HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pemecatan direktur EMTV indikasi ketidakbebasan pers PNG

Neville Choi. – RNZI/ Neville Choi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Michael Andrew

Wartawan-wartawan di seluruh Papua Nugini protes untuk mendukung Direktur Pemberitaan EMTV, Neville Choi, menyusul pemecatannya yang ‘tidak dapat diterima’, dari jabatan yang telah ia pegang selama enam tahun terakhir.

Sebuah pernyataan yang diterbitkan pada Senin (19/8/2019) mendaftarkan sejumlah alasan atas pemecatannya, salah satunya adalah penolakan Choi untuk menghentikan liputan tentang protes pasukan pertahanan PNG di luar kantor Perdana Menteri Februari 2019.

Namun, Wakil Kepala Berita di EMTV, Scott Waide, berkata kepada Pacific Media Watch bahwa mereka tetap menyiarkan berita itu karena liputan itu adil dan dampaknya telah diselesaikan secara internal.

Loading...
;

“Neville melakukan pekerjaannya sebagai kepala pemberitaan dan seorang jurnalis. Dia mengambil kedua perspektif dari berita itu dan kami menayangkannya di berita EMTV,” tutur Waide.

“Tidak ada yang inkonsisten tentang pelaporan itu, tetapi kenyataan bahwa dia menentang perintah CEO, itu menyenangkan pihak manajemen dan mereka lalu memberikan surat peringatan untuk dia.”

Alasan lainnya lagi untuk penghentian ini adalah penolakan Choi untuk mengikuti arahan dari dewan EMTV, Kumul Telikom Holdings Ltd, untuk memecat Scott Waide, karena liputannya saat KTT APEC 2018.

Liputan tersebut melaporkan keputusan Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, yang tidak jadi menggunakan kendaraan maserati kontroversial yang dibeli pemerintah, selama pertemuan APEC.

Saat itu, meski Choi menolak perintah itu, manajemen EMTV memecat Waide, memicu amarah publik yang berakhir dengan kembalinya Waide.

Choi menerima surat peringatan dari manajemen EMTV atas penolakannya untuk mengikuti perintah dan menskors Waide.

Dipecat untuk masalah-masalah yang telah diselesaikan

Waide menerangkan bahwa ia dan jurnalis lainnya di EMTV tidak mengerti mengapa EMTV menggunakan persoalan-persoalan yang sudah lama diselesaikan, sebagai alasan untuk menghentikan seseorang.

“Manajemen seperti apa yang akan membuka kembali suatu masalah yang sudah pernah mereka selesaikan dengan mengeluarkan surat peringatan, dan kemudian memasukkannya kembali dalam surat pemberhentian kerja?”

Sementara rekan-rekannya sesama warta telah bersatu untuk mendukung Choi, Waide berkata drama itu telah mempengaruhi semangat di newsroom dan mengacaukan rencana-rencana dan strategi yang sudah ada.

“Hal ini telah mengguncang seluruh ruang berita EMTV dan manajemen, tetapi juga membahayakan hubungan kerja sama internasional kami dengan organisasi-organisasi seperti Reuters, RNZ, dan ABC, karena Neville adalah penanggung jawabnya.”

Jurnalis yang andal

“Neville adalah jurnalis yang andal,” katanya.

“Dia memiliki standar profesionalisme yang tinggi dan dia sudah bekerja di manajemen berita selama 20 tahun.”

“Dia bukan orang yang mencari kontroversi. Ia hanyalah seorang jurnalis rendah hati yang melakukan pekerjaannya dengan baik. Dia sangat loyal kepada EMTV dan dia telah membentuk kelompok berita yang kompak. Mereka mengandalkan dia dan selalu memerlukan dukungan dan kepemimpinan; untuk menghilangkan bagian yang penting seperti itu akan sangat mengecewakan bagi banyak orang, tidak hanya di dalam EMTV tetapi juga di luar sana.”

Waide lalu mengungkapkan bahwa staf lainnya telah diintimidasi oleh pelaksana tugas CEO, Sheena Hughes, dari Fiji, dan bagian SDM, ketika mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka atas penghentian ini.

“Mereka bilang kepada staf lainnya, jika kalian tidak senang dengan keputusan ini, kami akan dengan senang akan menghentikan kalian juga.”

Aksi mogok newsroom EMTV

Meskipun Meriba Tulo telah diangkat menjadi pelaksana tugas Direktur Pemberitaan, ia dan anggota tim berita EMTV lainnya juga memprotes pemutusan hubungan kerja itu dengan meninggalkan pekerjaan mereka, memaksa perusahaan penyiaran itu untuk memutar ulang buletin berita untuk pertama kalinya dalam sejarah, setelah 30 tahun mereka beroperasi.

Sementara belum ada tanggapan positif dari pihak manajemen, Waide berkata ada beberapa negosiasi yang sedang dilakukan di berbagai tingkatan.

Dukungan untuk Neville Choi dan komentar-komentar yang mencekam pemecatannya juga marak di media-media sosial.

Wartawan-wartawan dan juru kamera didesak untuk tidak menerima tawaran kerja dari EMTV, yang berupaya mengisi kekosongan akibat ditinggalkan oleh tim berita akibat mogok kerja.

Diperlukan adanya serikat pekerja media PNG

Dalam komentarnya di Facebook, jurnalis Harlyne Joku menekankan perlunya kelompok serikat pekerja, untuk mewakili industri media di PNG.

“Kita perlu benar-benar mempertimbangkan membentuk serikat jurnalis PNG, untuk membantu kita berdiri dan menunjukkan solidaritas melalui protes secara damai dan menegosiasikan persoalan-persoalan yang memengaruhi rekan-rekan kita, dalam hal ini penghentian Neville Choi oleh EMTV,” tulisnya.

“Jika staf EMTV protes atau melakukan aksi mogok, mereka juga dapat diberhentikan. Mari kita mulai dengan membentuk serikat untuk jurnalis.”

Sebuah komentar di Facebook, dari mantan editor koran Post-Courier dan ketua dewan media negara itu, PNG Media Council, Alexander Rheeney, meminta Sheena Hughes untuk mundur dan mengkritik campur tangan Dewan EMTV, Kumul Telikom Holdings Ltd (KTHL), dalam penyampaian berita yang seharusnya independen.

Campur tangan pemerintah

Menurut mantan jurnalis EMTV, Sylvester Gawi, campur tangan swasta dan pemerintah dalam media PNG adalah sesuatu yang sudah umum.

“Jurnalisme di PNG tidak lagi bebas. Stasiun-stasiun TV komersial seperti EMTV dimiliki oleh Kumul Telikom Holdings Limited, suatu badan usaha milik negara, dan tetap dikendalikan oleh pemerintah melalui dewannya,” jelasnya kepada Pacific Media Watch.

“Saya diminta untuk mengundurkan diri dari EMTV pada 2015 setelah saya menolak untuk meliput berita untuk salah satu klien komersial mereka.”

“Menurut saya, meski kita memerlukan klien komersial untuk mendukung operasi EMTV, newsroom itu seharusnya tidak boleh mengubah pendiriannya akibat klien-klien komersial.”

Namun, ia menambahkan, pemecatan Choi dapat menjadi preseden yang berbahaya dan hanya akan memungkinkan matinya jurnalisme yang bebas di PNG.

“Saya percaya jurnalisme yang bebas di PNG akan sia-sia saja jika kita membiarkan tindakan-tindakan seperti penghentian Neville Choi, yang disebabkan hanya karena dia membela tim beritanya.”

Koran Post-Courier melaporkan bahwa akibat pemecatan Neville Choi telah dibatalkan Rabu malam (21/8/2019) setelah ia diberhentikan pada Senin. (Asia Pacific Report)


Editor : Kristianto Galuwo

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top