Pemuda Arfak usul pembangunan museum- Pasar Noken di Papua Barat

Pemuda Arfak usul pembangunan museum- Pasar Noken di Papua Barat

Gubernur Dominggus Mandacan saat kunjungi pameran Noken mama-mama Arfak di Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak belum lama ini. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Manokwari, Jubi – Peradaban suku besar Arfak di Papua Barat melekat erat dengan sejarah religi pemberitaan Injil. Budaya Noken juga masih dipertahankan hingga saat ini. Namun oleh pemuda Arfak sendiri, berharap bukti sejarah peradaban sukunya itu tidak sekedar ucapan seremonial di momen tertentu.

Perlu ada satu museum bagi peninggalan sejarah suku Arfak. Dibarengi pasar khusus Noken hasil karya perempuan Arfak dan perempuan Papua lainnya di Papua Barat.

Demikian kata Septi Meidodga, ketua Yayasan gubuk Arfak. Menurut dia , sudah saatnya suku Arfak yang membawahi empat sub suku di antaranya, Hattam, Moile, Meyah dan Sough punya museum untuk menampung bukti-bukti sejarah dan budayanya.

“Selaku anak Arfak, kami harus bisa buktikan bahwa kami punya bukti-bukti sejarah yang dapat dipertahankan dan menjadi panduan bagi semua pihak yang datang ke tanah Arfak. Saya harap ada sebuah museum yang bisa menyimpan bukti-bukti sejarah peradaban suku Arfak, sekaligus dibangun dengan pasar Noken untuk perempuan Arfak dan perajin lainnya memasarkan hasil kerajinan mereka,” ujar Septi, Rabu (13/3/2019).

Septi juga menantang Gubernur Papua Barat, Bupati Manokwari dan Bupati Pegunungan Arfak yang notabene adalah putra-putra terbaik suku Arfak, untuk berikan bukti bahwa suku Arfak punya sejarah peradaban melalui pemberitaan injil dan budaya Noken termasuk tarian adat tumbuk tanah dan rumah adat kaki seribu.

Warisan yang disebutkan, bisa menjadi penghuni museum tersebut, agar dengan berbagai kemajuan dan peribahan zaman, generasi Arfak tidak lupakan jati diri mereka dan secara turun temurun tetap dipertahankan.

Di tempat terpisah, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan dan Bupati Pegaf, Yosias Saroy telah menyepakati Noken atau dalam bahasa Arfak disebut “Monga” adalah warisan budaya suku Arfak di Papua Barat. Di Pemerintahan Papua Barat, Dominggus Mandacan mewajibkan setiap ASN-nya mengenakan Noken setiap Kamis.

Sedangkan di Pegaf, Bupati Yosias Saroi mewajibkan seluruh warganya termasuk ASN dan anak sekolah untuk mengenakan Noken dalam aktivitas sehari-hari. Dia lalu mencanangkan Noken/Monga dengan sebutan “Noken Mama” dan “Anak Noken”.

Noken mama, adalah noken berukuran besar yang digunakan untuk mengisi hasil kebun, pakian atau berfungsi sebagai gendongan bayi. Sedangkan Anak noken adalah noken ukuran sedang/kecil yang digunakan sehari-hari. (*).

Editor: Syam Terrajana

 

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Populer

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)