Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pembangunan ruko terkendala puing-puing kebakaran rusuh Wamena

Tumpukan sampah dari puing dan seng ruko terbakar saat kerusuhan Wamena di sekitar pertigaan Jalan SD Percobaan – Jalan Sanger Wamena. -Jubi/Islami

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wamena, Jubi – Para kontraktor yang dipercayakan membangun kembali 403 unit pertokoan atau ruko di Wamena dan sekitarnya yang terbakar akibat rusuh Wamena, 23 September 2019, terkendala oleh sampah dari puing-puing kebakaran.

Menurut Ketua Gabungan Pelaksana Kontruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Jayawijaya, Fred Huby, sisa kebakaran seperti beton atau pun kayu tidak menjadi masalah karena bisa digunakan untuk timbunan, namun kendaraan yang terbakar dan seng-seng sampai pintu ruko atau besi tua, tidak tahu akan dibuang ke mana.

“Hal ini yang menjadi masalah bagi kontraktor Orang Asli Papua (OAP) yang mengerjakan setiap unit ruko,” katanya, di kantor Gapensi Jayawijaya, Rabu (8/1/2020).

Lanjut Fred, ketika puing-puing itu akan dibuang ke lokasi yang berada di ujung Bandara Wamena, mereka mendapat penolakan dari masyarakat.

“Begitu juga ketika akan dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Distrik Pisugi. Yang jadi masalah itu ketika membuang sampah besi tua, sudah coba buang ke TPA Pisugi, tetapi masyarakat atau pemilik lahan lebih fokus menerima sampah atau limbah yang bisa dikonsumsi ternak, sedangkan puing-puing kendaraan dan seng-seng terbakar, masyarakat menolak,” katanya.

Untuk itu Gapensi berupaya berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, guna mencari solusi atas kendala tersebut. Namun hingga kini belum ada kepastian di mana lokasi yang pas untuk membuang sampah itu.

Loading...
;

“Sudah bertemu dengan bupati, dan akan dicarikan solusi untuk kami. Saat ini untuk rongsokan seng-seng dan kendaraan, kami arahkan ke teman-teman agar sementara disimpan di belakang atau pekarangan ruko yang akan dibangun. Ketika sudah ada komunikasi dengan pemerintah daerah akan dibuang ke mana, baru diikuti. Sampai saat ini belum ada kejelasan dibuang di mana,” katanya.

Hal ini, kata dia, jelas menghambat pekerjaan apalagi batas waktu yang diberikan Kementerian PUPR untuk pengerjaan ruko sampai April 2020.

Salah satu kontraktor OAP yang juga selaku Koordinator Kelompok I untuk pengerjaan ruko, Ayub Wuka, menambahkan bahwa pihaknya juga bingung menyuruh tukang yang bekerja, karena kendala sampah tersebut.

“Beberapa waktu lalu, teman-teman menggunakan mobil untuk membuang sampah ke lokasi di ujung bandara, tetapi masyarakat bilang untuk sampah besi tidak boleh buang di sana, disuruh bawa ke Pisugi. Ketika bawa ke TPA Pisugi juga dilarang. Sampai sekarang kami masih meminta petunjuk ke Ketua Gapensi, tetapi belum ada petunjuk,” katanya.

Dirinya berharap pemerintah daerah segera memperhatikan hal ini, agar pengerjaan ruko dapat selesai tepat waktu. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top