Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pengalaman 30 tahun mendidik anak berkebutuhan khusus

Seorang guru di SLB Bagian B Kotaraja sedang mengajar – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sekolah Luar Biasa atau SLB adalah sekolah bagi anak yang memiliki kebutuhan khusus. Meskipun demikian, para guru dan siswanya sangat bersemangat.

Kamis, 14 November 2019, Jubi berkunjung ke SLB Bagian B Kotaraja, Kota Jayapura.

Siang itu sekolah tampak sepi ternyata siswa-siswinya sedang dalam proses belajar mengajar. Setelah masuk ke salah satu kelas, anak-anak tampak semangat belajar.

Dengan sambutan ramah, salah seorang guru bernama Lince Lebang, 50 tahun, yang sedang mengajar mempersilakan duduk, sambil menenangkan anak didiknya agar tidak ribut dan tetap fokus mengerjaan soal yang sudah ia berikan.

Loading...
;

“Sebagai ciptaan Tuhan, anak kebutuhan khusus juga berhak mendapatkan pendidikan, karena melalui pendidikan anak bisa mandiri,” ujar Lince mengawali pembicaraan.

Usia Lince tak muda lagi, kulitnya mulai keriput, namun semangatnya mengajar sungguh luar biasa. Selama 30 tahun jadi guru menangani anak berkebutuhan khusus bagi Lince adalah pengalaman yang sangat luar biasa.

“Memang tidak mudah menangani anak berkebutuhan khusus, apalagi jumlahnya banyak, membutuhkan kesabaran karena menangani lima anak di SLB sama saja menangani anak 100 orang di sekolah umum,” ujar Lince.

Berbekal Sarjana Strata 1 (S1) Jurusan Pendidikam Guru Sekolah Dasar (PGSD)  di Universitas Cenderawasih, Lince mendidik anak tuna rungu dan tuna grahita. Tuna rungu mempunyai kekurangan tuli dan bisu, sedangkan tuna grahita lambat belajar.

“Kalau di sekolah umum dalam proses belajar-mengajar pendekatannya secara keseluruhan, kalau menangani anak-anak berkebutuhan khusus harus secara individual sehingga tahu kemampuan anak,” katanya.

Sesuai bidangnya lulusan PGSD, Lince mengaku menangani ABK tidak perlu memaksakan diri, sebab setiap karakter anak berbeda-beda, yaitu TK, SD, SMP, dan SMA.

Contohnya, kalau siswa SD (kelas 1-4) penanganannya melalui pendekatan. Bila sudah kelas 5 SD sampai SMA sudah bisa dilepas dengan memberikan tugas sekolah. Guru tinggal mengarahkan saja.

“Kalau dalam kelas ada dua kelainan maka saya buat soal dua macam sesuai dengan kebutuhan anak, kalau anak-anak nakal saya berusaha menenangkan melalui pendekatan,” ujarnya.

Menurut Lince, guru di SLB bisa mengajar di sekolah umum, tapi guru umum belum tentu bisa mengajar di SLB, itulah kelebihan guru SLB.

“Di mana-mana ada tantangan dalam mengajar, tapi bisa dilewati juga asal memiliki kemauan dan tekad untuk mencerdaskan anak,” katanya.

Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 12.00 siang Waktu Papua, percakapan siang itu terasa sangat harmonis meski sedang jam sekolah sedang berjalan.

Lince mengatakan selama menjadi guru di SLB karena keterbatasan komunikasi, namun dapat dilaluinya sebab menangani anak berkebutuhan khusus harus disertai dari hati.

Lince berpesan kepada orangtua agar mendampingi anaknya saat berada di rumah, sebab waktu anak lebih banyak di rumah.

“Sebagai ciptaan Tuhan maka kita juga harus memberikan pendidikan untuk yang lebih baik ke depannya,” ujarnya.

Senada Lince, guru lainnya di SLB Bagian B Kotaraja, Suminem mengatakan siswa ABK memiliki sifat yang lebih sensitif bila dibandingkan siswa biasa.

“Memerlukan keikhlasan, kesabaran, serta kesiapan untuk menghadapi kondisi yang akan terjadi ketika melakukan pendekatan agar materi pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik,” ujarnya.

Suminem yang sudah 30 tahun menjadi guru ABK mengaku bukanlah perkara mudah. Selain harus mengajar, mendidik, dan membimbing anak-anak dengan berbagai macam ketunaan dan karakter, juga harus memerlukan kesabaran.

“Mendidik anak-anak dengan kebutuhan khusus harus dari hati karena bila guru tidak sabar maka semuanya tidak akan berjalan dengan baik untuk itu sangat dibutuhkan guru yang bisa memahami anak terutama mereka yang berkebutuhan khusus,” katanya.

Suminem yang saat ini menangani peserta didik tingkat SMA mengatakan proses belajar di kelasnya menggunakan metode percakapan, isyarat, dan membaca gerak bibir.

“Tidak semua orang mau dan mampu menjadi guru anak berkebutuhan khusus, menjadi guru di SLB adalah ladang ibadah yang tidak setiap orang bisa melakukannya,” katanya.

Suminem menceritakan berbagai kejadian lucu dan menjengkelkan seringkali terjadi saat mengajar.

“Salah satu ulah siswa yang buat saya jengkel adalah saat pertama kali mengajar, anak-anak tidak mengerti apa yang saya sampaikan, tapi saya tetap semangat mengajar demi mencerdaskan mereka,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top