Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pegiat sungai ini merawat 70 spesies tanaman lokal

Ilustrasi, hutan bambu, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Samarinda, Jubi – Pegiat sungai yang tergabung dalam Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) Sungai Karang Mumus (SKM) Samarinda, Kalimantan Timur, berhasil merawat 70 spesies pohon. Langkah itu dilakukan sejak 2016 hingga saat ini dengan tanaman yang dihasilkan dari 70 spesies itu mencapai 10 ribu pohon.

“Terdapat 61 spesies yang sudah diketahui namanya, sembilan spesies belum diketahui namanya sehingga belum kami catat. Sebagian besar tanaman yang kami tanam dan jaga merupakan pohon endemik,” ujar Ketua GMSS-SKM Samarinda, Misman, Selasa, (14/1/2020).

Baca juga : Satu juta spesies hewan dan tanaman hadapi kepunahan

Tanaman karet, potensi yang dapat dikembangkan di Papua

Populasi tanaman kelapa Samoa menua

Loading...
;

Sebanyak 61 spesies pohon endemik yang terus dirawat dan sebagian besar di antaranya tumbuh dengan baik itu antara lain pohon bungur, kademba, rengas, putat, singkuang, beringin, bayur, rumbia, bamban, ramania, tarap, dan anona.

Selain itu pohon bengalon, rambai, nangkadak, keledang, durian, elai, mangga, asam payang, asam jawa, jambu mete, sirsak, rambutan, jengkol, kemiri, ara. “Sejumlah tanaman buah hutan itu menjadi makanan satwa maupun berbagai jenis burung,” kata Miswan menambahkan.

Menurut Misman, menanam dan merawat pohon yang dilakukan bersama masyarakat dan komunitas yang peduli itu dilakukan dalam upaya membangun hutan di jalur hijau SKM untuk melindungi sungai dari kerusakan.

Ia mengakui bahwa hutan kota yang dibangun dengan jumlah minim tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan tingkat kerusakannya.

“Namun ia akan merasa bersalah jika tidak berbuat, maka upaya membangun hutan kota ini dilakukan semampunya meski masih banyak tantangan,” kata Miswan menambahkan.

Aneka pohon dan tumbuhan yang tetap terjaga di garis sempadan, memiliki banyak fungsi, antara lain menjaga air hujan agar tidak semuanya langsung turun ke sungai karena ada pohon yang menyerapnya.

Keberadaan tanaman itu untuk mengurangi beban sungai menampung luapan air yang bisa meluber ke daratan atau banjir. Selain itu menjaga kualitas dan kontinuitas aliran air sehingga saat tidak hujan beberapa pekan pun air sungai tetap ada dan bersih karena ada filtrasi alami.

Fungsi lainnya dari riparian atau tumbuhan di garis sempadan adalah untuk menjaga tepi sungai tidak erosi karena semakin banyak pohon dan tumbuhan di bibir sungai, maka akarnya akan semakin banyak yang mengikat tanah, serta berbagai fungsi lainnya baik untuk manusia maupun ekosistem lain.

“Inilah yang disebut dengan normalisasi sungai, karena makna normalisasi adalah menormalkan kembali seperti dulu,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top