Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pementasan “Pralaya” padukan kebudayaan Bali dan India

Salah satu pementasan teater, pixabay.com

Tajuk “Pralaya” untuk mengingatkan semua agar menjaga integritas diri, kejujuran dan kemuliaan.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Denpasar, Jubi – Garapan teater tari berjudul “Pralaya”, kolaborasi seniman yang tergabung dalam GEOKS Singapadu, Kabupaten Gianyar, dengan Lata Sampradaya atau Sampradaya Dance Creations Toronto, Kanada. Pementasan itu memadukan unsur kebudayaan Bali dan India. Teater itu mengangkat pentingnya umat manusia menjaga integritas diri.

“Garapan ini merupakan sebuah dialog dan interaksi dua budaya yang secara fisik dan geografis berjauhan namun secara kejiwaan memiliki banyak kedekatan,” kata I Wayan Dibia, pimpinan GEOKS Singapadu, Gianyar, usai pementasan garapan “Pralaya” di Institut Seni Indonesia Denpasar, Sabtu (30/11/2019) malam.

Baca jugaIni versi terkini “J.J Sampah-Sampah Kota” teater Koma Teater Koma Tampilkan Korupsi melalui ‘Inspektorat Jenderal’

Loading...
;

Siswa SMKN 2 Tampilkan Teater Bertema Papua Zoom Indonesia

Teater tari dan musik Pralaya berdurasi sekitar 75 menit itu mengangkat kisah dari epos Mahabharata dengan didukung 10 penari. Lima penari dari Bali, yakni I Wayan Dibia, I Gede Radiana Putra, Dewa Putu Selamat Raharja, Ida Ayu Made Dwita Sugiantini, dan Ni Ketut Santi Sukma Melati, sedangkan lima penari lainnya dari India yaitu Lata Pada, Atri Nundy, Nithya Garg, Parshwanah Upadhye, dan Adithya Veedu.

Dibia yang juga akademisi ISI Denpasar mengemukakan “Pralaya” digarap melalui dua tahap, yakni bagian-bagian kelompok di Bali dan kemudia penggarapan bagian detail di Toronto, Kanada.

“Pralaya sebelumnya dipentaskan secara perdana di Fleck Dance Teater Toronto dan kemudian dipentaskan di delapan kota lainnya di Kanada, diantaranya Sudbury, Ottawa, Mntreal, Calgary, dan Vancouver,” kata Dibia menjelaskan.

Ia sengaja mengangkat tajuk “Pralaya” untuk mengingatkan semua agar menjaga integritas diri, kejujuran dan kemuliaan.

“Jangan semua dipertaruhkan di meja judi, apakah judi yang sebenarnya, judi politik dan sebagainya,” kata Dibia menambahkan.

Cerita itu mengisahkan pertaruhkan integritas yang dinamakan pralaya. Seperti halnya dalam epos Mahabharata, demi kemuliaan, rela mengorbankan saudaranya sendiri seperti yang terjadi diantara keluarga Pandawa dan Korawa.

Teater tari dan musik itu menampilkan lima bagian. Pertama, dimulai dengan pemujaan terhadap Dewa Ganesha sebagai Dewa Pelindung untuk memohon keselamatan pertunjukan, kemudian dilanjutkan dengan penggambaran empat sifat yang mengendalikan hidup manusia, yaitu cinta kasih, loba, hormat, dan iri dengki.

Dua bagian berikutnya adalah pengenalan tokoh-tokoh dua keluarga yang berseteru, yaitu Korawa dan Pandawa, dalam Mahabharata, dan permainan dadu di Hastina yang berakhir dengan kekalahan Pandawa. Selanjutnya adalah protes Dewi Drupadi atas perlakuan Pandawa dan Korawa yang telah menistakan dirinya.

Sedangkan dua bagian terakhir adalah Perang Bharatayudha yang berakhir dengan kehancuran seratus Korawa dan sejumlah ksatria Pandawa, serta kebangkitan semangat baru dalam suasana harmonis dan rasa kebersamaan.

“Bali dan India memiliki sejarah peradaban yang sangat panjang, banyak hal yang masih bisa kita lakukan bersama dan kita bagi untuk menghasilkan suatu dialog budaya melalui pertunjukan seperti ini,” kata Dibia menjelaskan. (*)

Editor  Edi Faisol

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top