HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Penanganan malaria harus komprehensif

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari, berbincang dengan stafnya – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

KEPALA Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyomam Sri Antari, mengatakan penanganan penyakit malaria di Kota Jayapura harus dilakukan secara komprehensif agar bisa menekan kasus malaria.

“Termasuk melakukan fogging (pengasapan) massal pada malam hari yang kami lakukan dua kali seminggu, dampaknya dari laporan secara lisan nyamuk sudah tidak banyak lagi,” katanya Ni Nyoman, di Kantor Wali Kota Jayapura, akhir Januari 2019.

Penanganan komprehensif tersebut di antaranya dengan melibatkan satuan tugas (satgas) keamanan di Pos Lintas Batas Skouw-Papua Nugini, karena sebagian personel satgas ada yang bertani dan beternak sehingga sangat rawan digigit nyamuk.

“Kalau kasus malaria secara detail di Kota Jayapura ada 20.796 kasus berdasarkan data Desember 2018. Kami menargetkan angkanya turun pada 2019,” ujarnya.

Loading...
;

Selain itu, lanjutnya, penanganan malaria juga dilakukan dengan membenahi pelayanan petugas kesehatan dengan melihat secara detail, apakah bisa ditetapkan malaria atau tidak dan dari sisi pengobatan juga jangan di bawah dosis atau stop minum obat saat sudah membaik.

Juga, menanam serai di halaman rumah, mengalirkan genangan air, dan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk dalam kolam atau yang tergenang air.

“Kasus yang paling banyak orang dewasa, kalau keluar malam pakai baju lengan panjang sebagai langkah pencegahan,” ujarnya.

Untuk itu, Ni Nyoman mengimbau warga agar menangani malaria secara rutin. Bukan hanya dari pemerintah saja, tetapi juga masyarakat dengan menjaga kebersihan lingkungan dan membuang sampah pada tempatnya. Itu salah satu cara untuk menurunkan penderita malaria.

“Itu harus dikerjakan secara terpadu antara pemda, organisasi non-pemerintah, swasta, dan masyarakat. Kebersihan pangkal dari sehat, dan pelan pelan diubah dengan melakukan pendampingan,” katanya.

Ia menjelaskan banyak tempat pelayanan kesehatan di Kota Jayapura seperti Puskesmas, dokter praktek, dokter praktek gigi mandiri, kemudian apotek swasta, rumah sakit yang ada di Kota Jayapura, dan pelayanan rujukan.

“Kalau kita memikirkan secara global banyak, termaksud semua penyedia pelayanan kesehatan di Kota Jayapura, termasuk rencana kami untuk bekerja sama dengan pos pamtas untuk pelayanan kesehatan di perbatasan Papua dan Papua Nugini,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Kotaraja, Titis Rinjayatri, mengatakan ada pelayanan dalam dan luar gedung dengan memeriksa setiap pasien di laboratorium bila mengalami demam. Pasien akan dicek malarianya.

“Kunjungan pasien di puskesmas setiap hari bisa di atas 50 orang, ini menandakan kami harus masih menggalakkan kembali layanan kesehatan, kami optimis bisa menurunkan angka kasus malaria dengan pelayanan maksimal sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM),” ujarnya.

Menurutnya, pelayanan SPM di Puskesmas Kotaraja belum 100 persen, sehingga pelayanan dari rumah ke rumah terus ditingkatkan agar bisa mencapai target SPM sesuai amanat Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang peyelenggaraan pemerintahan yang bersifat wajib berpedoman pada standar pelayanan minimal yang dilaksanakan secara bertahap.

“Petugas-petugas kami turunkan ke lapangan langsung jemput ke rumah agar percepatan penerapan SPM sesuai target, pelayanan SPM menjadi tolok ukur kinerja terhadap mutu dan jenis pelayanan yang diprioritaska kepada masyarakat,” katanya.

Untuk itu, Rinjayatri mengimbau masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungannya, rumah, dan membuang sampah pada tempatnya sehingga tidak menjadi sarang nyamuk.

“Kami juga gencar mensosiisasikan pengggunaan kelambu agar tidak digigit nyamuk agar terhindar dari penyakit malaria, hidup bersih dan sehat sehingga terbebas dari penyakit,” ujarnya.

Ia mengakui kegiatan malaria di luar puskesmas adalah penyuluhan kesehatan, penemuan kasus malaria, dan pengobatan.

“Penyebaran malaria banyak di Kotaraja di Kelurahan Wahno daerah Puskopad, Kelurahan Vim daerah Ottow Geisler, Kelurahan Waimhorock belakang Pasar Youtefa daerah jalan baru,” katanya.

Diakui, malaria adalah penyakit yang disebarkan oleh gigitan nyamuk. Tidak semua nyamuk menyebabkan malaria, melainkan hanya nyamuk anopheles betina yang sudah terinfeksi parasit bernama plasmodium.

Menurutnya, malaria adalah penyakit yang disebarkan oleh gigitan nyamuk. Tidak semua nyamuk menyebabkan malaria, melainkan hanya nyamuk anopheles betina yang sudah terinfeksi parasit bernama plasmodium, yang sering ditemukan pada negara beriklim tropis.

“Jika tidak ditangani dengan tepat penyakit ini bisa mengancam nyawa, karena itu pengobatan malaria harus dilakukan sedini mungkin dan dengan tepat,” ujarnya.

Setelah manusia digigit nyamuk anopheles tersebut, parasit akan memasuki tubuhnya, kemudian masuk ke bagian hati untuk tumbuh dan berkembang.

“Parasit yang telah tumbuh dan berkembang di dalam hati kemudian berjalan di aliran darah dan menyerang serta menghancurkan sel darah merah,” katanya.

Pengobatan malaria yang dilakukan bagi setiap orang berbeda-beda, tergantung jenis parasit yang menyebabkannya, seberapa parah gejala yang ditimbulkan dan usia pasien.

“Ketika pertama didiagnosis positif malaria, tenaga kesehatan akan memberikan obat yang wajib sampai habis untuk mencegah plasmodium menjadi resisten terhadap obat,” katanya.

Yosafat, warga Kelurahan Waimhorock belakang Pasar Youtefa mengaku bersama keluarganya merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan layanan Puskesmas Kotaraja yang langsung turun ke lapangan untuk menangani kesehatan masyarakat.

“Saat ada pengobatan massal, saya ajak semua keluarga saya, senang sekali rasanya mendapatkan pelayanan kesehatan tanpa harus ke Puskesmas lagi, obat gratis,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top