi momentum mempersatukan dan membangkitkan orang Papua di seluruh tanah Papua.

Loading...
;

Namun dirinya berharap, adanya lontaran rasisme ini tak membuat seluruh masyarakat Papua khususnya pelajar dan mahasiswa terprovokasi dan melanggar hukum.

“Isu rasisme sudah menjadi isu internasional sehingga kami harap pelajar, mahasiswa dan pemuda serta OKP di Papua untuk tidak terprovokasi karena orang lain sedang berusaha membangun skenario tingkat tinggi untuk menciptakan konflik horisontal mengorbankan rakyat Papua,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top