Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pemkot Jayapura dinilai kurang mengembangkan sektor budaya Port Numbay

Tari-tarian dari salah satu sanggar milik masyarakat Port Numbay – Jubi/Dok.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay menyesalkan sikap Pemerintah Kota Jayapura yang dianggap tidak punya niat untuk melestarikan budaya masyarakat Port Numbay.

George Awi selaku ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay dalam sambutannya di pembukaan festival Humbolt Hamadi, Senin (5/8/2019) sore mengatakan, sikap itu tercermin dari tak dialokasikannya anggaran dalam APBD Kota Jayapura untuk sektor kebudayaan.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemkot Jayapura karena dalam iven ini membuka satu ruang untuk masyarakat adat agar bisa mengekspresikan budaya kami, dan sekaligus sebagai wahana untuk melestarikan budaya-budaya kami,” katanya.

Namun lebih khusus kata AWI, anggaran untuk sektor budaya seperti seni tari, musik, aksesoris kerajinan tangan milik masyarakat, harus segera dimasukkan dalam APBD, guna menunjang pengembangan kebudayaan asli warga Port Numbay.

Loading...
;

Menurut Awi, jika ditilik dari festival,  identitas yang disuguhkan dalam bentuk karya seni ini adalah jati diri masyarakat Port Numbay, sekaligus juga menjadi refleksi diri bagi seluruh warga asli Port Numbay.

“Agar orang lain bisa melihat bahwa inilah kekhasan dari masyarakat Port Numbay dari seni tari, musik, ukiran, hiasan ada adat-istiadat serta kebiasaannya.Dalam momentum seperti ini pemerintah dan masyarakat adat yang ada harus dilibatkan,” katanya.

Awi pun meminta Pemerintah  Kota Jayapura memberikan dukungan lewat pembinaan dan anggaran, agar sejumlah masyarakat adat ini bisa berkreasi untuk menampilkan sejumlah kekhasan kebudayaannya, mulai dari aksesoris adat, seni tari dan sejumlah panganan lokal.

“Kami berharap kepada pemerintah, ke depan sektor kebudayaan di Dinas yang berkaitan harus mengakomodir dana, supaya pembinaan-pembinaan terhadap masyarakat lokal untuk melestarikan budaya itu dapat terwujud,” tegasnya.

Sementara, satu diantara pengunjung festival,  Berto Ongge mengatakan, meskipun acara festival ini skalanya masyarakat adat namun seharusnya dikembangkan dengan konsep yang modern dan terbarukan.

“Dari tahun ke tahun tidak ada yang baru, selalu memiliki konsep acara yang sama meski ini festivalnya orang Port Numbay. Kurang adanya keterlibatan dari masyarakat adat sendiri, atau mungkin kurang sosialisasi?” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top