HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pemerintah diharapkan segera menangani pengungsi Nduga

Keterangan pers Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga, di Jayapura, Kamis (18/7/2019). – Jubi/Hengky Yeimo.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Ribuan warga sipil Nduga, Papua yang mengungsi demi menghindari konflik bersenjata antara pasukan gabungan TNI/Polri dan kelompok bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya kesulitan mendapatkan pelayanan publik, termasuk pelayanan kesehatan dan pelayanan pendidikan. Pemerintah diharapkan segera menangani para pengungsi Nduga, baik yang mengungsi di sejumlah kabupaten tentangga, maupun yang bertahan di Kabupaten Nduga.

Staf Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilaan Ketua Yorgen Numberi mengungkapkan ribuan warga sipil Nduga kehilangan akses terhadap pelayanan kesehatan dan pendidikan. “Pemerintah harus terlibat aktif [menangani ribuan warga sipil] Nduga yang mengungsi, melihat nasib mereka, dan mencari solusi,” kata Numberi dalam keterangan pers Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga, di Jayapura, Kamis (18/7/2019).

Keterangan pers Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga (TSPKN) mengungkapkan pengungsian ribuan warga sipil Nduga terjadi pasca pembunuhan pekerja PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 di Kabupaten Nduga, Papua. Pasukan gabungan TNI/Polri mengejar kelompok bersenjata yang dipimpin Egianus Kogoya, dengan alasan harus melakukan penegakan hukum atas pembunuhan para pekerja proyek infrastruktur di Nduga itu.

Akibatnya, ribuan warga sipil Nduga mengungsi demi menghindari konflik bersenjata itu, dan sebagian diantaranya berhasil mengungsi ke Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Mimika. Di sana, para pengungsi hidup dengan berbagai keterbatasan, dan kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan maupun pendidikan.

Loading...
;

Akan tetapi, nasib para pengungsi Nduga yang berada di sejumlah kabupaten tetangga itu masih lebih baik dibandingkan nasib para pengungsi Nduga yang bertahan di Kabupaten Nduga. Demi menghindari konflik bersenjata di sana, para warga sipil itu harus mengungsi ke lokasi yang jauh dan sulit dijangkau, dan terisolasi, dan mengalami situasi yang lebih buruk dibandingkan saudara-saudara mereka yang mengungsi ke kabupaten tetangganya.

Yorgen Numberi menyebutkan hingga saat ini nasib para pengungsi Nduga yang bertahan di Nduga sulit dipastikan. Numberi menuturkan Kepala Kantor Komnas HAM Perwakilan Papua Frits Ramandey pernah berupaya mendatangi lokasi pengungsian para warga sipil itu. Akan tetapi, helikopter yang ditumpangi Ramandey tidak bisa menjangkau mereka, karena terus ditembaki oleh kelompok bersenjata.

Numberi juga menyampaikan, berbagai pemangku kepentingan lain juga belum bisa mengakses keberadaan para warga sipil yang bertahan di Nduga, sehingga kondisi mereka sulit dipastikan. “Pemerintah harus melihat kondisi para pengungsi Nduga,” kata Numberi.

Dalam keterangan pers itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua Emus Gwijangge mengatakan pentingnya membuka akses peliputan wartawan di Kabupaten Nduga, Papua, untuk mengetahui perkembangan kondisi ribuan warga Nduga yang mengungsi. Sulitnya akses peliputan wartawan di Nduga, membuat publik tidak mendapatkan informasi independen yang utuh dan sesuai kondisi terkini dari situasi keamanan Nduga, dan dampaknya terhadap warga di Nduga.

“Persoalan di Nduga sudah terjadi sejak bulan Desember 2018 sampai sekarang. Sudah ada korban meninggal dari pihak TNI/Polri maupun dari pihak kelompok bersenjata. Akan tetapi, yang paling parah adalah nasib ribuan warga sipil yang terisolasi di Nduga,” kata Gwijangge dalam keterangan pers Tim Solidaritas Peduli Konflik Nduga, di Jayapura, Kamis (18/7/2019).

Gwijangge berharap akses peliputan wartawan di Nduga segera dibuka, agar wartawan dapat mencari informasi keberadaan dan kondisi terkini para pengungsi yang terjebak di berbagai wilayah di Kabupaten Nduga. Ia mencontohkan dirinya yang berasal dari Mbua, Kabupaten Nduga, namun ia tidak mengetahui kondisi kampung halamannya.

“Wartawan jadi penting, karena masyarakat Nduga [membutuhkan] bantuan dan advokasi kemanusiaan, agar mereka bisa terselamatkan dari situasi yang terbungkam itu,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)