Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pelatihan budidaya kopi Arabika, 174 kampung jadi pompa semangat petani kopi Paniai 

Suasana pelatihan budidaya kopi arabika, 17 September 2019, di Kampung Aiyaigo, Distrik Kebo, Kabupaten Paniai untuk 105 kader kopi, tokoh masyarakat, dan aparat kampung dari Distrik Kebo dan Yagai – Jubi/Pince Yumai

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Enarotali, Jubi – Ratusan wakil petani kopi dan aparat kampung antusias hadiri pelatihan budidaya kopi Arabika yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung Kabupaten Paniai dan difasilitasi oleh kader-kader pelatih kopi YAPKEMA sepanjang dua minggu di bulan September 2019 ini.

Mereka memenuhi ruang-ruang kelas dan aula milik sekolah-sekolah, kampung, dan gereja-gereja di 20 distrik yang tersebar di Kabupaten Paniai. Setelah Distrik Siriwo memulai pelatihan pada 21 Agustus lalu, 19 distrik menyusul sepanjang 13-17 September 2019.

Menurut Ance Boma, manajerial Yayasan Pembangunan Masyarakat (YAPKEMA), pelatihan budidaya kopi ini masih akan merampungkan empat distrik terjauh di Kabupaten Paniai: Dogomo, Dumadama, Bayabiru, dan Youtadi.

Tantangan dibalik antusiasme petani

Loading...
;

Yanuarius Tatogo, pelatih (trainer) budidaya kopi dari YAPKEMA, mendampingi dan memfasilitasi pelatihan di dua distrik, Deiyai Miyo dan Muye.

Saat ditemui Jubi, Senin (23/9/2019), Tatogo mengatakan para peserta, khususnya petani kopi, menyambut antusias pelatihan tersebut karena belum pernah ada pelatihan seperti itu di tingkat kampung dan distrik.

“Para petani di akhir pelatihan menyatakan siap tanam diiringi ‘Yuu’ tanda setuju dan semangat,” kata Tatogo.

Dari materi yang diberikan, mulai dari penyiapan lahan, pembibitan hingga penanaman, para petani lebih banyak mengajukan pertanyaan seputar pembibitan.

“Pelatihan ini hal baru bagi petani, termasuk materi-materinya. Pada bagian pembibitan mereka banyak bertanya karena belum paham kenapa kualitas bibit kopi itu penting bagi suksesnya budidaya kopi,” lanjutnya.

Menurut Tatogo tantangan terbesar yang dihadapi pelatih adalah menangani sebagian masyarakat yang sudah menyiapkan bibit kopi Arabika, namun belum sesuai standar tertentu terkait kualitas bibit.

“Jadi kami katakan ke masyarakat, bibit yang ada itu betul-betul dari persemaian atau bukan? Jadi kami cek dulu memenuhi syarat atau tidak,” ujarnya.

Syarat bibit kopi Arabika yang baik antara lain berasal dari pohon yang telah tumbuh dan berbuah baik minimal lima tahun, hasil persemaian (bukan biji jatuh yang tumbuh alami) lalu dipindahkan ke polibag pertiap tunasnya.

YAPKEMA, lanjut Tatogo, tidak mau main-main soal kualitas bibit supaya hasil produksi kopi maksimal buat petani.

“Petani beri tahu kami bahwa bibit yang ada bukan dari persemaian tetapi dari biji-biji kopi yang jatuh. Jadi kami sampaikan itu tidak bisa, karena hasil produksi buah kopi tidak akan baik,” kata Tatogo.

Tantangan serupa juga dihadapi Hego Gobai, pelatih kopi YAPKEMA lainnya yang mendampingi pelatihan di Distrik Paniai Timur dan Pugodadi.

“Kami cek langsung bibit yang ada di beberapa masyarakat, dan memang tidak sesuai prosedur pembibitan, dan ini menjadi tantangan bagi kami dalam menjelaskan ke masyarakat, ” kata Gobai kepada Jubi.

Sementara antusiasme petani di Paniai Timur dan Pugodadi, menurut Gobai, terutama terkait jaminan masa depan petani dari hasil tanam kopi.

“Mereka jadi punya harapan terhadap hasil produksi kopi untuk jaminan masa depan keluarga,” kata Gobai.

Pelatih kopi yang termotivasi

Lain halnya Pince Yumai, pelatih kopi perempuan satu-satunya YAPKEMA itu pada awalnya merasa gugup saat harus memfasilitasi forum pelatihan untuk pertama kalinya. Namun saat hadir di depan forum kepercayaan dirinya langsung kembali.

“Saya melatih Distrik Kebo dan Yagai. Ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Sempat ada masyarakat protes kepesertaan dari kampungnya, tapi saya tegaskan silakan selesaikan di antara kalian di luar forum ini,” kata Pince sambil tertawa karena tak menduga ia berani bersikap seperti itu.

Pince dapat merasakan sambutan masyarakat karena kegiatan seperti pelatihan itu tidak pernah dilakukan terhadap masyarakat di kampung.

“Mereka senang karena kita datang langsung bagi pengetahuan, jadi saya juga makin semangat dan siap untuk pelatihan selanjutnya,” ujarnya.

Sementara Yanuarius Tatogo setelah berhasil memfasilitasi pelatihan ini memutuskan untuk juga segera siapkan lahan menanam kopinya sendiri. Pemuda asal Muye ini menjadi termotivasi untuk membuktikan pengetahuan budidaya kopi yang ia dapatkan dari YAPKEMA dan ia ajarkan ke petani.

“Saya sendiri harus segera buka lahan dan semai bibit kopi Arabika, dari proses dapat pengetahuan pelatihan kopi dari YAPKEMA hingga rantai produksi, pengolahan, dan pemasaran kopi. Saya harus ambil bagian untuk jadi petani kopi juga,” katanya dengan semangat.

Tiga pelatih kopi yang mendampingi petani-petani dalam program budidaya kopi Pemerintah Kabupaten Paniai, direkrut YAPKEMA melalui rekruitmen terbuka. Ada lima orang pelatih yang terpilih setelah melalui rangkaian tes kemampuan dan kemauan pada bulan Maret 2019 lalu.

Mereka dibekali materi budidaya dan pengolahan pasca panen kopi arabika oleh Master Trainer kopi arabika nasional dari Papua, yang sekaligus juga Direktur YAPKEMA, Hanok Herison Pigai.

Lima pelatih ini diberi tanggung jawab oleh YAPKEMA untuk mendampingi dan mengawasi jalannya program budidaya kopi arabika Pemerintah Kabupaten Paniai di 24 distrik dan 208 kampung. (*)

Editor: Dominggus Mampioper

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top