Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

PBB sebut kondisi pengungsi Rohingya nyaris tak ada harapan

Tenda pengungsi, pixabay.com

Ankara, Jubi – Seorang utusan PBB menyebutkan kondisi warga Rohingya yang telah menyelamatkan diri ke Kabupaten Cox’s Bazar di Bangladesh hidup dalam “kondisi yang sangat menantang”. Mereka nyaris tanpa harapan hidup dan masa depan.

Christine Schraner Burgener, Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Myanmar, memberi penjelasan kepada Dewan Keamanan PBB mengenai kunjungannya baru-baru ini ke Myanmar, Bangladesh dan tujuan lain di wilayah tersebut.

Berita terkait : Myanmar sita kapal pengangkut 93 Rohingya

Burgener mengatakan 18 bulan telah berlalu sejak kerusuhan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, memaksa ratusan ribu Muslim Rohingya dan orang lain meninggalkan rumah mereka, termasuk ke negara tetangga Myanmar, Bangladesh.

“Meskipun Bangladesh dan masyarakat penerima sangat baik hati, kami tak bisa mengharapkan ini akan berlangsung selamanya,” kata Burgener, Kamis (28/2/2019).

Loading...
;

Berita terkait : Batal dipulangkan, warga Rohingya gelar doa syukur

Ia mengatakan Rencana Tanggap Bersama PBB dengan tujuan mendukung para pengungsi dan masyarakat penampung yang diluncurkan belum lama ini  memerlukan dana “mendesak”. Menurut dia, sejumlah langkah prioritas juga perlu dilakukan, termasuk diakhirinya kerusuhan di Myanmar, difasilitasinya akses tanpa hambatan ke orang yang terpengaruh.

“Ditanganinya sumber ketegangan dan dimungkinkannya pembangunan yang melibatkan banyak kalangan dan berkesinambungan,” kata Burgener, menjelaskan.

Baca juga : Ratusan muslim Rohingya dipenjara pemerintah Saudi

Burgener menyatakan ketegangan sipil dan militer berlangsung terus di Myanmar sebelum pemilihan umum pada 2020. Hal itu memprihatinkan, karena perang sengit dengan Tentara Arakan akan makin mempengaruhi upaya ke arah pemulangan sukarela dan bermartabat para pengungsi.

Rohingya yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi kekhawatiran yang bertambah besar mengenai serangan sejak puluhan orang tewas dalam bentrokan antar-masyarakat pada 2012.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya, kebanyakan perempuan dan anak-anak telah meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke dalam wilayah Bangladesh, setelah pasukan Myanmar melancarkan penindasan terhadap masyarakat minoritas Muslim pada Agustus 2017.

Tentang Rohingya : Ide kembalikan Rohingya ke Myanmar dinilai terlalu dini

Pembunuhan massal warga Rohingya terencana dan sistematis

Malaysia desak Myanmar adili pelaku genosida Rohingya

Laporan yang dikeluarkan oleh Lembaga Pembangunan Internasional Ontario (OIDA), menyebutkan sejak 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu Muslim Rohingya telah tewas oleh pasukan Pemerintah Myanmar.

Lebih dari 34 ribu orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam kobaran api, sementara lebih dari 114 ribu orang lagi dipukuli, tulis  laporan OIDA yang berjudul “Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience”.

Sedangkan sebanyak 18 ribu anak perempuan dan perempuan Rohingya diperkosa oleh polisi dan tentara Myanmar dan lebih dari 115 ribu rumah orang Rohingya dibakar, termasuk 113 ribu dirusak.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan –termasuk bayi dan anak kecil– pemukulan secara brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar.

Di dalam satu laporan, para penyelidik PBB mengatakan pelanggaran semacam itu mungkin telah menjadi kejahatan terhadap umat manusia. (*)

Editor Edi Faisol

 

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top